7 Pola Asuh yang Bikin Kecerdasan Emosional Anak Menurun

Dany Gibran,  CNBC Indonesia
11 May 2026 14:23
Ilustrasi orang tua memarahi anak. (Dok. Magnific)
Foto: Ilustrasi orang tua memarahi anak. (Dok. Magnific)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Melarang anak merasakan emosi sering kali dianggap sebagai cara tercepat untuk menenangkan mereka. Banyak orang tua spontan meminta anak berhenti menangis, tidak marah, atau tidak kecewa demi menghindari drama dan konflik.

Padahal, kebiasaan tersebut bisa berdampak pada perkembangan mental dan rasa percaya diri anak dalam jangka panjang.

Salah satunya melarang anak merasakan emosi, yang dapat membuat kecerdasan emosional anak berkembang lebih rendah karena mereka tidak terbiasa memahami dan mengelola perasaannya sendiri, seperti dikutip dari CNBC Make It:

1. Membiarkan anak lepas dari tanggung jawab

Sebagian orang tua enggan memberikan tugas rumah karena menganggap anak belum cukup dewasa. Padahal, tugas sederhana sesuai usia dapat melatih rasa tanggung jawab dan membuat anak merasa mampu menyelesaikan sesuatu sendiri.

2. Terlalu cepat mencegah anak melakukan kesalahan

Banyak orang tua langsung membantu sebelum anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Padahal, kegagalan dan kesalahan penting untuk melatih mental anak agar lebih tangguh dan berani bangkit saat menghadapi tantangan.

3. Melarang anak merasakan emosi

Meminta anak berhenti menangis, tidak marah, atau tidak kecewa memang terlihat menenangkan situasi. Namun, kebiasaan ini justru dapat membuat kecerdasan emosional anak berkembang lebih rendah karena mereka tidak belajar mengenali dan mengelola emosinya dengan baik.

Sebaliknya, orang tua disarankan membantu anak memahami apa yang mereka rasakan dan mengajarkan cara mengekspresikan emosi dengan sehat.

4. Mengajarkan mentalitas korban

Ucapan seperti "kita tidak bisa membeli itu karena hidup kita susah" bisa membuat anak merasa tidak berdaya terhadap keadaan. Orang tua sebaiknya mengajarkan cara menghadapi keterbatasan dengan sikap positif dan solusi yang realistis.

5. Terlalu protektif terhadap anak

Melindungi anak secara berlebihan dapat membuat mereka takut mengambil keputusan sendiri. Anak perlu diberi kesempatan menghadapi masalah agar terbiasa mandiri dan lebih percaya diri.

6. Menuntut anak selalu sempurna

Harapan yang terlalu tinggi bisa membuat anak takut gagal dan akhirnya enggan mencoba. Orang tua lebih baik memberikan target realistis serta menghargai proses dan pencapaian kecil yang berhasil diraih anak.

7. Lebih sering menghukum daripada mendisiplinkan

Hukuman membuat anak merasa dirinya buruk, sedangkan disiplin membantu mereka memahami konsekuensi dari tindakan yang dilakukan. Dengan pendekatan disiplin yang tepat, anak akan belajar membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.

(dag/dag) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dari Ayah atau Ibu? Ini Fakta Sains Soal Asal Kecerdasan Anak


Most Popular
Features