Waspada! Asam Urat Jadi Penyebab Meninggalnya Pendiri AS

Lifestyle - MFakhriansyah, CNBC Indonesia
26 January 2023 09:35
Benjamin Franklin (Getty Images/GraphicaArtis) Foto: Benjamin Franklin (Getty Images/GraphicaArtis)

Jakarta, CNBC Indonesia - Asam urat sering disebut sebagai penyakit orang kaya. Sebab, sejarah mencatat pada zaman dulu penyakit ini banyak diderita oleh raja-raja karena mereka paling sering mengonsumsi makanan laut, yang merupakan salah satu makanan pemicu asam urat. 

Dalam dunia medis, penyakit asam urat adalah kondisi yang disebabkan oleh naiknya kadar asam urat dalam darah. Penyakit ini menyerang persendian, terutama sendi jempol kaki.

Meski gejala utamanya adalah nyeri dan pembengkakan di persendian, asam urat bisa menimbulkan komplikasi penyakit. Sudah tidak terhitung berapa juta manusia meninggal akibat komplikasi penyakit ini. Sebut salah satunya Benjamin Franklin.

Franklin adalah politisi Amerika Serikat. Dia juga dikenal sebagai pejuang yang membebaskan AS dari tangan kolonialis Inggris. Upaya ini mengantarkannya menjadi salah satu pendiri atau founding father yang menandatangani teks proklamasi AS, Declaration of Independence.

Tak hanya politik, Franklin juga menggeluti dunia kesehatan. Sebagai ilmuwan, dia turut berkontribusi memberi masukan, salah satunya tentang pola konsumsi manusia atau diet. Namun, kontribusinya itu justru tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya dia adalah sosok penyakitan.

Lina Gensel secara khusus membahas kesehatan Franklin dalam riset "The Medical World of Benjamin Franklin" (Royal Society, 2005). Dalam penelusuran Lina, Franklin mulai penyakitan sejak usia 50 tahun. Di usia tersebut dia beberapa kali pernah mengirim surat kepada keluarganya tentang penyakit yang dialaminya. Selain masalah pernapasan yang memang sudah dideritanya sejak masih muda, tiap bangun tidur dia selalu merasa sakit di bagian kaki dan tangan. Kelak, diketahui kalau nama penyakitnya adalah asam urat.

Namun, rasa sakit itu hilang-timbul. Alhasil, dia cukup melupakannya. Terlebih dia juga sibuk sehingga tidak ada cukup waktu untuk memikirkan sakitnya. Parahnya, pada saat bersamaan, Franklin tidak menjaga asupan makanan. Dia sering makan daging dan kerap mabuk. Wine adalah minuman favoritnya. Gaya hidup ini kemudian jadi bom waktu bagi diri Franklin sendiri.

Dari segi medis masa kini, asam urat memang menghantui manusia seumuran Franklin. Dia malah masuk kategori rentan: laki-laki, sudah tua, dan kerap bersentuhan dengan zat kimia.

Saat memasuki kepala tujuh, barulah dia mulai merasakan sakit teramat. Asam uratnya jadi lebih sering kambuh. Lantas dia menjalani terapi tradisional ketika berkunjung ke Paris. Namun, itu semua terlambat. Tingginya kadar asam urat berdampak pada komplikasi. Ginjalnya rusak. Sudah ada batu di ginjal Franklin yang terbentuk dari proses pengkristalan.

Pada usia 82 tahun, Franklin sudah tidak kuat. Tidak hanya sakit persendian, dia juga sering mengalami nyeri di bagian perut bawah, serta kencing darah dan batu. Akibatnya dia lebih sering menghabiskan waktu di tempat tidur.

Dokter menduga ini dari batu ginjalnya yang semakin membesar. Namun, dokter tidak berani melakukan tindakan operasi pengangkatan batu. Akibatnya, dia terpaksa harus menahan rasa sakit teramat di usia tua. Dia pun tobat dan ingin mengubah gaya hidupnya.

"Ketika makan, saya sudah menghindari wine dan daging. Sekarang lebih sering olahraga ringan," katanya dalam surat kepada temannya di tahun 1787.

Hingga akhirnya, pertarungan Franklin melawan asam urat serta komplikasi penyakit lainnya berakhir pada 17 April 1790. Pada tanggal tersebut dia meninggal dunia dengan diagnosis pneumonia dan kerusakan ginjal yang tentu akibat asam urat.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Jangan Dimakan! 5 Sayuran Ini Bisa Bikin Asam Urat Kambuh


(hsy/hsy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading