FOTO

Geliat Usaha Rokok Linting di Tengah Kenaikan Cukai Tembakau

1 dari 8
Stop Slideshow

Noah penjual tembakau linting Kamarasa melayani pembeli di kawasan Pondok Cabe Pamulang, Selasa (4/1/2022). Rokok linting atau linting dewe (tingwe) kini semakin diminati masyarakat, tidak hanya oleh kalangan tua, tetapi juga anak muda.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Stop Slideshow

Geliat rokok linting yang dianggap "jadul", sekarang dapat bersaing dengan eksistensi rokok elektrik (vape). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Stop Slideshow

Sangga pemilik usaha ini telah menjual tembakau sejak 2020 di kawasan pondok cabe. "Usaha ini saya mulai sejak satu tahun lebih sebelum harga rokok naik," katanya. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Stop Slideshow

"Sekarang udah dari banyak kalangan yang beli dari anak muda sampai bapak-bapak," sambungnya. Iya mengaku sejak wacana rokok naik banyak orang yang pindah ke rokok linting karena harga jauh lebih murah. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Stop Slideshow

"Pandemi ini membuat banyak orang meningkatkan stok tembakau, sehingga penjualan pun meningkat apalagi tahun ini rokok mau naikkan," kata Sangga. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Stop Slideshow

Penjual tembakau linting tersebut mengatakan ada dua kriteria langganan yang sering belanja di tokonya. "Kalau tembakau itu ada dua kriteria pembeli, antara yang ingin hemat atau yang nyari rasa," ucapnya. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Stop Slideshow

Untuk harga tembakau di sini dijual Rp5.000 untuk harga normal dan adapun harga yang paling mahal mencapai Rp 25.000 untuk rasa Marlboro. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Stop Slideshow

Sebelumnya diberitakan akan terjadi karena kenaikan cukai hasil tembakau. Rata-rata kenaikan cukai untuk produk tembakau adalah 12%, dan untuk SKT sebesar 4,5%. Rokok yang mengalami kenaikan harga jual termahal di 2022 adalah jenis SPM I. Tarif cukai untuk rokok SPM I per batang melonjak 13,9% dari Rp935 menjadi Rp1.065. Harga Jual Eceran (HJE) terendah untuk rokok SPM I per batang dipatok Rp2.005 atau Rp 40.100 per bungkus (20 batang). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)