Banyak Dipakai Dukun RI, Tanaman Ini Bisa Disulap Jadi Parfum Mahal
Jakarta, CNBC Indonesia - Citra kemenyan yang selama ini identik dengan nuansa mistis dan ritual tradisional kini mulai bergeser ke arah produk gaya hidup kelas atas. Melalui inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), komoditas tersebut berhasil diolah menjadi parfum premium bernama "Styrax Perfume".
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Aswandi mengungkapkan, selama ini Indonesia mengekspor kemenyan dalam bentuk bahan mentah (resin) dengan nilai relatif rendah ke puluhan negara.
"Kita punya potensi 1 triliun per tahun yang belum diolah secara optimal di dalam negeri. Dengan teknologi ekstraksi yang sebenarnya tidak terlalu mahal, kita bisa mengubah resin menjadi minyak atsiri (Styrax oil). Jika resin harganya Rp200.000 per kilogram (kg), harga minyak kemenyan di pasar bisa mencapai minimal Rp5 juta per kg," ujar Aswandi dalam keterangannya, dikutip Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, nilai tambah dari pengolahan kemenyan sangat signifikan, bahkan sebelum masuk ke tahap produk akhir.
"Perbandingannya sangat menguntungkan, hanya butuh sekitar 2 kg kemenyan untuk menghasilkan 1 liter minyak. Itu baru minyaknya. Kalau kita olah lagi jadi parfum siap pakai, nilai tambah bisa mencapai 100 kali lipat per gramnya," lanjut dia.
Aswandi menjelaskan, Styrax Perfume dikembangkan sebagai identitas wewangian khas Nusantara yang mampu bersaing di pasar global. Produk ini mengusung konsep tiga pilar utama, yakni first, better, dan different, sekaligus menjadi parfum kemenyan alami pertama hasil riset dalam negeri yang telah dipatenkan.
"Kemenyan ini memberikan aroma yang sangat khas Indonesia, atau 'Nusantara banget'. Ini adalah identitas kita. Jika dibandingkan parfum bermerek luar negeri yang mahal, kualitas aroma dan ketahanannya tidak kalah. Ini adalah produk yang different (berbeda) karena tidak akan ditemukan di parfum manapun di dunia selain dari Indonesia," jelasnya.
Lebih jauh, inovasi ini tidak hanya ditujukan untuk nilai komersial, tetapi juga mendukung program hilirisasi dan pengembangan ekonomi berbasis desa. Peningkatan permintaan produk olahan kemenyan dinilai dapat menjaga kelestarian ekosistem hutan, khususnya di kawasan Danau Toba.
Selain itu, masyarakat lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil hutan kemenyan berpotensi mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi melalui pengembangan industri pengolahan di tingkat desa.
"Melalui parfum ini, kita menjaga hutan, menjaga ekosistem, sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat dari desa. Bahan baku kita melimpah dan tidak ada masalah. Sekarang saatnya kita membuktikan bahwa aroma kemenyan tidak seseram yang dibayangkan, melainkan sebuah kemewahan aromaterapi yang eksotik," pungkas Aswandi.
(wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]