Hati-Hati, Makanan ini Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Mulut
Jakarta, CNBC Indonesia - Kanker mulut selama ini sering kali dikaitkan dengan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol secara berlebihan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor risiko penyakit mematikan ini juga bisa berasal dari meja makan kita sehari-hari.
Mengutip Eating Well, beberapa jenis makanan umum yang sering dikonsumsi masyarakat ternyata memiliki andil besar dalam meningkatkan risiko kanker mulut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan ultra-proses yang mengandung bahan pengawet, pemanis buatan, dan kadar garam tinggi dapat memicu peradangan kronis pada tubuh. Kondisi tersebut diyakini dapat meningkatkan risiko pertumbuhan sel abnormal, termasuk di area mulut.
"Makanan tertentu dapat menciptakan lingkungan di mulut tempat kanker dapat berkembang seiring waktu," kata Kelly F. Moyer, M.D., seorang ahli THT dan asisten profesor bedah THT-kepala dan leher di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa makanan yang memicu peradangan dan berisiko terhadap kanker mulut yakni daging olahan bacon, daging deli, hot dog, dan sosis.
Penyebab risiko kanker mulut
"Daging olahan, termasuk bacon, sosis, ham, hot dog, dan daging deli, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker rongga mulut dan orofaring," kata Alessandro Villa, D.D.S., Ph.D., M.P.H., Kepala Bagian Kedokteran Mulut, Onkologi Mulut, dan Kedokteran Gigi di Herbert Wertheim Cancer Institute di Florida Selatan.
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1, yang berarti ada cukup bukti yang menghubungkannya dengan kanker pada manusia. Namun, katanya, daging olahan, khususnya, sering mengandung nitrat dan nitrit, yang dapat membentuk senyawa N-nitroso karsinogenik.
Ahli diet onkologi, Tejal Parekh mengatakan bahwa nitrat dan nitrit adalah pengawet kimia yang ditambahkan ke daging olahan untuk membantu mengawetkannya. Penelitian juga secara konsisten menghubungkan konsumsi nitrat dan nitrit dengan berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara dan prostat.
Memasak dengan suhu tinggi menghasilkan zat kimia merusak sel
Memasak potongan daging asap secara konsisten di wajan yang sangat panas atau sosis bratwurst di atas panggangan yang berapi-api dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker.
"Daging panggang, diasap, dan dibakar juga dapat menjadi masalah, karena memasak dengan suhu tinggi menghasilkan zat kimia yang disebut hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) dan amina aromatik heterosiklik (HAA) yang dapat menyebabkan kerusakan langsung pada DNA dalam sel Anda," kata Moyer.
Penelitian menunjukkan bahwa senyawa-senyawa ini dapat memicu kanker melalui beberapa mekanisme, termasuk kerusakan DNA dan stres oksidatif.
Peradangan kronis
Mengonsumsi daging olahan ultra dapat menyebabkan peradangan kronis. Pola makan yang memicu peradangan menyebabkan kondisi peradangan tingkat rendah yang konstan di mulut, yang seiring waktu mengurangi kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak.
Mengubah mikrobioma mulut
"Pola makan yang buruk mengubah bakteri mulut alami, yang umumnya bersifat protektif," kata Moyer.
Mulut adalah rumah bagi lebih dari 700 spesies bakteri, banyak di antaranya membantu menjaga kesehatan mulut dan kesehatan secara keseluruhan. Ketika komunitas mikroba tersebut menjadi tidak seimbang atau dikenal sebagai disbiosis maka hal itu dapat menyebabkan peradangan dan perubahan lain yang terkait dengan penyakit.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gangguan pada mikrobioma mulut mungkin berperan dalam perkembangan kanker mulut dengan memicu peradangan kronis dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan sel-sel abnormal untuk tumbuh.
Gejala kanker mulut
Gejala kanker mulut seringkali terlambat dideteksi. Ammar Sukari, M.D., seorang ahli onkologi medis kepala dan leher di Barbara Ann Karmanos Cancer Institute, merekomendasikan untuk segera mencari perhatian medis jika Anda melihat gejala-gejala berikut:
- Sariawan yang tidak sembuh dalam dua hingga tiga minggu.
- Bercak yang berubah warna atau bercak merah atau berbintik yang tidak dapat dijelaskan pada lidah, gusi, atau lapisan mulut.
- Kehilangan gigi secara mendadak.
- Benjolan, massa, atau pembengkakan yang terus-menerus di bibir, pipi, gusi, atau di bawah rahang.
- Nyeri atau mati rasa yang tidak dapat dijelaskan di bibir, pipi, atau gusi.
Pencegahan
Untuk mengurangi risiko, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi buah dan sayur segar, menghindari makanan ultra-proses secara berlebihan, serta rutin melakukan pemeriksaan gigi dan mulut. Deteksi dini dinilai menjadi kunci penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan kanker mulut.
(miq/miq) Add
source on Google