Timur Tengah Mencekam, Puluhan Jamaah Umrah RI Tertahan di Abu Dhabi
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat puluhan Warga Negara Indonesia (WNI) tertahan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Sebanyak 23 WNI, beberapa di antaranya baru selesai ibadah umrah dan sedang transit di Abu Dhabi, dihadapkan pada ketidakpastian untuk pulang ke Tanah Air karena penutupan sejumlah wilayah udara di kawasan Timur Tengah.
Duta Besar (Dubes) Republik Indonesia untuk UEA Judha Nugraha menyebut bahwa saat Amerika-Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2), puluhan WNI tersebut tertahan di Bandara Internasional Zayed Abu Dhabi karena gangguan operasional dan pembatasan aktivitas akibat kondisi keamanan yang dinamis. Namun, dia memastikan bahwa saat ini seluruh WNI sudah keluar dari bandara dengan aman dan berlindung di hotel sambil menunggu situasi membaik.
Salah satu WNI, Hanni Sofia, menurutkan bahwa kondisi keamanan di Abu Dhabi masih mencekam hingga Senin (2/3/2026) pagi.
"Dentuman meriam, pesawat tempur, dan emergency alert masih bunyi terus tadi terakhir jam 9 pagi," ujarnya, kepada CNBC Indonesia.
Hanni merupakan satu dari puluhan WNI yang sedang transit di Abu Dhabi pasca menyelesaikan ibadah umrah dan sedianya sudah kembali ke Indonesia pada Sabtu (28/2). Namun, situasi keamanan di Timur Tengah yang mencekam usai serangan AS-Israel ke Iran membuat Eithad Airways, milik pemerintah Abu Dhabi, menangguhkan penerbangan untuk sementara waktu hingga setidaknya 4 Maret 2026.
Selain Etihad, ada puluhan maskapai lain yang juga membatalkan penerbangan dari/ke kawasan Timur Tengah, termasuk Aegean Airlines, Air Algerie, Air France, Air India, British Airways, Cathay Pacific, Emirates, Finnair, Iberia, Indigo, Japan Airlines, KLM, Lufthansa, Norwegian, Oman Air, Pakistan International Airlines, Qatar Airways, Scandinavian Airlines, Swiss International Air Lines, Turkish Airlines, Virgin Atlantic, dan Wizz Air.
(hsy/hsy) Add
source on Google