Madu Terkubur 3.000 Tahun di Makam Kuno, Ternyata Masih Bisa Dimakan

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
08 June 2026 15:00
Seorang anak melihat peti mati emas Firaun Mesir kuno Tutankhamun pada hari pertama untuk pengunjung setelah pembukaan resmi Museum Besar Mesir (GEM), dekat kompleks piramida Giza, di Giza, Mesir, 4 November 2025. (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)
Foto: Seorang anak melihat peti mati emas Firaun Mesir kuno Tutankhamun di Giza, Mesir, 4 November 2025. (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penemuan mengejutkan kembali datang dari makam-makam kuno Mesir. Para arkeolog menemukan madu yang tersimpan di dalam makam yang disegel selama lebih dari 3.000 tahun dan kondisinya disebut masih dapat dikonsumsi.

Mengutip Space Daily, saat tim yang dipimpin oleh arkeolog asal Inggris, Howard Carter, membongkar makam Tutankhamun pada 1991 di Lembah Para Raja, mereka mendata ribuan barang inventaris yang dimaksudkan untuk menemani sang raja muda di akhirat. Di antara barang-barang mewah tersebut, terdapat guci-guci pualam yang tertutup rapat.

Ketika tutupnya dibuka, para peneliti menemukan residu kental berwarna kuning kecokelatan yang masih menyebarkan aroma khas yang samar.

Penemuan serupa ternyata tidak hanya terjadi di makam Tutankhamun. Di seluruh situs pemakaman kuno sepanjang Lembah Nil, para arkeolog berulang kali menemukan guci-guci tanah liat dan pualam tersegel yang berisi madu purba. Para arkeolog menyatakan bahwa zat tersebut rasanya masih manis.

Fenomena ini membuat banyak orang penasaran bagaimana makanan berusia ribuan tahun bisa tetap awet. Para ilmuwan menjelaskan bahwa madu memang memiliki sifat alami yang membuatnya sangat tahan terhadap pembusukan.

Pengunjung menyaksikan galeri raja Mesir kuno Tutankhamun pada hari pertama pengunjung, setelah pembukaan resmi Museum Besar Mesir (GEM), dekat kompleks piramida Giza, di Giza, Mesir, 4 November 2025. (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany)Pengunjung menyaksikan galeri raja Mesir kuno Tutankhamun di Museum Besar Mesir (GEM), dekat kompleks piramida Giza, di Giza, Mesir, 4 November 2025. (REUTERS/Mohamed Abd El Ghany) 

Madu memiliki kandungan air yang sangat rendah sehingga bakteri dan jamur kesulitan berkembang biak. Selain itu, madu juga mempunyai tingkat keasaman tinggi atau pH yang asam, yang menciptakan lingkungan tidak ramah bagi mikroorganisme.

Tidak hanya itu, lebah menghasilkan enzim khusus yang membentuk senyawa hidrogen peroksida di dalam madu. Senyawa tersebut memiliki sifat antimikroba yang membantu menghambat pertumbuhan bakteri maupun jamur.

Kombinasi dari kadar air rendah, tingkat keasaman tinggi, dan kandungan kimia alami inilah yang membuat madu dikenal sebagai salah satu bahan pangan paling awet di dunia.

Penyebab guci makam masih bertahan

Sebuah guci madu akan menyerap air dari udara lembap jika tutupnya dibiarkan terbuka. Setelah kadar air meningkat cukup tinggi, ragi liar yang telah dorman di dalam madu dapat mulai memfermentasi gula, dan zat kimia yang membuatnya tahan peluru mulai terurai.

Orang Mesir kuno menggunakan guci keramik tebal, sering dilapisi bagian dalamnya dengan lilin lebah atau resin, ditutup dengan tanah liat, dan ditempatkan di ruang pemakaman yang dipahat di batuan dasar kapur.

Ruang-ruang itu gelap, sejuk menurut standar Mesir, dan tertutup rapat dari udara luar selama ribuan tahun. Kelembapan di dalam makam yang tertutup tetap sangat stabil.

Dalam kondisi tersebut, madu tidak memiliki apa pun untuk diserap dan tidak ada yang bereaksi dengannya. Gula perlahan-lahan menjadi gelap dan mengkristal.

Mumi Raja Tutankhamun terlihat di kamar makamnya di Lembah Para Raja di Luxor, Mesir, Jumat (4/11/2022)/ Mesir merayakan peringatan 100 tahun penemuan makam Tutankhamun yang ditemukan oleh pakar Mesir asal Inggris, Howard Carter, pada 1922. Raja Tut menjadi firaun Mesir kuno paling terkenal di dunia. (AP Photo/Amr Nabil)Mumi Raja Tutankhamun (AP Photo/Amr Nabil) 

Makam-makam itu mengawetkan lebih dari sekadar madu. Penelitian kimia terbaru pada mumi-mumi itu sendiri menunjukkan bahwa resin, minyak, dan lilin pengawet masih membawa jejak aroma yang dapat dideteksi lebih dari dua ribu tahun kemudian.

Sebuah tim yang menganalisis sembilan mumi yang disimpan di Museum Mesir di Kairo melaporkan pada tahun 2026 bahwa senyawa aroma dalam pembungkus masih dapat diukur menggunakan spektrometri massa, dengan aroma resin pinus, juniper, dan lemak hewan yang muncul pada konsentrasi yang dapat dikenali.

Kondisi kering, tertutup rapat, dan gelap yang sama yang membuat madu tetap dapat dimakan juga mencegah molekul organik tersebut terurai. Makam Mesir yang tertutup rapat, secara tidak sengaja, merupakan salah satu lingkungan pengarsipan terbaik yang pernah dibangun manusia.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Peneliti Israel Temukan Misteri Kerajaan Nabi Sulaiman


Most Popular
Features