Belajar Aksara Jawa Kini Bisa Diraba, Ada Versi Braille

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 04/05/2026 17:50 WIB
Foto: Aksara Jawa. (Dok. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu pendidikan inklusif kembali mencuat saat peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026. Di Indonesia, akses bahan bacaan untuk penyandang disabilitas netra masih sangat terbatas, bahkan untuk materi dasar seperti buku pelajaran hingga literasi budaya.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan hingga akhir 2024, baru sekitar 5% buku pelajaran dan bacaan umum yang tersedia dalam format ramah disabilitas, seperti braille atau audio. Secara global, World Blind Union bahkan mencatat lebih dari 90% karya tulis belum bisa diakses oleh penyandang disabilitas netra.

Kondisi ini bukan hanya soal keterbatasan akses pendidikan, tapi juga berisiko membuat generasi muda kehilangan koneksi dengan warisan budaya, termasuk aksara daerah seperti aksara Jawa.


Di tengah situasi itu, mahasiswa program studi Sastra Jawa di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Nayla Marinlee Auramadina, mencoba menawarkan solusi. Ia mengembangkan sistem pembelajaran aksara Jawa berbasis braille yang diberi nama Sandhya-Braille.

Berbeda dengan metode braille biasa yang mengikuti pola huruf Latin, sistem ini dirancang menyesuaikan struktur aksara Jawa yang bersifat silabis atau berbasis suku kata. Dengan pendekatan ini, kata ia, pembelajaran tidak lagi per huruf, tetapi langsung ke satuan bunyi, sehingga dinilai lebih mudah dipahami oleh penyandang disabilitas netra.

"Pendekatan ini membuat proses belajar jadi lebih sistematis dan sesuai dengan struktur bahasa Jawa, sehingga pengguna bisa belajar lebih mandiri," ujar Marin dalam keterangannya dikutip pada Senin (4/5/2026).

Sandhya-Braille dikembangkan dengan pendekatan linguistik, matematis, dan pedagogis. Sistemnya mencakup pemetaan kode khusus hingga aturan transformasi simbol agar bisa dibaca secara taktil atau melalui sentuhan.

Marin bilang, Sandhya-Braille tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu baca bagi tunanetra, tetapi juga sebagai model pembelajaran inklusif yang bisa dikembangkan lebih luas untuk memperluas akses literasi budaya.

Ia pun berharap, sistem yang dikembangkannya tidak berhenti sebagai proyek akademik, tetapi bisa benar-benar diterapkan agar penyandang disabilitas netra bisa belajar aksara Jawa, bahkan mengakses manuskrip kuno.

Upaya ini dinilai sejalan dengan target global dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin pendidikan berkualitas dan pengurangan kesenjangan. Meski begitu, tantangan masih ada, seperti biaya produksi yang cukup tinggi untuk mengembangkan dan mendistribusikan sistem pembelajaran ini secara luas.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Hadapi Persaingan Klinik Estetika,Pengusaha Wajib Punya Hal Ini


Related Articles