Remaja Sukabumi Diduga Dibunuh Ibu Tiri, Kasus Kekerasan Anak Disorot
Jakarta, CNBC Indonesia - Kasus kematian anak laki-laki berinisial NS (12 tahun) di Sukabumi, Jawa Barat, yang diduga mengalami penganiayaan oleh ibu tirinya, memicu keprihatinan luas. Di tengah proses penyelidikan kepolisian, dokter spesialis anak menyoroti dampak kekerasan terhadap tumbuh kembang dan kesehatan mental anak.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Subspesialis Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial, dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A (K), MPH, menjelaskan, macam-macam kekerasan terhadap anak yang bisa memiliki dampak kesehatan nyata terhadap korban.
"Kekerasan pada anak itu ada empat, yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan neglected atau penelantaran. Bahkan ada juga yang memasukkan child trafficking," jelasnya kepada media di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Dalam konteks kasus di Sukabumi, ia menilai dugaan yang mengemuka mengarah pada kekerasan fisik, yang kemungkinan juga disertai kekerasan emosional. Menurut dr. Bernie, kekerasan fisik pada anak dapat berujung fatal, tergantung tingkat keparahannya.
"Kalau kekerasan fisik saja, ujungnya bisa kematian, kecacatan, atau harus rawat inap. Tergantung berat ringannya kekerasan yang dilakukan," ujarnya
Hasil visum pada kasus di Sukabumi, kepolisian menemukan adanya luka lecet, luka bakar derajat 2A, serta lebam yang mengindikasikan trauma tumpul. Sementara hasil autopsi menyebut penyebab kematian masih dalam pendalaman.
Dampak Psikologis Tak Kalah Berat
Tak hanya fisik, dr. Bernie menekankan, seluruh bentuk kekerasan pada anak baik fisik, seksual, emosional, maupun penelantaran pasti meninggalkan dampak jangka Panjang. Anak yang mengalami kekerasan, lanjut ia, dapat menunjukkan gejala trauma seperti ketakutan berlebihan, mimpi buruk, sering terbangun di malam hari, hingga takut pada orang atau tempat tertentu.
"Trauma itu akan sangat berdampak pada anak. Apalagi ini usia 12 tahun, sudah masuk remaja. Selama masih anak, dampaknya bisa terus terbawa," jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan trauma harus disesuaikan dengan usia anak. Pada anak yang lebih kecil, perlu ada pengasuh atau anggota keluarga lain yang mengambil alih tanggung jawab untuk memberikan rasa aman dan nyaman.
Dalam beberapa kasus, pendampingan tenaga kesehatan dan psikolog juga dibutuhkan untuk mencegah trauma berkepanjangan. Yang tak kalah mengkhawatirkan, dr. Bernie mengingatkan adanya risiko siklus kekerasan berulang.
"Abused child itu kadang-kadang nantinya bisa jadi abuser ketika dewasa. Ini yang harus kita jaga supaya kesehatan mentalnya baik dan tidak menjadi pelaku di kemudian hari," tegasnya.
(hsy/hsy) Add
source on Google