Mahasiswa Gen Z Tak Bisa Membaca, Dosen Ubah Cara Mengajar
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah dosen perguruan tinggi di Amerika Serikat mengungkap fenomena yang mengkhawatirkan di kalangan Generasi Z (Gen Z). Mahasiswa yang masuk ke bangku kuliah disebut semakin kesulitan membaca teks panjang, bahkan ada yang dinilai tidak mampu memahami satu kalimat utuh.
Kondisi ini membuat sejumlah kampus terpaksa mengubah metode pengajaran agar mahasiswa tetap mampu mengikuti perkuliahan. Profesor bidang humaniora dan sastra klasik di Pepperdine University, Jessica Hooten Wilson, mengaku terkejut dengan kemampuan membaca sebagian mahasiswa saat ini.
"Ini bukan sekadar ketidakmampuan berpikir kritis. Ini adalah ketidakmampuan membaca kalimat," kata Wilson dikutip dari Fortune, Senin (8/6/2026).
Ia bilang, banyak mahasiswa datang ke kelas tanpa membaca materi yang telah diberikan sebelumnya. Bahkan ketika teks dibacakan bersama di kelas, sebagian mahasiswa masih kesulitan memahami isi kalimat yang tertulis.
"Saya merasa harus membacakan materi dengan suara keras karena tidak ada jaminan mereka membacanya malam sebelumnya," ujarnya.
Fenomena ini sejalan dengan tren menurunnya minat baca masyarakat Amerika Serikat. Pada 2025, hampir setengah warga Amerika tidak membaca satu buku pun sepanjang tahun. Dalam satu dekade terakhir, kebiasaan membaca dilaporkan turun sekitar 40%.
Meski tren komunitas pecinta buku seperti BookTok berkembang di media sosial TikTok, kebiasaan membaca Gen Z masih tertinggal dibanding generasi lainnya. Data YouGov menunjukkan warga Amerika berusia 18 hingga 29 tahun rata-rata hanya membaca 5,8 buku sepanjang 2025.
Mahasiswa Kesulitan Membaca Teks Panjang
Wilson mengatakan, dirinya kini harus menggunakan pendekatan berbeda di kelas. Alih-alih langsung mendiskusikan isi bacaan, ia sering membacakan teks bersama mahasiswa, membahasnya kalimat demi kalimat, hingga mengulang satu puisi atau karya sastra yang sama selama satu semester. Menurutnya, langkah tersebut bukan berarti standar akademik diturunkan.
"Saya tidak mencoba menurunkan standar. Saya hanya harus menggunakan pendekatan pengajaran yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama," katanya.
Hal serupa juga diungkapkan profesor teologi di University of Notre Dame, Timothy O'Malley. Pada awal kariernya, O'Malley biasa memberikan tugas membaca 25 hingga 40 halaman untuk setiap pertemuan. Namun saat ini, jumlah tersebut dianggap terlalu berat oleh banyak mahasiswa.
"Dulu mahasiswa akan mengerjakannya atau mengakui kalau mereka kesulitan. Sekarang, jika diberi bacaan sebanyak itu, mereka sering tidak tahu harus mulai dari mana," ujarnya.
O'Malley mengatakan, sebagian mahasiswa kini lebih memilih membaca ringkasan yang dibuat kecerdasan buatan (AI) dibanding membaca materi aslinya. Akibatnya, mereka kehilangan proses memahami argumen dan ide secara mendalam.
Ia menilai sistem pendidikan sebelumnya turut berkontribusi terhadap masalah ini. Selama bertahun-tahun, siswa terbiasa membaca hanya untuk menjawab ujian atau mencari informasi tertentu, bukan untuk mema
hami atau menikmati isi bacaan.
"Mereka terbentuk dalam pola membaca yang hanya memindai informasi," kata O'Malley.
Kemampuan tersebut memang berguna saat membaca artikel berita atau konten internet, tetapi kurang efektif untuk memahami novel, filsafat, atau karya akademik yang kompleks.
Bukan Hanya Soal Nilai Kuliah
Profesor teologi di Abilene Christian University, Brad East, menilai banyak mahasiswa sebenarnya tidak membenci membaca. Masalah utamanya justru kurang percaya diri dan tidak memiliki daya tahan untuk membaca dalam waktu lama.
Ia mengatakan, ketika tekanan nilai dikurangi, mahasiswa cenderung lebih bersedia mencoba membaca materi yang diberikan.
Sementara itu, profesor di Kellogg School of Management, Northwestern University, Brooke Vuckovic, mengatakan sekitar 40%-50% mahasiswa bisnis yang diajarnya mengaku bukan pembaca aktif atau merasa kesulitan membaca. Namun, begitu mereka mulai membiasakan diri membaca, perubahan kemampuan biasanya terlihat cukup cepat.
Di tengah menurunnya minat baca Gen Z, kebiasaan membaca justru masih menjadi ciri umum kalangan superkaya. Survei JPMorgan pada 2025 terhadap lebih dari 100 miliarder menemukan bahwa membaca merupakan kebiasaan yang paling banyak dimiliki para pencapai sukses tersebut.
Para akademisi mengingatkan bahwa dampak menurunnya kemampuan membaca tidak hanya berpengaruh pada nilai kuliah atau karier di masa depan. Menurut Wilson, membaca membantu seseorang memahami perspektif orang lain, meningkatkan empati, serta membangun rasa kebersamaan dalam masyarakat.
Ia khawatir jika budaya membaca terus menurun, berbagai persoalan sosial dapat semakin memburuk.
"Saya pikir polarisasi, kecemasan, kesepian, hingga berkurangnya persahabatan dapat terjadi ketika masyarakat tidak lagi membaca bersama," ujarnya.
(hsy/hsy) Add
source on Google