Gara-Gara AI, 47% Mahasiswa Mau Ganti Jurusan Kuliah

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
10 April 2026 15:05
Ilustrasi Mahasiswa. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Mahasiswa. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar satu dari enam mahasiswa mengubah jurusan atau bidang studi mereka karena kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada pasar kerja, menurut hasil survei Lumina Foundation-Gallup 2026 State of Higher Education Study.

Survei tersebut dilakukan secara daring pada Oktober 2025 terhadap 3.801 mahasiswa di Amerika Serikat berusia 18 hingga 59 tahun yang sedang menempuh gelar sarjana maupun associate degree. Hasilnya menunjukkan 13% mahasiswa program sarjana telah mengubah jurusan atau bidang studi mereka karena AI, sementara 19% mahasiswa associate degree melaporkan hal yang sama.

Lebih lanjut, sekitar 47% dari seluruh mahasiswa mengaku setidaknya sudah "cukup serius" mempertimbangkan untuk mengubah jurusan akibat perkembangan AI.

Temuan ini menunjukkan bahwa AI mulai mengubah cara mahasiswa "memandang masa depan mereka," ujar Courtney Brown, Ph.D., Wakil Presiden di Lumina Foundation.

"Mereka banyak mendengar di media tentang bagaimana AI akan mengambil alih berbagai pekerjaan," ujarnya. Hal ini membuat mahasiswa mempertanyakan apakah "waktu dan biaya yang mereka investasikan untuk meraih gelar tersebut benar-benar akan memberikan hasil yang sepadan."

Alasan utama mahasiswa ganti jurusan

Menurut Brown, banyak mahasiswa khawatir bahwa gelar yang mereka tempuh tidak akan menghasilkan peluang karier yang menjanjikan. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri, "Jurusan apa yang perlu saya ambil agar saya mendapat pekerjaan setelah lulus?"

Mahasiswa program associate degree bahkan lebih cenderung mengganti jurusan dibandingkan mahasiswa sarjana. Brown menduga hal ini karena "kualifikasi mereka lebih erat kaitannya dengan kebutuhan tenaga kerja saat ini."

Masalahnya, mahasiswa belum benar-benar yakin jurusan mana yang akan tetap relevan di era AI.

Mahasiswa di bidang teknologi dan vokasi tercatat paling banyak yang mengaku "sangat mempertimbangkan" untuk mengganti jurusan, masing-masing sebesar 27% dan 17%. Namun, Brown menambahkan bahwa kelompok ini juga yang paling banyak melaporkan telah beralih ke jurusan teknologi dan vokasi.

Sekilas, temuan ini mungkin tampak kontradiktif, tetapi justru mencerminkan ketidakpastian mahasiswa tentang jurusan mana yang benar-benar akan membuahkan hasil di pasar kerja saat ini. "Mereka tidak yakin harus mengambil langkah apa. Haruskah masuk ke bidang teknologi? Atau justru menjauhinya?" kata Brown. "Tidak ada dari kita yang benar-benar tahu bagaimana AI akan berkembang."

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Riset Harvard: Ini 10 Jurusan Kuliah yang Tak Lagi Bergaji Tinggi


Most Popular
Features