Aplikasi Kematian Lagi Tren di China, Mayoritas Pengguna Anak Muda
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah aplikasi dengan nama kelam mendadak viral di China. Aplikasi bernama Are You Dead? ramai diunduh oleh anak muda, terutama mereka yang hidup sendirian di kota-kota besar.
Konsep aplikasi ini sederhana. Pengguna diminta melakukan check-in setiap dua hari sekali dengan menekan tombol besar di layar sebagai tanda bahwa mereka masih hidup.
Jika pengguna tidak melakukan check-in, aplikasi akan otomatis menghubungi kontak darurat yang telah ditentukan untuk memberi peringatan bahwa pemilik akun kemungkinan sedang dalam kondisi berbahaya.
Aplikasi tersebut diluncurkan pada Mei tahun lalu tanpa banyak perhatian publik. Namun dalam beberapa pekan terakhir, popularitasnya melonjak tajam dan menjadikannya aplikasi berbayar paling banyak diunduh di China, seiring meningkatnya jumlah anak muda yang tinggal sendiri di kawasan urban.
Fenomena ini tak lepas dari perubahan struktur rumah tangga di China. Mengutip laporan media pemerintah Global Times, lembaga riset memperkirakan jumlah rumah tangga satu orang di China bisa mencapai 200 juta unit pada 2030.
Aplikasi Are You Dead? menyasar kelompok tersebut. Dalam deskripsinya, aplikasi ini menyebut diri sebagai teman pendamping keselamatan bagi pekerja kantoran lajang, mahasiswa perantauan, dan siapa pun yang memilih hidup sendiri.
"Orang yang tinggal sendiri di tahap hidup apa pun membutuhkan sesuatu seperti ini, termasuk introvert, mereka yang mengalami depresi, pengangguran, dan kelompok rentan lainnya," tulis salah satu pengguna di media sosial China dikutip dari BBC, Senin (26/1/2026).
Pengguna lain mengungkapkan ketakutan yang lebih mendalam. "Ada rasa takut bahwa orang yang hidup sendiri bisa meninggal tanpa ada yang tahu. Kadang saya berpikir, kalau saya meninggal sendirian, siapa yang akan menemukan jenazah saya?" tulisnya.
Salah satu pengguna, Wilson Hou (38), mengatakan alasan itulah yang mendorongnya mengunduh aplikasi tersebut. Ia bekerja di Beijing, sekitar 100 kilometer dari keluarganya. Meski pulang menemui istri dan anaknya dua kali seminggu, ia mengaku kerap tidur di lokasi proyek.
"Saya khawatir kalau terjadi sesuatu, saya bisa meninggal sendirian di tempat tinggal saya dan tidak ada yang tahu. Karena itu saya mengunduh aplikasi ini dan menetapkan ibu saya sebagai kontak darurat," ujarnya.
Meski populer, aplikasi ini juga menuai kritik. Sejumlah warganet menilai nama "Are You Dead?" terlalu menyeramkan dan dianggap membawa sial. Ada pula yang menyarankan agar namanya diganti menjadi lebih positif, seperti "Are You OK?" atau "How Are You?"
Perusahaan pengembang aplikasi, Moonshot Technologies, menyatakan tengah mempertimbangkan masukan tersebut dan membuka kemungkinan mengganti nama aplikasi.
Secara internasional, aplikasi ini terdaftar dengan nama Demumu dan menempati peringkat dua besar aplikasi utilitas berbayar di Amerika Serikat, Singapura, dan Hong Kong, serta masuk empat besar di Australia dan Spanyol. Popularitas global ini diduga turut didorong oleh warga China yang tinggal di luar negeri.
Aplikasi ini awalnya diluncurkan secara gratis, namun kini masuk kategori berbayar dengan harga 8 yuan per unduhan. Meski relatif murah, nilai bisnisnya melonjak signifikan.
Salah satu pendirinya, yang dikenal sebagai Mr Guo, mengatakan pihaknya berencana menghimpun pendanaan dengan menjual 10% saham perusahaan senilai 1 juta yuan. Ini jauh lebih besar dibandingkan biaya awal pengembangan aplikasi yang disebut hanya sekitar 1.000 yuan.
Ke depan, pengembang juga berencana memperluas target pasar dengan mengembangkan produk khusus untuk lansia, seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di China. Saat ini, lebih dari seperlima populasi China berusia di atas 60 tahun.
Dalam unggahan terbarunya, perusahaan mengajak publik memberi perhatian lebih kepada lansia yang hidup sendiri. "Mereka memiliki mimpi, keinginan untuk terus hidup, dan layak untuk dilihat, dihormati, serta dilindungi," tulis pengembang.
(hsy/hsy)[Gambas:Video CNBC]