Dokter Ungkap Kunci Puasa yang Sehat, baik untuk Mental Health juga
Jakarta, CNBC Indonesia - Bulan Ramadan bukan hanya sekadar momen spiritual, tetapi juga menjadi tantangan tersendiri bagi kondisi fisik seseorang. Perubahan pola makan, waktu tidur, dan aktivitas fisik menuntut tubuh untuk beradaptasi dengan cepat.
Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan Heriyanto mengatakan bahwa kunci utama menjalani puasa yang sehat terletak pada persiapan mental yang matang dan pemahaman atas batas kemampuan tubuh.
"Sadar atau tidak, semua kebiasaan baik yang dilatih di bulan puasa ternyata membentuk perasaan damai, tenang, dan baik untuk kesehatan mental," kata dr. Irwan saat acara Indonesia Health Insight Report Q1 2026 oleh Halodoc di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Sementara itu, ketika menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, Anda mungkin akan menghadapi banyak tantangan mental, mulai dari kesabaran yang teruji hingga emosi yang tidak stabil.
Foto: Halodoc Talks by Halodoc di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026). (CNBC Indonesia/Linda Sari Hasibuan) |
Tantangan Kesehatan yang Sering Muncul
Selama berpuasa, tubuh mengalami fase detoksifikasi alami, namun ada beberapa tantangan medis yang sering kali mengintai:
- Gangguan Pencernaan (Maag dan GERD)
Kebiasaan langsung menyantap makanan porsi besar atau makanan berlemak saat berbuka sering memicu naiknya asam lambung.
- Penurunan Konsentrasi
Akibat kurangnya asupan glukosa ke otak pada siang hari, banyak orang mengalami penurunan fokus dan rasa kantuk yang berlebihan.
- Kelelahan Ekstrem
Tantangan ini biasanya muncul pada minggu pertama puasa saat tubuh masih melakukan penyesuaian metabolisme.
- Sembelit
Kurang mengonsumsi makanan berserat dan kurang minum bisa membuat orang yang berpuasa menjadi sembelit atau susah buang air besar. Untuk itu, perhatikanlah pola makanan yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka.
Usahakan selalu mengonsumsi buah-buahan dan sayuran yang mengandung banyak serat. Usahakan juga minum 8 gelas (2 - 3 liter) air per hari mulai dari buka puasa sampai sahur.
- Bau Mulut
Masalah kesehatan yang juga sering muncul saat puasa adalah bau mulut atau halitosis. Hal ini tidak hanya bikin pengidapnya jadi tidak percaya diri tapi juga mengganggu orang lain. Kebiasaan tidak sehat seperti jarang menggosok gigi, mengonsumsi makanan beraroma tajam juga bisa memperparah bau mulut.
- Diare
Masalah kesehatan lainnya yang juga sering kambuh saat puasa adalah diare. Selain akibat mengonsumsi makanan yang terkontaminasi kuman, terlalu sering mengonsumsi makanan yang sangat pedas dan berlemak juga bisa menyebabkan diare.
Makanan terlalu pedas bisa membuat lambung terkejut. Sedangkan makanan berlemak sulit dicerna, sehingga bila dikonsumsi berlebihan bisa memicu buang-buang air besar.
- Sakit kepala
Tidak adanya asupan karbohidrat yang masuk bisa memicu rasa sakit kepala selama puasa. Kondisi lain seperti dehidrasi dan kurang tidur juga dapat meningkatkan risiko penyakit ini.
Rasa sakit kepala yang dirasakan bisa saja ringan, sedang, hingga berat. Anda mungkin akan merasakan pusing, ketegangan otot di bagian bahu dan leher, mual ringan, dan kelelahan.
Tips Aktif Selama Ramadan
Fibriyani Elastria selaku Chief Marketing Officer Halodoc mengatakan bahwa meski sedang berpuasa, aktivitas fisik tetap diperlukan. Para ahli menyarankan olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang, seperti jalan santai atau yoga, yang dilakukan 30 menit sebelum berbuka atau setelah tarawih. Hal ini membantu menjaga sirkulasi darah tetap lancar tanpa menguras energi secara berlebihan.
Berikut adalah beberapa langkah krusial yang perlu diperhatikan untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan:
• Hidrasi yang Terencana: Tubuh manusia membutuhkan setidaknya dua liter air per hari. Selama Ramadan, pola 2-4-2 (2 gelas saat berbuka, 4 gelas sepanjang malam, dan 2 gelas saat sahur) sangat disarankan untuk mencegah dehidrasi.
• Nutrisi Seimbang saat Sahur: Hindari karbohidrat sederhana yang cepat diserap tubuh. Pilihlah makanan tinggi serat seperti gandum, sayuran, dan protein yang memberikan energi lebih lama (efek kenyang lebih lama).
• Konsultasi Medis Dini: Bagi pengidap penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi, berkonsultasi dengan dokter melalui layanan telemedicine sangat penting untuk menyesuaikan dosis obat dan jadwal konsumsi selama berpuasa.
(miq/miq)[Gambas:Video CNBC]
Foto: Halodoc Talks by Halodoc di Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026). (CNBC Indonesia/Linda Sari Hasibuan)