Ramai-Ramai Anak Muda Singapura Oplas, Tapi Banyak yang Menyesal
Jakarta, CNBC Indonesia - Keinginan tampil lebih menarik lewat operasi plastik kini makin populer di Singapura, terutama di kalangan anak muda. Namun di balik tren tersebut, muncul sisi lain yang mengkhawatirkan, yaitu meningkatnya kasus gagal prosedur yang berujung luka serius, bahkan kebutaan.
Lonjakan minat ini ternyata tak selalu diimbangi dengan pemahaman risiko. Sejumlah kasus menunjukkan, prosedur estetika yang terlihat ringan justru bisa membawa dampak jangka panjang yang tidak mudah dipulihkan.
Melansir Channel News Asia, Jumat (24/4/2026), tak sedikit pasien yang akhirnya menyesal setelah menjalani tindakan. Salah satunya adalah Georgina Poh, 31 tahun, yang lima tahun lalu melakukan operasi untuk memperbaiki senyumnya di sebuah klinik estetika ternama.
Poh mengaku tidak bisa membuka mulut selama berminggu-minggu dengan wajah membengkak dan penuh memar. Hingga kini bekas luka masih membekas, tetapi ia tidak bisa menggugat karena sudah menandatangani surat pernyataan sebelum tindakan dilakukan.
Kasus seperti Poh bukanlah hal yang jarang terjadi, menurut pengacara dan dokter setempat. Seiring semakin banyak anak muda yang melakukan operasi plastik, jumlah kasus kegagalan juga ikut meningkat beberapa tahun terakhir.
Namun, sebagian besar kasus tidak pernah sampai ke pengadilan karena sulit membuktikan kelalaian dokter. Sebagian besar diselesaikan secara pribadi antara pasien dan klinik terkait.
Pengacara Jacqueline Chua bilang, kelalaian medis bisa terjadi dalam banyak bentuk, mulai dari diagnosis, pemberian nasihat, hingga pengambilan persetujuan pasien. Dalam konteks klinik estetika, pelanggaran bisa terjadi jika prosedur diserahkan pada pihak yang tidak terlatih atau di luar aturan medis yang berlaku.
Sementara itu, Pemerintah Singapura menambah aturan ketat dengan menerbitkan panduan serta mewajibkan lisensi tambahan untuk prosedur invasif. Langkah ini diambil untuk mencegah maraknya praktik ilegal yang membahayakan masyarakat.
Data Kementerian Kesehatan Singapura mencatat, sepanjang 2022-2024 ada sekitar 90 kasus pelanggaran oleh pihak tidak berwenang yang melakukan praktik medis atau kedokteran gigi. Angka itu melonjak 50% dibanding dua tahun sebelumnya.
Praktik ilegal itu kerap dilakukan di lokasi non-medis seperti rumah, toko, hingga kamar hotel. Beberapa ahli bedah plastik bahkan melaporkan satu dari 10 kasus kegagalan berasal dari tindakan di luar negeri atau oleh tenaga yang tidak memiliki izin resmi.
Meski demikian, tekanan juga dirasakan para praktisi berpengalaman untuk terus mengikuti tren prosedur baru yang marak di media sosial. Hal ini memaksa sebagian dokter cepat mengadopsi teknologi baru meskipun risikonya belum sepenuhnya dipahami.
(miq/miq) Add
source on Google