Waktu Terbaik Minum Kopi yang Cegah Mati Muda Menurut Studi
Jakarta, CNBC Indonesia - Minum kopi tidak hanya berkaitan dengan rasa dan dorongan energi, tetapi juga memiliki kaitan dengan umur panjang. Waktu konsumsi kopi disebut dapat mempengaruhi seberapa besar manfaat kesehatannya.
Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam European Heart Journal menemukan bahwa konsumsi kopi di pagi hari dikaitkan dengan penurunan risiko kematian akibat penyakit jantung.
Meski mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, para peneliti menduga konsumsi kopi pada sore atau malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh, sehingga berpotensi mengurangi manfaat kesehatannya.
"Ini adalah studi pertama yang mengevaluasi pola waktu konsumsi kopi dan dampaknya terhadap kesehatan," kata peneliti utama sekaligus Direktur Pusat Penelitian Obesitas di Tulane University, New Orleans, Dr. Lu Qi seperti dikutip dari CNN International, Kamis (5/6/2025).
Dalam penelitian ini, para peneliti membandingkan dua pola konsumsi kopi, yakni hanya di pagi hari dan sepanjang hari.
Hasilnya, dibandingkan dengan orang yang tidak minum kopi sama sekali, mereka yang hanya minum kopi di pagi hari memiliki risiko kematian dini akibat berbagai penyebab 16% lebih rendah. Sementara itu, risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular tercatat 31% lebih rendah.
Sebaliknya, mereka yang minum kopi sepanjang hari tidak menunjukkan penurunan risiko serupa.
Temuan ini tetap konsisten meskipun para peneliti telah memperhitungkan berbagai faktor lain seperti pola tidur, usia, jenis kelamin, ras, etnis, pendapatan, tingkat pendidikan, aktivitas fisik, kualitas diet, serta kondisi kesehatan seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.
Selain itu, baik kopi berkafein maupun tanpa kafein tetap memberikan manfaat serupa bagi peminum di pagi hari.
Namun, penting diingat bahwa penelitian ini bersifat observasional. Artinya, studi ini belum dapat sepenuhnya membuktikan hubungan sebab-akibat.
"Penelitian ini bersifat observasional, bukan eksperimen yang merupakan standar emas," kata ahli gizi terdaftar sekaligus juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics, yang tidak terlibat dalam studi ini, Vanessa King, melalui email.
(hsy/hsy) Add
source on Google