Motif Tersembunyi Dibalik Ikan Bandeng yang Jadi Hidangan Imlek

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Senin, 16/02/2026 13:10 WIB
Foto: Penjual melayani pembeli ikan bandeng di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, Kamis (23/1/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perayaan Tahun Baru China menjadi salah satu momen yang paling dinanti oleh masyarakat keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Terdapat beragam tradisi dijalankan sebagai bentuk rasa syukur dan harapan akan keberuntungan di tahun yang baru.

Tradisinya beragam, mulai dari membagikan angpao, mengenakan busana serta dekorasi bernuansa merah, hingga menyajikan hidangan khas di meja makan keluarga.

Salah satu menu yang hampir selalu hadir adalah olahan ikan. Di Indonesia, ikan bandeng kerap menjadi pilihan utama. Bahkan, bagi sebagian keluarga, perayaan terasa kurang lengkap tanpa sajian bandeng.


Lantas, apa makna di balik hidangan ikan bandeng sebagai makanan wajib saat Imlek?

Di Indonesia, bandeng merupakan ikan cukup populer. Ikan tersebut mudah dikembangbiakkan di pekarangan warga. Tak perlu sungai dan hanya perlu dibangun tambak. Atas dasar ini, banyak warga dari berbagai kalangan sering menyantap bandeng di berbagai perayaan, begitu juga di kalangan masyarakat Tionghoa.

Alwi Shahab dalam buku Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia (2013) menyebut, masyarakat Tionghoa Betawi kerap beli ikan bandeng dan kue China di pasar malam sekitar Glodok dan Pancoran. Nantinya ikan tersebut akan dikonsumsi sendiri atau dibagi-bagikan kepada tetangga.

Sebagai wawasan, melansir dari China Highlights, "ikan" dalam bahasa Mandarin disebut sebagai "Yú" atau "Yoo" yang terdengar serupa dengan arti kata surplus, berlimpah, atau berlebihan. Dari sini, masyarakat Tionghoa mengartikan ikan sebagai hidangan tradisional di menu makan Tahun Baru Imlek dengan harapan mampu membawa "surplus" bagi keluarga.

Maka, ikan selalu dimakan dengan harapan dapat memberikan rezeki yang berlimpah di tahun berikutnya. Kepercayaan ini turun juga di kalangan masyarakat Tionghoa. Mereka menjadikan bandeng sebagai katalisator mencapai rezeki.

Selain kental nuansa mitologi, olahan bandeng juga bisa motif tersembunyi, yakni menjadi alat mencapai status sosial. Di masa kolonial, bandeng sering digunakan untuk mencuri hati orang Belanda supaya bisnis di daerahnya berjalan lancar. Dengan memberikan bandeng berarti katalisator mencapai rezeki secara harfiah bisa terwujud.

Pemberian bandeng diharapkan bisa membuat orang Tionghoa punya kedudukan lebih kuat di kalangan masyarakat. Biasanya juga yang dibagikan bandeng berukuran besar.

Atas dasar ini, mereka kerap memasak sebagai wujud mengejar mitologi dan membagi-bagikan bandeng dengan harapan mencuri perhatian para pembesar Belanda. Dari kepercayaan ini, kebiasaan masyarakat Tionghoa menjadikan bandeng sebagai sajian khas tetap bertahan sampai sekarang.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: 5 Shio Bakal Menarik Kekayaan di Tahun Kuda Api 2026


Related Articles