Kisah Remaja 17 Tahun Idap Autoimun Langka, Gejalanya Mirip Diabetes

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 29/04/2026 07:50 WIB
Foto: Ilustrasi pengecekan gula darah. (Photo by Klaus Nielsen from Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun di California, Amerika Serikat, dilarikan ke unit gawat darurat setelah mengalami muntah-malam selama sehari penuh. Siapa sangka, kunjungan medis ini mengungkap kondisi kesehatan yang sangat kompleks dan langka, di mana tubuhnya menyerang dua sistem hormon sekaligus.



Diberitakan Live Science, awalnya, gejala yang dialami remaja ini sangat mirip dengan gejala klasik diabetes: sering haus, buang air kecil berlebih, penurunan berat badan drastis, hingga kelelahan. Tes menunjukkan kadar gula darahnya mencapai 453 mg/dL, jauh di atas batas normal 70-90 mg/dL dan dokter mendiagnosisnya dengan diabetes tipe 1.

Namun, ada yang aneh. Meski sudah diberikan dosis insulin, ia sering mengalami gula darah rendah di pagi hari. Selain itu, ia tetap sangat sering buang air kecil meskipun asupan cairannya sedikit.


Ibunya juga memberikan petunjuk kecil namun penting, kulit putrinya cenderung "mudah menjadi cokelat" yang bisa menjadi tanda ketidakseimbangan hormon tertentu. Karena respons tubuhnya yang tidak biasa terhadap pengobatan diabetes, tim dokter mulai mencurigai adanya penyakit lain yang bersembunyi.

Diagnosis Penyakit Addison
Dokter kemudian melakukan tes pada kelenjar adrenal (kelenjar di atas ginjal yang mengatur tekanan darah dan respons stres). Hasilnya mengejutkan, sistem imun remaja ini ternyata juga menyerang kelenjar adrenalnya sendiri.

Kondisi ini disebut Penyakit Addison. Pada pasien Addison, tubuh tidak mampu memproduksi hormon kortisol dan aldosteron yang cukup. Kurangnya hormon ini menjelaskan mengapa pengobatan diabetesnya tidak berjalan lancar dan mengapa ia terus kehilangan cairan tubuh.

Mengenal Sindrom APS-2 yang Langka
Kombinasi antara Diabetes Tipe 1 dan Penyakit Addison ini mengarah pada satu diagnosis langka yang disebut Autoimmune Polyendocrine Syndrome Type 2 (APS-2). Sindrom ini diperkirakan hanya menyerang sekitar 1,5 hingga 2 orang dari 100.000.

APS-2 terjadi ketika sistem imun secara keliru menyerang berbagai kelenjar pembuat hormon dalam tubuh. Kasus ini terbilang unik karena biasanya kedua penyakit ini muncul dalam waktu yang berjauhan, namun pada remaja ini, keduanya terdeteksi secara bersamaan saat pertama kali masuk rumah sakit.

Setelah mendapatkan kombinasi pengobatan insulin untuk diabetesnya dan terapi steroid untuk menggantikan fungsi kelenjar adrenalnya, kondisi remaja ini membaik pesat dalam dua bulan

Artikel selengkapnya >>> Klik di sini


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Teknologi Bantu Klinik Estetika Beri Layanan Minim Efek Samping