Banyak Orang Salah Kaprah, Ini Penyebab Insomnia Sebenarnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Fitness trainer sekaligus sleep & recovery educator, Vishal Dasani mengatakan, insomnia kerap terjadi bukan karena tubuh kurang lelah, melainkan karena seseorang terlalu berusaha untuk bisa tidur. Menurutnya, tidur adalah proses biologis yang tidak bisa dipaksa dan justru semakin sulit terjadi ketika dijadikan target yang dikejar.
Sebelum masuk ke soal insomnia, Vishal menjelaskan, tidur bukan kondisi pasif. Saat tertidur, tubuh melewati beberapa tahapan tidur yang berulang dalam satu malam.
Secara umum, tidur terdiri dari light sleep, deep sleep, dan Rapid Eye Movement (REM) sleep. Porsi terbesar justru berada di light sleep, yang bisa mencapai sekitar 50-60 persen dari total durasi tidur. Deep sleep porsinya jauh lebih kecil, sekitar 13-23 persen, dan berperan besar dalam pemulihan fisik. Sementara REM sleep, fase saat mimpi terjadi, berperan dalam pemulihan emosi, memori, dan kreativitas.
"Tubuh secara alami akan mengatur proporsi tahapan ini sesuai kebutuhan harian. Karena itu, tidak semua orang akan memiliki pola tidur yang sama setiap malam, dan hal ini tergolong normal," kata Vishal dikutip dari podcast Suara Berkelas, Senin (2/2/2026).
Masalah muncul ketika tidur diperlakukan sebagai target performa. Banyak orang mulai cemas ketika tidurnya terasa tidak ideal, lalu mencoba berbagai cara agar bisa tidur lebih cepat dan lebih lama.
Vishal menyebut kondisi ini sebagai rangkaian yang sering terjadi pada insomnia, yaitu sleep attention, sleep intention, sleep evaluation, dan sleep effort. Awalnya, seseorang mulai memperhatikan tidurnya yang berantakan.
Lalu muncul niat kuat untuk memperbaiki tidur. Setelah itu, ia mulai mengevaluasi setiap malam, merasa ada yang salah ketika tidak bisa tidur. Akhirnya, usaha untuk tidur justru semakin besar dan membuat tubuh makin sulit rileks.
"Tidur itu tidak bisa dipaksa. Semakin besar usahanya, semakin aktif otak kita," jelasnya.
Salah satu kesalahpahaman terbesar adalah menganggap tubuh yang capek otomatis siap tidur. Faktanya, capek tidak selalu berarti rileks.
Vishal bilang, banyak orang berada dalam kondisi lelah secara fisik, tetapi sistem sarafnya masih berada di mode fight or flight. Pikiran masih aktif, emosi belum tenang, dan tubuh belum masuk ke kondisi parasimpatik yang dibutuhkan untuk tidur.
"Akibatnya, meskipun badan sudah lelah dan mata mengantuk, tidur tetap sulit datang atau terasa tidak nyenyak," kata ia.
Insomnia Sering Dipelihara oleh Kebiasaan Sehari-hari
Dalam banyak kasus, insomnia bertahan bukan karena penyebab awalnya, melainkan karena kebiasaan yang terbentuk setelahnya. Misalnya, tidur siang terlalu lama karena semalam sulit tidur, atau mulai merasa cemas setiap kali mendekati jam tidur.
Kecemasan ini membuat otak semakin siaga, padahal tidur membutuhkan kondisi sebaliknya. Semakin lama pola ini berlangsung, semakin sulit insomnia diatasi dalam waktu singkat.
Alih-alih memaksa tidur, Vishal menyarankan fokus pada mempersiapkan tubuh untuk tidur. Salah satu kuncinya adalah memberi waktu untuk down-regulate atau menurunkan aktivitas sistem saraf sekitar 30 menit sebelum tidur.
Caranya tidak harus seragam, kata ia. Bagi sebagian orang, membaca buku terasa menenangkan. Bagi yang lain, menonton tayangan ringan, mendengarkan podcast, atau berbincang santai bisa membantu tubuh lebih rileks. Yang penting, tubuh diberi sinyal bahwa waktunya berhenti beraktivitas.
"Tidur, pada akhirnya, adalah momen ketika tubuh tidak dituntut menjadi siapa-siapa dan tidak melakukan apa-apa. Di saat itulah proses pemulihan terjadi secara alami," kata ia.
(hsy/hsy)