Kesalahan Pakai Sunscreen yang Masih Sering Dilakukan Warga Indonesia

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
22 May 2026 18:45
Foto: Ilustrasi penggunaan sunscreen. (Dokumentasi Freepik)
Foto: Ilustrasi penggunaan sunscreen. (Dokumentasi Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kesadaran masyarakat Indonesia memakai sunscreen memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sunscreen kini sudah jadi "senjata wajib" banyak orang Indonesia sebelum beraktivitas.



Kendati begitu, Direktur Eva Mulia Clinic, dr. Eddy Widjaja mengingatkan, memilih sunscreen tidak bisa sekadar ikut viral atau terpaku pada angka Sun Protection Factor (SPF) tinggi. Ia bilang, banyak orang masih menganggap semakin tinggi SPF maka semakin bagus perlindungannya. Padahal, hal tersebut tidak selalu benar.

"Bukan berarti SPF tinggi proteksinya paling bagus. Yang penting cocok dengan kulit dan digunakan sesuai kebutuhan," kata dr. Eddy kepada wartawan di Eva Mulia Clinic Prority Tebet, Jumat (22/5/2026).

Ia menjelaskan, SPF atau Sun Protection Factor sebenarnya hanya menggambarkan seberapa lama kulit terlindungi dari paparan sinar matahari sebelum mengalami kemerahan atau terbakar. dr. Eddy memberi contoh sederhana, seseorang yang biasanya kulitnya merah setelah satu menit terkena matahari bisa terlindungi lebih lama bila memakai sunscreen SPF 30 atau SPF 50.

"Tapi pertanyaannya, apakah memang selama itu kena matahari? Kalau cuma nyebrang atau aktivitas biasa, SPF 30 menurut saya sudah lumayan," ujarnya.

Ia bilang, masyarakat Indonesia yang umumnya memiliki warna kulit sawo matang sebenarnya relatif lebih kuat terhadap paparan sinar matahari dibanding beberapa negara lain. Meski begitu, perlindungan kulit tetap penting, apalagi saat cuaca panas ekstrem mulai sering terjadi.

"Indonesia UV index-nya lumayan tinggi. Jadi tetap hindari paparan yang tidak perlu, pakai baju yang menutupi, dan gunakan sunscreen," katanya.

Selain soal SPF, dr. Eddy juga mengingatkan, tidak semua sunscreen cocok untuk setiap orang. Ia mengatakan salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memaksakan penggunaan produk tertentu hanya karena sedang viral atau dianggap paling bagus.

"Kadang ada pasien bilang sunscreen ini terlalu berat, bikin jerawatan, bikin iritasi. Jadi kita cari lagi yang cocok," ujarnya.

Tanda sunscreen tidak cocok biasanya muncul dalam bentuk kulit merah, perih, sensitif, hingga muncul jerawat.

"Beda-beda tiap individu. Ada yang langsung merah, ada yang iritasi, ada yang jerawatan," katanya.

Dokter Eva Mulia Clinic, dr. Lie Man, juga mengingatkan masyarakat untuk tidak asal tergoda produk instan yang menjanjikan kulit glowing dalam hitungan hari.

"Kalau bicara produk instan, biasanya cerahnya cepat. Dalam beberapa hari atau seminggu sudah glowing banget," kata dr. Lie.

Namun, ia bilang, kondisi tersebut justru bisa menjadi tanda penggunaan produk berlebihan atau over treatment.

"Tanda-tandanya kulit jadi gampang sensitif, gampang merah, muncul bentol-bentol atau jerawat," ujarnya.

Dalam jangka panjang, penggunaan produk yang tidak jelas kandungannya bahkan bisa memicu kerusakan skin barrier hingga kondisi ochronosis, yakni kulit menghitam dengan warna seperti metal akibat penggunaan bahan tertentu secara berlebihan.

"Yang paling bahaya tentu risiko kanker kulit," kata dr. Eddy menambahkan.

Reapply Jadi Kunci
Selain memilih sunscreen yang cocok, dokter juga menyoroti pentingnya reapply atau pemakaian ulang sunscreen. Sebab, banyak orang merasa sudah aman hanya karena memakai sunscreen sekali di pagi hari.

"Kalau dari pagi sampai sore aktivitas di luar, satu kali apply itu enggak cukup," kata dr. Eddy.

Ia mengatakan, reapply sunscreen tidak harus selalu dilakukan setelah wajah dibersihkan total. Dalam kondisi tertentu, wajah cukup dibersihkan ringan dari keringat sebelum sunscreen digunakan kembali.

"Yang penting pas pulang dibersihkan dengan benar," ujarnya.

Saat ini, menurut dr. Eddy, tren sunscreen spray juga mulai berkembang karena dinilai lebih praktis digunakan di atas makeup.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Eddy juga mengingatkan bahwa kesehatan kulit tetap harus dimulai dari gaya hidup sehat, bukan hanya skincare atau treatment.

"Urutannya itu hidup sehat dulu, kedua basic skincare seperti sunscreen dan pelembap, baru kalau memang kurang bisa masuk treatment," katanya.

Tren Perawatan Kulit Tak Lagi Kejar Wajah "Palsu"
dr. Eddy mengatakan, perubahan tren perawatan kulit mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya kesadaran masyarakat soal kesehatan kulit.

"Kalau dulu Eva Mulia terkenal untuk curing, menyembuhkan jerawat. Pokoknya acne expert. Tapi sekarang pasien maunya tampil prima setiap saat," kata dr. Eddy.

Ia mendata, sekitar 2010 hingga 2015 tren perawatan estetika didominasi filler, tanam benang, hingga botox. Namun kini tren mulai bergeser ke arah hasil yang lebih natural.

"Sekarang orang tidak maunya terlalu berubah. Maunya natural," ujarnya.

Ia menyebut tren terbaru lebih fokus pada skin quality atau kualitas kulit, seperti penggunaan skin booster, hyaluronic acid, hingga DNA salmon untuk menjaga kulit tetap sehat dan tampak segar.

Tren perawatan kulit ke depan, kata ia, kemungkinan akan semakin mengarah pada hasil yang natural, sehat, dan realistis sesuai usia, bukan sekadar mengejar wajah yang berubah drastis.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dokter Kulit Wanti-Wanti Jangan Asal Kejar Glowing, Begini Alasannya


Most Popular
Features