Bunga Tabur Ziarah Kubur ini Ternyata Bisa Jadi Obat Diabetes

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
12 May 2026 08:50
Foto: Bunga kenanga. (Wikipedia)
Foto: Bunga kenanga. (Wikipedia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekayaan tanaman herbal Indonesia kembali mencuri perhatian peneliti. BRIN bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan potensi antidiabetes dari ekstrak daun kenanga yang umum tumbuh di Indonesia dan kerap menjadi bunga tabur di pemakaman.



Di Indonesia, kenanga atau Ylang-ylang (Cananga odorata) selama ini identik dengan bunga tabur hingga bahan pewangi alami. Namun, di balik citranya sebagai tanaman hias dan ritual tradisional, para peneliti menemukan kandungan senyawa aktif yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan obat herbal modern.

Hasil Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) yang dipublikasikan di Journal of Applied and Pharmaceutical Science mengungkap pemanfaatan tanaman kenanga untuk pengobatan lebih dari 18 penyakit. Pemanfaatan ini dilakukan oleh 36 pengobat tradisional dari 28 etnis di 16 provinsi di Indonesia.

Penyakit kulit menjadi yang paling dominan ditangani menggunakan kenanga. Bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan bukanlah bunga, melainkan daun Kenanga. Selain mudah diperoleh, penggunaan daun dinilai tidak merusak tanaman dan tetap memberikan khasiat yang optimal.

Melihat potensi tersebut, Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PR BBOOT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penelitian kolaboratif untuk mengkaji lebih dalam manfaat tanaman Kenanga, khususnya bagian daun tanaman, sebagai antidiabetes dan antioksidan.

Peneliti PR BBOOT BRIN Nuning Rahmawati mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan temuan yang signifikan.

"Ekstrak etanol daun kenanga menunjukkan aktivitas sebagai antidiabetes dengan menghambat aktivitas dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4) sebesar 67,4%, dengan standar baku sitagliptin," ungkapnya dikutip pada Selasa di Jakarta (12/5/2026).

Nuning menjelaskan, selain sebagai antidiabetes, kenanga juga memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai antioksidan. Hal tersebut ditunjukkan dengan nilai IC50nya yang cukup rendah.

"Dari sisi ilmiah, Kenanga diketahui mengandung berbagai senyawa aktif seperti ocimene, linalool, germacrene D, dan β-caryophyllene yang memiliki aktivitas farmakologi sebagai antimikroba, antioksidan, hingga penenang. Temuan ini memperkuat bukti empiris yang selama ini diyakini oleh masyarakat dalam penggunaan tanaman tersebut sebagai obat alami," beber ia menjelaskan.

Hasil studi analisis kandungan kimia dengan standar baku kuersetin dan asam galat yang dilakukan Nuning, ekstrak etanol daun kenanga menunjukkan kandungan metabolit sekunder total flavonoid content (TFC) dan total phenolic content (TPC) berurutan sebesar 33,06±1,61 µg QEq/mL dan 97,15±1,00 mg GAE/g.

Analisis loading plot dengan PCA menunjukkan adanya korelasi positif kandungan TFC dan TPC dengan aktivitas antidiabetes dan antioksidan. Semakin tinggi TFC dan TPC, semakin tinggi aktivitas antidiabetes dan antioksidan ekstrak etanol daun kenanga.

"Kenanga memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan berbasis herbal modern, mengingat kandungan metabolit sekundernya yang memiliki aktivitas antibakteri, antidiabetes, antioksidan dan berbagai aktivitas farmakologi lainnya," jelasnya.

Meski demikian, di balik potensinya tersebut, terdapat tantangan. Lebih dari 60% tanaman kenanga yang digunakan Pengobatan Tradisional (Batra) di Indonesia masih berasal dari alam liar, bukan hasil budidaya. Kondisi ini berpotensi mengancam keberlanjutan tanaman jika pemanfaatannya terus meningkat tanpa diimbangi upaya pelestarian.

Nuning mengingatkan, meskipun status konservasi Kenanga saat ini berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) masuk kategori least concern, ketersediaannya di alam masih cukup berlimpah, namun upaya konservasi dan budidaya tetap diperlukan untuk mencegah kategori spesies ini meningkat status konservasinya menjadi near threatened (NT), endangered atau extinct dalam waktu dekat.

"Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan terkait efektivitas dan keamanan Kenanga sebagai bahan obat modern," ujarnya.

Ekstrak daun kenangan telah diusulkan sebagai Paten Sederhana "Ekstrak Daun Kenanga (Cananga odorata) Berbasis Etanol 70% sebagai Agen Antidiabetes dan Antioksidan." Statusnya terdaftar per 17 Oktober 2025 di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum Republik Indonesia dengan nomor S00202509607.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dibuang-buang di Kuburan, Bunga RI Ini Bisa Jadi Obat Anti Diabetes


Most Popular
Features