Menkes Usul Pasien TB Jadi Penerima Program MBG

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 22/06/2026 15:55 WIB
Foto: Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin tiba di Istana Negara. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar penderita tuberkulosis (TB) menjadi salah satu kelompok prioritas penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan tersebut disampaikan mengingat Indonesia masih mencatat sekitar 1 juta kasus TB setiap tahun dengan angka kematian mencapai 160 ribu jiwa.

Budi menilai, dukungan gizi yang baik dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien yang sedang menjalani pengobatan TB. Sehingga selain anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, penderita TB dinilai perlu masuk dalam sasaran program MBG.

"Orang-orang yang sakit tuberkulosis 1 juta loh di Indonesia setiap tahun. Meninggal 160 ribu, jadi kita ngomong 5 menit meninggal dua orang," kata Budi usai peluncuran Komisi The Lancet Regional Health-Western Pacific: Reimagining Healthcare in Indonesia for 2045 di Kemenkes, Jakarta, Senin (22/6/2026).

Budi mengatakan, usulan tersebut telah disampaikan kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang. Menurutnya, pasien TB yang mendapat kombinasi pengobatan dan asupan gizi memadai memiliki peluang sembuh yang lebih besar.

"Kalau kita obati dan gizinya disuplai, ditambah, kemungkinan sembuhnya lebih besar," ujarnya.

Selain pasien TB, Budi juga meminta program MBG memberikan perhatian lebih kepada tiga kelompok lain yang dinilai krusial dari sisi kesehatan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Budi bilang, ibu hamil perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk menekan risiko berbagai masalah kesehatan pada ibu maupun bayi. Setelah melahirkan, kebutuhan gizi ibu menyusui juga harus terpenuhi agar proses pemberian ASI dapat berjalan optimal, terutama selama dua tahun pertama kehidupan anak.

Sementara itu, balita menjadi kelompok yang tak kalah penting karena berada pada masa emas pertumbuhan atau golden period. Pemenuhan gizi pada periode tersebut dinilai sangat menentukan perkembangan fisik dan kognitif anak di masa depan.

"Jadi ibu hamil, ibu menyusui, yang ketiga balita, dan yang keempat saya titip juga karena program Bapak Presiden itu tuberkulosis," kata Budi.

Ia mengungkapkan telah menyampaikan usulan tersebut kepada BGN dan mendapat respons positif. Budi mengatakan, skema penerima manfaat MBG ke depan masih dimungkinkan untuk disesuaikan agar menjangkau kelompok-kelompok yang memiliki kebutuhan gizi tinggi dari sisi kesehatan masyarakat.

"Beliau menyukainya. Nanti mungkin akan ubah Perpres sedikit, karena sekarang kan diberikan ke anak-anak sekolah, dan bukan berarti saya menolak yang untuk di sekolah ya," ujarnya.

Saat ini, lanjut Budi, pemerintah tengah membahas penguatan sasaran program bersama BGN dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Evaluasi dampak MBG nantinya akan dilakukan melalui data pemeriksaan kesehatan dan status gizi sehingga perbaikan program dapat dievaluasi berdasarkan bukti atau evidence based policy.



(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Intip Gemasnya Rio, Bayi Panda Pertama RI Hasil Diplomasi Panda China