Tanaman Pengganti Gandum Ada di RI, Bisa untuk Bahan Baku Mi dan Roti
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat dukungannya terhadap ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi pangan nonberas. Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Alih Teknologi Mi Bebas Gluten Berbasis Sorgum yang diselenggarakan di Kawasan Sains Muhammadi Siswosudarmo, Subang, pada Senin (19/1/2026) lalu.
Kegiatan diusung oleh Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP), Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) melibatkan periset lintas pusat riset dan organisasi riset, yakni PR Teknologi Proses, PR Teknologi Manufaktur Peralatan, dan PR Kimia Molekuler, serta menggandeng mitra industri BRIN, PT Sedana Panen Sejahtera, dan mitra startup binaan BRIN, PT Noang Prima Utama.
Kepala PRTP, Hens Saputra, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kedaulatan dan ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan sumber pangan alternatif selain beras dan jagung. Salah satu komoditas potensial yang dinilai sesuai dengan kondisi Indonesia adalah sorgum.
"Sorgum memang belum terlalu dikenal masyarakat luas, namun sangat cocok dibudidayakan di Indonesia dan kaya serat. Tanaman ini juga relatif tahan terhadap cuaca ekstrem," ungkap Hens dikutip, Sabtu (31/1/2026).
Ia menambahkan, tingginya konsumsi terigu di Indonesia masih bergantung pada impor, sementara gandum tidak dapat tumbuh optimal di dalam negeri. Di sisi lain, minat masyarakat terhadap produk roti dan mi sangat besar. Kondisi ini, menurut Hens, membuka peluang pengembangan mi nonterigu berbasis sorgum sebagai alternatif pangan sehat dan berkelanjutan.
Hens juga menyampaikan apresiasi kepada PT Sedana Panen Sejahtera atas komitmennya mengembangkan teknologi ekstrusi mi sorgum yang telah diikat melalui Perjanjian Kerja Sama sejak 2023 dan berlanjut pada 2025 dengan pengembangan formulasi spageti berbasis sorgum. Selain itu, PT Noang Prima Utama turut diapresiasi sebagai penerima lisensi proses produksi mi sejak 2021.
Ke depan, Hens berharap pengembangan produk berbasis sorgum dapat terus berlanjut dan mendorong terbentuknya industri sorgum yang terintegrasi. Tidak hanya untuk pangan, tetapi juga untuk pakan ternak, energi terbarukan seperti etanol dan biomassa, serta sektor lainnya.
"Keberadaan industri mi sorgum diharapkan mampu mendorong tumbuhnya industri kecil dan menengah, membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar, serta menarik keterlibatan mitra, termasuk dari luar negeri," ujarnya.
Sementara itu, perwakilan PT Sedana Panen Sejahtera, Lisan Suryana Putra, menyampaikan apresiasi atas dukungan BRIN dalam pengembangan teknologi mi sorgum. Ia mengungkapkan bahwa inovasi tersebut menjawab berbagai tantangan yang sebelumnya dihadapi perusahaan.
"Produk spageti sorgum telah kami coba pasarkan dan mendapat respons positif karena rasanya mirip spageti gandum," kata Lisan.
Saat ini, PT Sedana telah mengembangkan berbagai produk olahan sorgum, seperti gula, kecap, dan tepung. Selain sektor pangan, perusahaan juga mengembangkan peternakan sapi dan kambing serta menjalin kerja sama dengan Pertamina. Bahkan, sorgum juga tengah dikembangkan sebagai bahan baku produk perawatan kulit dalam bentuk face mist.
Menurut Lisan, penerapan teknologi ekstrusi pada sorgum mampu menghasilkan mi bebas gluten yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga kaya serat dan baik bagi kesehatan. Ia berharap inovasi ini dapat memperluas pemanfaatan sorgum sebagai komoditas pangan dan nonpangan unggulan nasional.
(wur/wur)