Dokter Kulit Wanti-Wanti Jangan Asal Kejar Glowing, Begini Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kulit glowing masih menjadi dambaan banyak orang. Namun, dokter mengingatkan, kulit sehat bukan hasil instan, melainkan perjalanan panjang yang perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kulit, dan gaya hidup masing-masing orang.
Direktur Eva Mulia Clinic, dr. Eddy Widjaja mengatakan, konsep kulit sehat seharusnya bukan sekadar tampak cerah atau glowing berlebihan, apalagi bila tidak sesuai usia.
"Kita maunya natural, glowing sesuai usia. Boleh menua, tapi menua dengan anggun, aging gracefully," kata dr. Eddy dalam mini talk show pada pembukaan Eva Mulia Clinic Prority di Tebet, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Ia menegaskan, perawatan kulit yang terlalu berlebihan sejak usia muda justru tidak selalu baik. Ia mencontohkan, ada pasien usia 14 sampai 15 tahun yang ingin kulitnya tampak sangat glowing, padahal kondisi tersebut belum tentu wajar untuk usianya.
"Kalau sejak usia dini sudah dijejali dengan perawatan produk atau yang over, takutnya nanti di future-nya ada beberapa masalah," ujarnya.
dr. Eddy menegaskan, kesehatan kulit tidak bisa dipaksakan secara instan. Hasil cepat memang mungkin dicari banyak orang, tetapi kulit tetap memiliki proses alami yang perlu dihormati.
"Segala sesuatu yang instan biasanya kurang baik, karena itu memaksakan sesuatu di kondisi kulit yang mungkin belum siap," kata ia.
Hal senada disampaikan dokter Eva Mulia Clinic, dr. Lie Man. Ia bilang, kulit memiliki siklus regenerasi alami atau skin cycle yang berlangsung sekitar satu bulan. Oleh sebab itu, hasil perawatan yang sehat umumnya membutuhkan waktu.
"Kalau mau dapat hasil yang bagus, kita ambil secara natural. Ujung-ujungnya yang kita harapkan adalah kulit sehat," ujar dr. Lie.
Ia menilai, konsep timeless glow seharusnya dipahami sebagai investasi jangka panjang. Kulit yang bersih, sehat, dan terawat lahir dari rangkaian perawatan yang sesuai kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Basic Skincare Cukup?
Dalam perawatan kulit harian, basic skincare seperti sabun cuci muka, pelembap, dan sunscreen tetap menjadi fondasi utama. Namun, dr. Eddy mengatakan kebutuhan tiap orang berbeda.
"Ada orang yang memang dari dasarnya kulitnya bagus, cukup pakai skincare yang melembapkan dan sunscreen. Tapi ada juga yang sering terpapar matahari, stres tinggi, atau kondisi kulitnya bermasalah, itu mungkin perlu skincare yang lebih lengkap," jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jerawat harus ditangani terlebih dahulu sebelum seseorang mengejar efek glowing.
"Pasien datang dengan acne, acne kita beresin dulu. Mau glowing enggak bisa kalau acne-nya belum sembuh," katanya.
Setelah masalah utama membaik, barulah pasien bisa masuk ke tahap perawatan lain seperti skin booster, dermapen, atau treatment peremajaan kulit sesuai kebutuhan.
Selain kurang merawat kulit, kebiasaan memakai terlalu banyak produk juga bisa menjadi masalah. dr. Eddy mengatakan saat ini banyak pasien, termasuk pria, sudah sangat paham soal kandungan skincare. Namun, penggunaan produk berlapis-lapis tidak selalu cocok untuk semua kulit.
"Kadang-kadang over product juga enggak bagus," ujarnya.
Faktor lain yang memengaruhi kesehatan kulit adalah paparan matahari, beban makeup, cara membersihkan wajah, kurang tidur, stres, pola makan, dan minim olahraga.
"Kalau kita kurang sehat, kurang fit, kelihatan langsung di kulit. Kulit itu organ tubuh paling besar," kata dr. Eddy.
dr. Lie menambahkan, gaya hidup sehat berpengaruh langsung pada kondisi kulit. Perawatan dari luar perlu didukung dengan nutrisi, tidur cukup, dan kondisi tubuh yang baik dari dalam.
"Kita bukan hanya bicara kulitnya saja, tapi penopang fondasi yang ada di bawahnya. Kolagen terjaga, elastisitas juga bagus," ujarnya.
Treatment Estetika Makin Jadi Kebutuhan
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap penampilan, treatment estetika kini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mewah bagi sebagian orang. dr. Eddy bilang, perawatan estetika memiliki dua fungsi, yakni kuratif dan perawatan berkelanjutan.
"Kalau yang sakit, seperti acne, kita sembuhkan dulu. Tapi selain kuratif, kita juga caring, supaya kulit lebih halus dan kualitasnya lebih baik," katanya.
Meski demikian, Eva Mulia Clinic menekankan perawatan yang dipersonalisasi. Setiap pasien dianalisis terlebih dahulu melalui face reading untuk melihat kondisi kulit, mulai dari kulit kering, berminyak, berjerawat, hingga masalah lain.
"Pasien itu tidak bisa digeneralisasi. Kita lihat kebutuhannya seperti apa, lalu dibuat perencanaan pengobatan yang lebih individual," ujar dr. Eddy.
Dalam kesempatan yang sama, Eva Mulia Clinic juga memperkenalkan EM Priority sebagai bagian dari pengembangan layanan klinik. Layanan ini dihadirkan untuk memberikan pengalaman perawatan yang lebih nyaman dan personal bagi pelanggan.
dr. Eddy mengatakan pihaknya ingin tetap menghadirkan perawatan yang efektif dan bisa dijangkau lebih banyak orang.
"Tagline-nya, perawatan pengobatan yang efektif untuk semua orang. Jadi tidak harus yang mahal-mahal, tapi sesuai kebutuhan pasien," ujarnya.
Ia juga menyebut Eva Mulia Clinic berencana memperluas layanan ke sejumlah wilayah, termasuk Cibubur pada 2026, Serpong pada 2027, relokasi Ciledug, dan Bogor pada 2028.
"Harapannya kita bisa mendekati pasien, jadi pasien enggak perlu jauh-jauh lagi," katanya.
(miq/miq) Add
source on Google