1 dari 7 Anak Indonesia Overdosis Timbal, IQ Bisa Terganggu

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Kamis, 22/01/2026 15:20 WIB
Foto: Ilustrasi anak Indonesia. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sedang menghadapi tantangan serius dalam kesehatan publik yang sering kali luput dari perhatian, yakni kontaminasi timbal (plumbum). Berdasarkan data terbaru, diperkirakan 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Merespons hal ini, pemerintah melalui Direktorat Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama dengan Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan mitra pembangunan Yayasan Pure Earth Indonesia dan Vital Strategies memaparkan hasil Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD) Tahap Pertama di Indonesia.

Paparan timbal berdampak serius pada kesehatan, terutama pada anak-anak. Paparan timbal yang tinggi dapat mengganggu tumbuh kembang anak, menurunkan poin IQ, dan masalah kesehatan serius lainnya.


Hasil SKTD menunjukkan bahwa 1 dari 7 anak Indonesia memiliki kadar timbal darah di atas 5 mikrogram/desiliter (µg/dL), yaitu ambang batas yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dan WHO untuk intervensi klinis dan lingkungan.

Temuan juga menunjukkan bahwa anak yang tinggal di rumah dengan cat terkelupas berisiko 61% lebih tinggi memiliki kadar timbal darah 25 µg/dL, sementara pekerjaan orang tua yang berkaitan dengan timbal, penggunaan alat masak berbahan logam, serta penggunaan bedak atau kosmetik berhubungan dengan kadar timbal darah 7-10% lebih tinggi pada anak.

Sebaliknya, akses terhadap pendidikan yang lebih tinggi dan tingkat pendapatan yang lebih baik menunjukkan kadar timbal darah anak yang lebih rendah. Hal ini menegaskan pentingnya kebijakan yang berfokus pada keadilan (equity) untuk melindungi seluruh anak dari paparan timbal.

Surveilans juga mengidentifikasi sumber utama paparan timbal di lingkungan rumah. Lebih dari 20 persen sampel alat masak logam, alat makan keramik dan plastik, kosmetik, pakaian anak dan orang tua, serta mainan anak mengandung timbal melebihi nilai ambang batas. Selain itu, setiap kenaikan dua kali lipat dari kadar timbal di tanah, terdapat peningkatan rata- rata kadar timbal darah anak sebesar 8%.

Sayangnya, paparan timbal sering tidak terdeteksi dengan gejala klinis. Mengingat sifat yang kronis dan bisa berdampak permanen, upaya deteksi dini dan identifikasi sumber paparan timbal balik menjadi sangat penting.

Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan, Dr.dr. Kemudian Suyanti, MM mengatakan melalui Surveilans Kadar Timbal Darah (SKTD), pemerintah memperoleh gambaran awal tentang besarnya masalah paparan timbal balik pada anak serta faktor risiko utama yang perlu ditangani melalui intervensi klinis, lingkungan, dan kebijakan publik.

"Data prevalensi kadar timbal darah dan potensi sumber utama paparan timbal sangat penting sebagai dasar penyusunan kebijakan yang tepat sasaran. Tanpa data, upaya pencegahan akan sulit diukur dan dievaluasi," kata dr. Kemudian.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Emas Cetak Rekor, Logam Mulia-Perhiasan Emas Jadi Buruan