Berapa Durasi Kentut yang Normal dalam Sehari? Ini Penjelasan Ahli
Jakarta, CNBC Indonesia - Banyak orang menganggap kentut sebagai hal memalukan yang harus ditahan. Padahal, tanpa disadari, kebiasaan ini justru bisa menjadi "alarm alami" dari tubuh tentang kondisi kesehatan pencernaan Anda.
Dalam dunia medis, kentut atau buang angin bukan sekadar proses biasa. Frekuensi, bau, hingga intensitas gas yang dikeluarkan tubuh dapat menjadi indikator biologis penting untuk menilai apakah sistem pencernaan bekerja dengan normal atau tidak.
Secara ilmiah, kentut adalah campuran udara yang tertelan saat makan dan gas yang dihasilkan oleh mikrobioma usus saat memecah makanan.
Kenali Aroma
Ternyata sebagian besar gas sebenarnya tidak berbau, dan bau berasal dari sejumlah kecil senyawa mengandung sulfur yang dihasilkan selama pencernaan.
Saat bakteri usus memfermentasi makanan yang Anda makan, mereka melepaskan gas sebagai produk sampingan, kata ahli gizi Shy Vishnumohan, seperti dikutip dari Eating Well. Bau kentut dapat bervariasi dari hampir tidak tercium hingga menyengat, tergantung pada apa yang Anda makan dan campuran bakteri di saluran pencernaan.
"Perubahan bau sesekali adalah normal, tetapi bau yang tidak biasa dan terus-menerus, terutama jika disertai dengan kembung, sembelit, atau diare, dapat menandakan perubahan pencernaan atau ketidakseimbangan mikroba," kata ahli gizi lainnya, Ava Safir, J.D., M.S., RDN.
Bau yang kuat dan bertahan lama bisa menjadi tanda malabsorpsi karbohidrat, pertumbuhan bakteri usus kecil yang berlebihan (SIBO), atau masalah pencernaan lain yang mungkin memerlukan perhatian medis.
Suara yang Dihasilkan Kentut
Sayangnya, kita tidak selalu dapat memprediksi apakah kentut akan keluar tanpa suara atau mengeluarkan suara yang jelas. Tetapi, terlepas dari apakah kentut itu berbunyi mendesis atau keras dan lantang, suara kentut tidak banyak berkaitan dengan kesehatan usus Anda.
"Suara saat mengeluarkan gas sebagian besar bersifat mekanis dan bergantung pada seberapa banyak gas yang ada, seberapa cepat gas tersebut bergerak, dan tonus otot yang dilewatinya," kata Safir.
Meskipun Anda tidak dapat mengontrol suara tersebut secara sadar, faktor anatomi tertentu dapat membuat kentut lebih keras dan lebih sulit dikendalikan. Safir menjelaskan bahwa sembelit, ketegangan otot dasar panggul, dan wasir dapat memengaruhi tonus otot rektum, yang dapat mengubah cara gas dikeluarkan.
Seberapa Sering Anda Kentut
Rata-rata orang sehat membuang angin sebanyak 10 hingga 20 kali sehari. Ini bukan sekadar proses pembuangan, melainkan bukti bahwa bakteri baik di usus sedang bekerja keras.
"Kentut beberapa kali sehari hingga sekitar 20 kali sehari dianggap normal. Kentut yang lebih sering sering dikaitkan dengan karbohidrat yang lebih mudah difermentasi, termasuk kacang-kacangan/polong-polongan, alkohol gula, makanan tinggi FODMAP, atau intoleransi terhadap laktosa atau fruktosa," kata Vishnumohan.
Jika Anda mencoba meningkatkan asupan serat, jangan khawatir gas berlebih ini biasanya bersifat sementara. Sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa dalam dua hingga enam minggu setelah meningkatkan asupan serat, frekuensi kentut kebanyakan orang kembali normal.
(dag/dag) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]