Pantas 188 Juta Anak Kecil Obesitas, Ternyata Ini Pemicunya

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Kamis, 29/01/2026 17:20 WIB
Foto: Obesitas/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nations Children's Fund (UNICEF) melaporkan ada sekitar 188 juta anak berusia 5 hingga 19 tahun mengalami obesitas secara global pada tahun 2025. Anak dengan obesitas memiliki risiko komplikasi kesehatan yang serius, demikian peringatan laporan tersebut.

Salah satu pemicu obesitas di kalangan anak kecil adalah jajanan yang mereka konsumsi. Jajanan anak dengan rasa manis, tampilan mencolok, dan warna krim yang cerah makin mudah ditemui, terutama yang tengah viral di media sosial. Kombinasi visual menarik dan rasa manis membuat produk-produk ini cepat diminati dan laris di pasaran.

Namun dibalik popularitasnya, muncul kekhawatiran terkait kandungan gula yang tinggi serta penggunaan pewarna buatan yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan anak jika dikonsumsi secara rutin.

"Jika dikonsumsi terus-menerus, dampaknya cukup serius. Asupan gula berlebih terbukti meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, gangguan metabolik, dan pada sebagian anak bisa memicu gangguan perilaku serta konsentrasi," ujar d. Yusuf dikutip dari website resmi IPB, Kamis (29/1/026).

Meski pewarna dan perisa buatan yang digunakan umumnya berstatus food grade dan diizinkan secara regulasi, dr. Yusuf menekankan risiko tetap ada jika konsumsinya berlebihan atau berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini dinilai lebih berisiko pada anak karena proses tumbuh kembang tubuh mereka belum optimal.


Tren jajanan viral berwarna mencolok juga disebut ikut berkontribusi terhadap meningkatnya persoalan gizi anak. Menurutnya, jenis makanan tersebut umumnya tinggi gula, lemak, dan kalori, namun minim serat serta zat gizi penting.

"Jika kebiasaan ini terbentuk sejak dini, risiko obesitas anak meningkat dan dapat berlanjut menjadi penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung di usia yang lebih muda," jelasnya.

Tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, konsumsi makanan manis sejak usia dini juga mempengaruhi pola makan jangka panjang. Anak berisiko mengalami ketergantungan rasa manis dan cenderung sulit menerima makanan sehat di kemudian hari.

"Preferensi rasa terbentuk sejak kecil. Anak yang terbiasa dengan rasa manis dan tampilan mencolok akan kesulitan membiasakan diri dengan makanan sehat yang secara visual maupun rasa kalah menarik," ujarnya menambahkan.

Dari sisi pengawasan, dr. Yusuf menilai regulasi sebenarnya sudah ada. Namun, implementasinya di lapangan masih menghadapi tantangan, terutama pada produk jajanan rumahan, jajanan viral musiman, dan penjualan secara daring yang kerap luput dari pengawasan rutin.

"Pengawasan terhadap takaran gula, jenis pewarna, dan bahan tambahan pada produk-produk tersebut masih menjadi celah," katanya.

Ia menegaskan perlunya langkah konkret dari pemerintah, mulai dari penguatan pengawasan jajanan anak, kejelasan label kandungan gula dan bahan tambahan, hingga edukasi yang lebih masif kepada orang tua dan sekolah.

"Yang tak kalah penting adalah kebijakan yang mendorong terciptanya lingkungan pangan sehat, agar anak-anak memiliki akses mudah terhadap makanan yang bergizi, aman, dan tetap menarik," tutupnya.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sasar Usia 20-an, Kosmetik Lokal Andalkan Produk Clean Beauty