Gula Darah Tak Terkontrol Picu Koma, Ini Saran Dokter Penyakit Dalam
Jakarta, CNBC Indonesia - Komplikasi akut pada diabetes dapat berkembang cepat menjadi kondisi gawat darurat seperti Ketoasidosis Diabetikum (DKA). Dalam hitungan jam, penderita bisa mengalami rasa lemah, pingsan, hingga koma yang mengancam nyawa.
dr. Herry Nursetiyanto, Sp.PD-KEMD, FINASIM, di Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menjelaskan bahwa DKA adalah komplikasi akut diabetes yang sering tidak disadari, namun dapat berakibat serius.
"DKA terjadi ketika tubuh kekurangan insulin sehingga gula tidak dapat digunakan sebagai energi, maka tubuh akan memecah simpanan lemak (trigliserida) menjadi asam lemak bebas. Asam lemak bebas di dalam organ hati diolah sehingga menghasilkan senyawa keton yang bersifat asam dan dilepaskan dalam aliran darah. Penumpukan keton inilah yang membuat darah menjadi asam dan berbahaya," ungkap dia dikutip Selasa (27/1/2026).
Beberapa gejala yang sering dianggap sepele namun bisa berujung serius antara lain haus berlebihan, sering buang air kecil, mual, muntah, sakit perut, napas cepat dan dalam, mulut berbau aseton, lemas ekstrem, sulit berkonsentrasi, kulit kering, dan dehidrasi berat.
"Koma ketoasidosis atau DKA bisa berakibat fatal bila terlambat ditangani. Jika penderita diabetes tiba-tiba pingsan, itu sudah pertanda darurat," ungkap dr. Herry.
Saat kondisi ini terjadi, pasien memerlukan penanganan medis di rumah sakit terdekat, dan tidak bisa hanya menunggu pasien hingga sadar dengan sendirinya.
"Biasanya pasien akan diberikan cairan infus untuk mengatasi dehidrasi dan suntikan insulin untuk menurunkan gula darah, koreksi keseimbangan garam mineral tubuh (elektrolit), sekaligus mencari penyebab DKA, serta pemantauan ketat oleh dokter," tambahnya.
Oleh karena itu, penting bagi pasien diabetes dan keluarga untuk memahami tanda darurat DKA dan segera membawanya ke rumah sakit. Salah satunya layanan Emergency 24 jam Mayapada Hospital Jakarta Selatan.
Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Fiktorius Kuludong, menjelaskan, bagi pasien diabetes dan keluarganya, penting untuk memahami tanda darurat DKA dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Di Emergency 24 Jam Mayapada Hospital Jakarta Selatan, penanganan DKA dapat dilakukan dukungan Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang berada di rumah sakit selama 24 jam. Perawatan lanjutan dapat melibatkan Dokter Spesialis Anestesi jika diperlukan tindakan bedah atau perawatan lanjutan secara intensif," kata dia.
"Tim dokter spesialis dan subspesialis kami siaga di rumah sakit selama 24 jam, baik di layanan poliklinik pada pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB maupun dari pukul 20.00 WIB hingga 08.00 WIB," kata dia.
"Hal ini berguna agar kami dapat selalu memastikan keselamatan (patient safety), kenyamanan pasien (patient experience) dan berfokus pada pasien (patient-centered care), bersama tim medis berpengalaman dan fasilitas lengkap. Pasien dapat mengakses layanan ini melalui call center 150990 atau emergency call di aplikasi MyCare milik Mayapada Hospital," tambah dr. Fiktorius.
Tak hanya penanganan yang tepat, tindakan pencegahan juga tak kalah penting, sehingga Mayapada Hospital Jakarta Selatan memiliki layanan Sugar Clinic untuk membantu mengendalikan kadar gula darah melalui pemeriksaan gula darah gratis, sekaligus layanan skrining risiko prediabetes/diabetes dengan teknologi AI, konsultasi langsung dengan dokter, serta program manajemen diabetes yang menyeluruh untuk mendukung kesehatan metabolisme.
Informasi lainnya seputar kesehatan dapat ditemukan dalam fitur Health Articles dan Tips di aplikasi MyCare, hingga Personal Health yang terintegrasi dengan Google Fit dan Health Access untuk memantau jumlah langkah, kalori terbakar, detak jantung, hingga BMI.
[Gambas:Video CNBC]