Ketimpangan Gender Membaik, Tapi Wanita RI Masih Sulit di Dunia Kerja
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan bahwa Indonesia memiliki perbaikan dalam ketimpangan gender secara agregat. Hal ini tercermin dalam Indeks Ketimpangan Gender (IKG).
Menurut data Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, tingkat IKG Indonesia berada di 0,402 atau turun 0,019 poin dibandingkan pada 2024.
"Selama 5 tahun terakhir, nilai IKG Indonesia menunjukkan tren yang menurun. Penurunan ini mengindikasikan adanya perbaikan dalam ketimpangan gender secara agregat," kata Kepala BPS Amalia Adhininggar Widysanti saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Ada tiga dimensi yang dihimpun oleh BPS dalam IKG, yakni kesehatan dengan indikator proporsi perempuan usia 15 sampai dengan 49 tahun yang melahirkan tidak di fasilitas kesehatan dan proporsi perempuan yang melahirkan anak pertama pada usia di bawah 20 tahun. Kedua indikator dalam dimensi kesehatan tersebut dalam SUPAS 2025 membaik.
Proporsi perempuan usia 15 sampai dengan 49 tahun yang melahirkan tidak di fasilitas kesehatan pada tahun 2025 tercatat sebesar 7,7% yang angka ini menurun dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, proporsi perempuan yang melahirkan anak pertama pada usia di bawah 20 tahun juga mengalami penurunan menjadi 23,5%.
"Penurunan kedua indikator ini tentunya mencerminkan perbaikan akses layanan kesehatan maternal, peningkatan kualitas persalinan oleh tenaga kesehatan, serta pergeseran ke arah usia kehamilan yang lebih matang," terang Amalia.
Dimensi kedua adalah pemberdayaan yang mencerminkan akses terhadap pendidikan menengah serta keterwakilannya dalam lembaga legislatif.
Indikator pada dimensi pemberdayaan juga mengalami perbaikan. Pada indikator pendidikan, persentase perempuan usia 25 tahun ke atas dengan pendidikan minimal SMA pada tahun 2025 mencapai 38,35 persen atau meningkat dibandingkan tahun 2020.
"Peningkatan ini tercatat lebih progresif dibandingkan laki-laki, sehingga kesenjangan gender di bidang pendidikan pun juga semakin menyempit," jelas Amalia.
Namun, pada indikator keterwakilan legislatif, meski persentase perempuan sebesar 22,28% masih berada di bawah target afirmasi 30%. Di sisi lain, laki-laki mendominasi dengan posisi 77,72%. Meskipun demikian, gender gapnya menyempit sejak 2020.
Ketiga, dimensi pasar tenaga kerja yang menggambarkan partisipasi perempuan dan laki-laki dalam aktivitas ekonomi melalui tingkat partisipasi angkatan kerja.
Menurut data BPS, Tingkat Angkatan Kerja Terhadap Penduduk Usia Kerja (TPAK) perempuan menunjukkan tren peningkatan yang konsisten.
Pada 2025, TPAK perempuan yang bersumber dari sakernas Agustus 2025 mencapai 56,63% meningkat lebih cepat dibandingkan TPAK laki-laki.
Namun, harus dilihat, TPAK perempuan masih berada jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,40%. Sementara itu, perempuan hanya sebesar 56,63%.
BPS juga mencatat, tingkat kesempatan kerja perempuan pada 2025 juga mengalami peningkatan sebesar 1,62% poin dari 2020 menjadi 95,16 persen. Kemudian perempuan semakin banyak beraktifitas di dalam perekonomian. Jumlah bukan angkatan kerja secara keseluruhan turun 1,6% poin dari 2020 menjadi 47,05 juta orang pada 2025.
Adapun jika dikaji lebih lanjut, IKG memang mengalami perbaikan seiring dengan mengecilnya ketimpangan gender. Namun kesenjangan pada indikator pembentuknya masih terjadi. Terbukti, perbaikan IKG tidak merata alias masih ada ketimpangan.
"Provinsi di Indonesia bagian timur secara umum memiliki nilai IKG yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain," ungkap Kepala BPS.
Sebanyak 21 provinsi memiliki nilai IKG di atas angka nasional, sementara17 provinsi berada di bawah atau sama dengan angka nasional. Jika dilihat dari dinamika tahunan, tiga besar provinsi yang mencatat perbaikan ketimpangan gender yaitu Jawa Tengah, Kalimantan Utara, dan Kepulauan Bangka Belitung.
Namun demikian, beberapa provinsi masih mengalami pelebaran ketimpangan gender. Tiga besar provinsi yang mengalami pelebaran ketimpangan adalah di Provinsi Bengkulu, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]