5 Tempat Wisata yang Dulu Ramai, Kini Sepi Bagai Kuburan
Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah gempuran pembangunan destinasi wisata baru yang terus bermunculan, ada sejumlah tempat wisata yang dulunya menjadi ikon, sangat populer, dan selalu dipadati pengunjung dari berbagai daerah. Namun, nasib berkata lain-kini tempat-tempat tersebut terbengkalai, sepi pengunjung, bahkan ada yang sudah beralih fungsi atau hilang sepenuhnya dari peta pariwisata Indonesia.
Berbagai alasan melatarbelakangi kemunduran tempat-tempat ini. Mulai dari masalah keuangan dan kebangkrutan, dampak krisis ekonomi, perubahan kebijakan pengelolaan, hingga dampak parah pandemi Covid-19 yang melanda dunia pada tahun 2020 lalu-yang secara drastis menghentikan aktivitas pariwisata dan membuat banyak usaha hiburan terpuruk dan tidak mampu bertahan.
Beberapa lokasi yang ditinggalkan justru mendapatkan identitas baru yaitu menjadi tempat wisata horor, lokasi berburu foto suasana angker, atau bahkan diubah menjadi kawasan pemukiman dan bangunan komersial.
Berikut adalah kisah lengkap dan mendalam mengenai objek wisata yang dulunya sangat hits dan ramai, namun kini berubah menjadi tempat sepi, terbengkalai, atau bahkan lenyap:
1. Kampung Gajah Wonderland
Terletak di Kabupaten Bandung Barat, Kampung Gajah Wonderland dulunya dikenal sebagai salah satu destinasi wisata keluarga paling lengkap dan unik di Jawa Barat. Dibuka dengan konsep taman rekreasi bertema gajah, kawasan seluas 60 hektare ini menjadi tujuan favorit wisatawan, baik dari dalam maupun luar kota. Di sepanjang jalan masuk kawasan, berjejer patung-patung gajah berukuran besar yang menjadi ikon utama dan sangat mudah dikenali.
Tempat ini menawarkan beragam fasilitas lengkap, mulai dari wahana permainan seru untuk segala usia, taman bermain anak, hingga area rekreasi air yang luas dan menyegarkan udara sejuk daerah Bandung. Keberadaannya sangat mendukung pariwisata daerah dan menjadi andalan wisata keluarga setiap akhir pekan maupun musim liburan sekolah.
Namun, masa kejayaan itu berakhir pada tahun 2017, ketika pengelola resmi mengumumkan penutupan tempat ini karena dilanda pailit dan masalah keuangan yang tidak bisa diatasi. Sejak saat itu, seluruh kawasan dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Bangunan mulai rusak, tanaman liar tumbuh lebat, dan suasana yang dulu riuh rendah tawa anak-anak kini berubah menjadi sunyi dan angker.
Kondisi terbengkalai inilah yang kemudian menarik perhatian kelompok wisatawan yang punya minat khusus-pecinta suasana misterius dan horor. Kampung Gajah kini populer sebagai lokasi berburu foto dengan latar bangunan tua, patung-patung yang mulai lapuk, dan suasana yang dianggap mistis. Meskipun tidak lagi beroperasi resmi, tempat ini masih sering dikunjungi orang yang ingin merasakan nuansa bekas kejayaan yang kini tersisa sebagai kenangan.
2. Snowbay Water Park
Terletak di dalam kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Snowbay Water Park dulunya menjadi salah satu taman air paling populer dan lengkap di ibu kota. Dikenal dengan desainnya yang unik dan fasilitas wahana berstandar rekreasi modern, tempat ini selalu dipadati pengunjung, terutama saat akhir pekan dan hari libur.
Dua wahana yang paling legendaris dan menjadi daya tarik utama adalah Hurricane yaitu seluncuran besar yang memberikan sensasi berputar dan meluncur cepat, dan Cool Running yaitu jalur seluncuran panjang yang menguji adrenalin. Selain itu, terdapat kolam ombak, kolam arus, dan area bermain air untuk anak-anak yang membuat tempat ini cocok dikunjungi seluruh anggota keluarga.
Perubahan besar terjadi saat pandemi Covid-19 merebak di awal tahun 2020. Pembatasan aktivitas masyarakat dan penutupan tempat umum membuat operasional Snowbay terhenti total. Tekanan ekonomi yang berat membuat pengelola tidak mampu menutup biaya perawatan dan operasional selama masa penutupan. Situasi ini diperparah dengan adanya kebijakan pemerintah yang mengambil alih pengelolaan seluruh kawasan TMII untuk melakukan pembenahan total dan perubahan konsep kawasan.
Akibatnya, Snowbay tidak dibuka kembali seperti sedia kala. Seluruh wahana dan fasilitas kini tertutup dan tidak terawat, menjadi sisa-sisa kejayaan taman air yang pernah menjadi kebanggaan warga Jakarta. Hingga kini, belum ada kepastian apakah tempat ini akan dihidupkan kembali atau diubah menjadi fasilitas lain sesuai rencana pengembangan TMII yang baru.
3. Depok Fantasi Waterpark (Aladin Waterpark)
Bagi warga Depok dan sekitarnya, Depok Fantasi Waterpark, atau yang lebih akrab dikenal dengan nama Aladin Waterpark, memiliki tempat khusus di hati. Sebagai pelopor taman rekreasi air pertama di kota Depok yang dibuka pada tahun 2008, tempat ini langsung menjadi tujuan utama wisata air bagi keluarga dan anak-anak.
Dengan konsep bertema Timur Tengah yang kental, lengkap dengan desain bangunan dan ornamen yang mengingatkan pada kisah Aladin dan lampu ajaib, taman ini memiliki beragam wahana menarik. Mulai dari seluncuran air tinggi yang menantang, kolam air mancur, ember tumpah yang selalu menjadi favorit anak-anak, hingga kolam renang standar untuk berenang santai. Setiap hari libur, kawasan ini selalu penuh sesak, sulit sekali mencari tempat parkir kosong.
Namun, nasib berubah drastis saat pandemi Covid-19 melanda. Penutupan berbulan-bulan membuat aliran pendapatan terhenti sama sekali, sedangkan biaya pemeliharaan aset dan fasilitas tetap harus dikeluarkan. Pengelola tidak sanggup bertahan dan akhirnya memutuskan untuk menutup permanen.
Kini, tempat ini sudah tidak bisa ditemukan lagi. Seluruh bangunan, wahana, dan kolam telah diratakan dengan tanah. Lahan bekas wisata populer ini telah beralih fungsi dan sedang dikembangkan menjadi kompleks perumahan baru. Bagi banyak warga Depok, hilangnya Aladin Waterpark bukan hanya hilangnya tempat wisata, tapi juga hilangnya bagian dari sejarah dan kenangan masa kecil mereka.
4. Taman Festival Bali
Terletak tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Sanur, Bali, Taman Festival Bali dulunya merupakan salah satu destinasi rekreasi yang paling dinanti. Dibuka pada tahun 1997, tempat ini dirancang sebagai pusat hiburan dan acara festival berskala besar yang diharapkan menjadi ikon pariwisata Bali. Saat baru dibuka, tempat ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang untuk menikmati hiburan, pameran, dan suasana yang meriah.
Sayangnya, masa kejayaan tempat ini sangat singkat. Hanya beroperasi selama dua tahun, tepatnya pada tahun 1999, krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan ketidakstabilan saat itu membuat pengelola gulung tikar. Tanpa adanya pengelolaan dan pemeliharaan, kawasan ini perlahan-lahan ditinggalkan dan mulai ditumbuhi tanaman liar, semak belukar, dan tanaman merambat yang menutupi bangunan-bangunan bekas pameran dan panggung.
Namun, justru dari kehancuran itulah lahir daya tarik baru. Kondisi bangunan yang mulai rusak, dinding yang penuh grafiti, serta suasana yang sunyi dan tertutup pepohonan lebat menciptakan nuansa yang mencekam namun sekaligus eksotis dan artistik. Taman Festival Bali kini tidak lagi dikenal sebagai tempat rekreasi biasa, melainkan sebagai lokasi wisata horor paling populer di Bali, serta tempat favorit fotografer dan pecinta arsitektur bekas untuk mengambil gambar dengan latar suasana misterius.
Uniknya, meskipun terbengkalai, tempat ini masih dikelola secara sederhana. Pengunjung yang ingin masuk dan merasakan suasana angker cukup membayar biaya masuk sebesar Rp 10.000 per orang. Bagi banyak orang, berjalan-jalan di antara bangunan tua yang tertutup tanaman ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan, seolah berjalan di antara sisa-sisa kejayaan masa lalu Bali.
5. Taman Remaja Surabaya (TRS)
Bagi warga Surabaya, nama Taman Remaja Surabaya atau akrab disapa TRS adalah sebuah kebanggaan dan bagian tak terpisahkan dari sejarah pariwisata kota pahlawan ini. Berdiri sejak tahun 1971, tempat ini menjadi taman hiburan tertua dan paling lengkap di Surabaya, yang dirancang khusus untuk menjadi tempat berkumpul, bermain, dan berekreasi bagi anak-anak dan remaja.
Di masa kejayaannya, TRS menawarkan lebih dari 20 jenis wahana permainan, mulai dari kincir ria, komidi putar, kereta api mini, hingga wahana yang memacu adrenalin. Setiap hari libur, kawasan ini selalu dipenuhi tawa dan keramaian, menjadi tujuan utama wisata keluarga dan tempat berkumpulnya generasi muda Surabaya.
Namun, seiring berjalannya waktu, peraturan dan kebijakan pengelolaan berubah. Kerja sama antara pemerintah kota Surabaya dengan pihak pengelola swasta berakhir dan tidak diperpanjang lagi. Akibatnya, pada tahun 2018, TRS resmi ditutup dan tidak lagi beroperasi. Wahana-wahana mulai dibongkar atau dibiarkan rusak, dan pintu gerbang yang dulunya selalu terbuka lebar kini tertutup rapat.
Hingga kini, bangunan dan sisa-sisa wahana masih berdiri di sana dalam keadaan terbengkalai. Namun, yang membuat tempat ini makin dikenal sebagai tempat misterius adalah cerita-cerita dari warga sekitar. Banyak warga yang tinggal di dekat kawasan ini mengaku sering mendengar suara keramaian, tawa anak-anak, hingga alunan musik permainan yang dulu biasa terdengar di TRS, terutama pada malam hari.
(dem/dem) Add
source on Google