Air Keran Berbau Busuk, Warga India Mandi Lima Hari Sekali

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
02 February 2026 18:30
Sungai Yamuna di India. (REUTERS/Bhawika Chhabra)
Foto: Sungai Yamuna di India. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jutaan warga ibu kota India, New Delhi, mengalami krisis air bersih selama berhari-hari akibat pencemaran amonia di Sungai Yamuna. Meski otoritas setempat menyebut pasokan sudah dipulihkan, sebagian warga mengatakan air yang mengalir masih berwarna keruh dan berbau menyengat.

Ravinder Kumar, warga Sharma Enclave di barat laut Delhi mengatakan, air bersih hanya mengalir sekali setiap tiga hari dan itu pun hanya sekitar satu jam.

"Sulit untuk mandi. Kadang airnya berwarna hitam. Kami hanya bisa mandi setiap empat atau lima hari sekali," ujar ayah tiga anak berusia 55 tahun itu mengutip CNN, Senin (2/2/2026).



Krisis ini dipicu tingginya pencemaran amonia dari limbah industri di Sungai Yamuna, yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan air Delhi. Sungai yang dianggap suci dan disembah jutaan orang itu menyumbang sekitar 40% kebutuhan air ibu kota. Namun, polusi berat membuat air sungai tak lagi bisa diolah secara aman.

Dewan Air Delhi mencatat sedikitnya 43 kawasan, yang dihuni sekitar dua juta penduduk, terdampak gangguan pasokan air. CNN menghubungi perwakilan warga di kawasan-kawasan tersebut dan menemukan setidaknya 10 wilayah, dengan total lebih dari 600.000 penduduk, tidak menerima air sama sekali selama beberapa hari.

Meski pasokan disebut kembali normal pada 24 Januari, warga di sejumlah lingkungan mengaku kondisi belum membaik. Air yang disimpan berwarna kuning dan berbau seperti telur busuk.



"Kesehatan semua orang menurun. Semuanya kotor," kata Shashi Bala, warga Sharma Enclave.

Secara historis, Sungai Yamuna membentuk peradaban Delhi sejak abad ke-17. Namun kini, hanya sekitar 2% aliran sungai yang melewati wilayah ibu kota justru menyumbang sekitar 76% dari total polusi Yamuna secara keseluruhan, menurut komite pemantau pemerintah.

Kandungan oksigen terlarut kerap turun hingga nol, mematikan kehidupan air dan mengubah sungai menjadi saluran limbah terbuka. Lapisan busa putih beracun yang menutupi permukaan sungai menjadi simbol paling kasat mata dari krisis ini.

Sejumlah aktivis turun ke bantaran sungai untuk membersihkan limbah, mulai dari pakaian bekas, sampah plastik, hingga patung-patung ritual keagamaan. Namun mereka mengakui, upaya itu tidak akan menyelesaikan akar masalah berupa limbah industri dan pengelolaan kota yang buruk.

Pertumbuhan kota yang tidak terencana turut memperparah krisis. Jutaan warga tinggal di permukiman ilegal tanpa jaringan pipa dan sistem pembuangan limbah memadai. Limbah rumah tangga dan industri meresap ke tanah, mencemari cadangan air tanah, sebagaimana diungkap dalam studi pencemaran logam berat pada 2022.

Pemerintah Delhi menyatakan akan meningkatkan hampir dua kali lipat kapasitas pengolahan limbah menjadi 1.500 juta galon per hari dan membangun jaringan pembuangan di seluruh permukiman ilegal pada 2028. Namun bagi warga miskin seperti Raja Kamat di Raghubir Nagar, janji tersebut terasa jauh dari realitas.

Ia mengatakan air sempat mati lima hari penuh, dan ketika kembali mengalir, airnya hitam dan hanya tersedia sekitar 30 menit per hari.

"Tidak ada fasilitas pembersihan. Tidak ada air. Seolah mereka tidak peduli apakah kami hidup atau mati," ujar Bhagwanti, warga berusia 70 tahun, menggambarkan kerasnya krisis air yang masih membayangi jutaan penduduk Delhi.

(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sudah Pernah Vaksin COVID? Selamat Anda Terhindar dari Mati Muda


Most Popular
Features