Studi Sebut Thailand Terancam Panas Ekstrem Setara Sahara Tahun 2070

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
20 April 2026 18:05
Bendera Thailand. (AP Photo/Vincent Thian)
Foto: Bendera Thailand. (AP Photo/Vincent Thian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Thailand menghadapi ancaman serius dari perubahan iklim Bumi. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan suhu di negara tersebut berpotensi melonjak hingga setara dengan kondisi Gurun Sahara dalam beberapa dekade ke depan.

Melansir The Straits Times, Senin (20/4/2026), proyeksi ini muncul dari riset iklim yang menunjukkan pemanasan global mendorong sebagian wilayah dunia keluar dari zona nyaman suhu yang selama ini menopang kehidupan manusia.

Konsep yang digunakan dalam studi tersebut dikenal sebagai human climate niche, yakni rentang suhu tahunan yang selama ribuan tahun menjadi dasar manusia hidup dan membangun peradaban. Rentang ideal ini berada di kisaran 11 hingga 15 derajat Celsius.

Namun, ketika suhu rata-rata tahunan melampaui 29 derajat Celsius, kondisi tersebut dinilai mendekati batas ekstrem bagi kelayakan hidup manusia. Saat ini, kondisi seperti itu baru terjadi di sekitar 0,8% wilayah daratan Bumi, terutama di kawasan Gurun Sahara.

Thailand sendiri sudah berada di ambang batas tersebut, dengan suhu rata-rata tahunan sekitar 26 derajat Celsius. Dalam skenario emisi tinggi, suhu itu diperkirakan akan terus meningkat hingga melewati ambang 29 derajat Celsius pada akhir abad ini.

Jika itu terjadi, perubahan yang dialami tidak sekadar hari yang lebih panas, melainkan pergeseran iklim secara struktural menuju kondisi yang jauh lebih ekstrem dan kurang mendukung aktivitas manusia.

Tanda-tanda dampak tersebut sebenarnya sudah terlihat. Setiap tahun, Thailand rutin mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius pada periode Maret hingga Mei. Pada gelombang panas 2016, suhu di beberapa wilayah bahkan tercatat jauh di atas rata-rata normal.

Para peneliti memperingatkan, di masa depan gelombang panas ringan bisa terasa seintens gelombang panas ekstrem saat ini. Artinya, kondisi panas ekstrem berpotensi menjadi hal yang biasa, bukan lagi kejadian langka.

Dampaknya meluas ke berbagai sektor, mulai dari kesehatan, produktivitas tenaga kerja, hingga ketahanan pangan. Suhu tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan pernapasan, dan penyakit menular, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan pekerja lapangan.

Selain itu, panas ekstrem juga menekan produktivitas kerja di luar ruangan, menurunkan hasil pertanian, serta meningkatkan konsumsi listrik akibat kebutuhan pendingin udara. Meski penggunaan AC kerap dianggap solusi, para ahli menilai langkah ini tidak cukup.

Ketergantungan pada pendingin udara justru berpotensi memperburuk krisis jika sumber energi masih bergantung pada bahan bakar fosil. Di Thailand, tekanan perubahan iklim juga datang bersamaan dengan risiko lain seperti kekeringan, banjir yang lebih sering, hingga kenaikan permukaan laut yang mengancam wilayah pesisir.

Oleh sebab itu, tantangan yang dihadapi bukan hanya soal beradaptasi dengan suhu panas, tetapi juga bagaimana negara tersebut mampu merombak sistem kota, energi, kesehatan, hingga model ekonominya agar tetap bertahan di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Peneliti menegaskan, skenario terburuk ini bukan tak terhindarkan. Namun tanpa upaya serius menekan emisi gas rumah kaca dan mempercepat adaptasi, ruang hidup manusia yang aman akan semakin menyempit, terutama di negara-negara tropis seperti Thailand.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kolumnis Media Thailand: SEA Games 2025 Banyak Kelemahan & Kekurangan


Most Popular
Features