Kemenkes Ungkap Fakta Terbaru: 2,3 Juta Anak RI tidak Pernah Imunisasi

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
12 May 2026 10:02
Foto: Ilustrasi imunisasi anak. (Dokumentasi Kementerian Kesehatan)
Foto: Ilustrasi imunisasi anak. (Dokumentasi Kementerian Kesehatan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap masih ada sekitar 2,3 juta anak Indonesia yang belum pernah mendapatkan imunisasi sama sekali atau masuk kategori zero-dose. Indonesia bahkan tercatat menjadi negara dengan jumlah anak zero-dose terbanyak keenam di dunia.



Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Direktorat Imunisasi Kemenkes dr. Gertrudis Tandy mengatakan, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi program imunisasi nasional.

"Zero-dose ini artinya anak-anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi," kata Gertrudis dalam media briefing Mengejar Anak Zero Dose di Bandung, Jawa Barat, Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, secara operasional kategori zero-dose diberikan kepada anak usia satu tahun yang belum menerima imunisasi DPT-HB-Hib dosis pertama atau pentavalen dosis pertama.

Berdasarkan data Kemenkes dan WHO, jumlah anak zero-dose di Indonesia terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 tercatat sebanyak 372.965 anak, kemudian naik menjadi 973.378 anak pada 2024, dan mencapai 959.990 anak pada 2025.

"Secara total jumlahnya kini mencapai sekitar 2,3 juta anak," kata ia.

Kemenkes juga mencatat cakupan imunisasi lengkap anak di Indonesia mengalami tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2025, capaian imunisasi bayi lengkap nasional hanya berada di level 80,2%, masih di bawah target 90%.

Sementara pada 2026, hingga April lalu, hanya DKI Jakarta yang berhasil mencapai target cakupan imunisasi bayi bulanan. Provinsi lain, termasuk Jawa Barat, masih belum memenuhi target nasional.

Gertrudis mengingatkan, rendahnya cakupan imunisasi dapat memicu kejadian luar biasa (KLB) penyakit yang sebenarnya bisa dicegah vaksin, seperti campak dan polio.

"Kalau akumulasi anak-anak yang tidak mendapat imunisasi ini terkumpul di suatu tempat maka kekebalan kelompok tidak terbentuk dan seterusnya akan terjadi peningkatan kasus dan kemudian kejadian luar biasa," ujarnya.

Ia mencontohkan Indonesia sempat mengalami KLB polio sehingga jemaah haji Indonesia diwajibkan menerima vaksin polio untuk masuk Arab Saudi.

"Nah, itu karena kenapa? Karena di Indonesia ada laporan dari WHO bahwa Indonesia ada KLB Polio dicatat. Jadi negara-negara melihat, oh Indonesia lagi ada KLB Polio sehingga Arab Saudi takut tertular," kata Gertrudis.

Gertrudis bilang, dampak rendahnya cakupan imunisasi bukan hanya memicu wabah penyakit dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dalam jangka panjang. Anak yang tidak mendapat imunisasi berisiko lebih sering sakit, mengalami kecacatan, hingga kematian akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.

"Jangka panjangnya tentu anak sakit-sakitan akan berimbas pada ekonomi, sumber daya manusia dan seterusnya," ujar Gertrudis.

Kemenkes menilai masih banyak faktor yang menyebabkan rendahnya imunisasi di Indonesia. Mulai dari hoaks dan keraguan masyarakat terhadap vaksin (vaccine hesitancy), keterbatasan SDM kesehatan, hingga pencatatan digital yang belum optimal.

Selain itu, pelacakan anak-anak yang belum imunisasi juga menjadi tantangan tersendiri karena data yang dimiliki pemerintah masih berupa data proyeksi.

"Anak-anaknya di mana itu tantangan tersendiri untuk alamatnya di mana namanya siapa itu pelacakan sasaran," ujar Gertrudis.

Oleh sebab itu, Kemenkes meminta dukungan lintas sektor mulai dari pemerintah daerah, kader Posyandu, tokoh agama, hingga media untuk membantu mengedukasi masyarakat terkait pentingnya imunisasi anak.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 2,3 Juta Anak RI Belum Imunisasi, Orang Tua Khawatir Efek Samping


Most Popular
Features