Emak-emak RI Terbiasa Kasih Gula dan Madu ke Bayi, Ini Penyebabnya

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Sabtu, 28/02/2026 12:15 WIB
Foto: Pixabay

Jakarta, CNBC Indonesia - Praktik pemberian gula atau madu pada bayi baru lahir atau yang dikenal sebagai pralakteal masih marak terjadi di Indonesia. Hal ini berpengaruh pada rendahnya pemberian ASI eksklusif pada bayi. Selain itu faktor pendidikan dan pekerjaan seorang ibu juga mempengaruhi pada faktor pemberian ASI eksklusif.

Yuli Astuti dari Pusat Riset Kependudukan BRIN membuat riset mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Dia menggunakan pendekatan mixed-methods dengan melibatkan 706 ibu yang memiliki anak usia 6-59 bulan.

Pendidikan, Pekerjaan, dan Pralakteal Jadi Faktor

Riset ini menemukan bahwa bahwa ibu dengan pendidikan SMP atau lebih rendah memiliki kemungkinan 8,84 kali lebih besar untuk tidak memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu berpendidikan perguruan tinggi.


Selain itu anak dari ibu bekerja juga memiliki risiko 6,45 kali lebih tinggi tidak mendapatkan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang tidak bekerja.

"Hasil analisis menunjukkan 58,1% anak dalam sampel tidak menerima ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Angka yang mencerminkan masih kuatnya hambatan struktural dan sosial dalam praktik menyusui," ujar Yuly, dari laman BRIN, dikutip Sabtu (28/2/2026).

Studi ini menegaskan bahwa pendidikan ibu, status pekerjaan, dan praktik pemberian makanan/minuman prelakteal merupakan determinan paling dominan yang memengaruhi praktik menyusui di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Salah satu temuan paling krusial adalah praktik prelakteal atau pemberian madu atau gula pada bayi baru lahir, dapat meningkatkan risiko tidak diberikannya ASI eksklusif hingga 5,67 kali.

Sekitar 36,1% responden mengaku melakukan praktik tersebut, yang umumnya dilandasi keyakinan budaya bahwa rasa manis akan membawa kebaikan bagi kehidupan anak di masa depan.

"Data kami menunjukkan bahwa praktik prelakteal bukan sekadar kebiasaan, tetapi memiliki dampak signifikan terhadap kegagalan ASI eksklusif. Ini menjadi titik intervensi yang sangat strategis," jelas Yuly.

Faktor Sosial, Ekonomi, dan Gender

Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa anak laki-laki lebih berisiko tidak menerima ASI eksklusif dibandingkan anak perempuan. Kemudian, anak dari rumah tangga berpendapatan rendah memiliki peluang lebih besar mengalami praktik non-ASI eksklusif.

"Temuan ini mengindikasikan adanya dimensi sosial, ekonomi, dan konstruksi gender yang memengaruhi pola pengasuhan bayi, dan jenis kelamin anak turut mempengaruhi pemberian ASI eksklusif di lokasi penelitian. Cara pandang bahwa anak laki-laki penerus keluarga, harus sehat dan tidak cukup hanya diberikan ASI, sehingga menurut ibu-ibu di lokasi penelitian, anak laki-laki harus diberikan makanan lainnya sebelum waktunya," papar Yuly.

Menurut Yuly, konstruksi gender mengakibatkan kegagalan pemberian ASI eksklusif. Riset ini juga memperlihatkan bahwa tantangan ASI eksklusif tidak dapat dipahami sebagai persoalan individual ibu semata.

"Keputusan menyusui sering kali berada dalam ruang negosiasi keluarga. Ada persepsi bahwa bayi yang lebih besar dianggap lebih sehat, sehingga ibu didorong memberi susu formula atau makanan tambahan lebih awal," ujarnya.

Yuli menekankan kebijakan dan promosi kesehatan perlu berbasis bukti dan sensitif terhadap konteks lokal. Menurutnya intervensi harus menyasar ibu, keluarga, dan komunitas, serta memperkuat dukungan struktural, misalnya kebijakan tempat kerja ramah ibu menyusui.

"Tanpa dukungan struktural sulit mengharapkan perubahan perilaku yang berkelanjutan," kata Yuli.


(emy/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Perlindungan Maksimal Tinted Sunscreen Finally Found You!


Related Articles