Hari Kesehatan Dunia

Kehadiran MRT Bantu Warga Ubah Pola Hidup Jadi Pejalan Kaki

Lifestyle - Fikri Muhammad, CNBC Indonesia
07 April 2019 12:26
Kehadiran MRT Bantu Warga Ubah Pola Hidup Jadi Pejalan Kaki
Jakarta, CNBC Indonesia - Ika adalah salah satu warga Jakarta yang memanfaatkan transportasi umum untuk kegiatan harian. Bagi wanita yang menjadi pemilik blog travel dan kuliner, kemajuan transportasi publik mendukung aktivitasnya. Seperti komuter, MRT, dan TransJakarta.

Tidak mudah bagi Ika supaya orang mau jalan kaki. Tapi kemunculan MRT merupakan proses warga DKI untuk mengubah pola hidupnya. Pejalan kaki yang terhubung dengan tranportasi umum seperti MRT justru meningkatkan kesehatan dan membuat pikiran jadi lebih fresh.

Selain itu, menggunakan MRT juga mendukung perubahan iklim yang sedang terjadi. Ika berpendapat bahwa hal ini dapat mengurangi polusi udara dari kendaraan pribadi, hemat ongkos, dan serba efisien.


"Dengan menaiki transportasi umum kita ikut menjaga iklim karena polusi udara. Kedua lebih hemat dan tidak capek dan lebih efisien dengan MRT. Karena rumah saya lewat MRT jadi sekarang ga mikir macet ga capek nyetir dan hemat. Rumah saya di Cipete Raya," Ika pada CNBC Indonesia di Terowongan MRT, Thamrin, Jakarta Pusat (4/4/2019).




Ika juga mengajak masyarakat supaya sering menggunakan transportasi umum. Dengan adanya MRT, Komuter, dan TransJakarta makin membuat nyaman para pejalan kaki menurutnya. Jadwal keberangkatan tiap transportasi umum juga berdekatan. Namun Ika mewanti-wanti supaya menggunakan transportasi umum dengan bijak. Karena itu miliki masyarakat bersama.

Adapun Diona yang juga seorang freelancer yang menulis untuk artikel-artikel tentang interior meyakini dampak MRT untuk proses pola hidup menjadi pejalan kaki. Diona tinggal di Cinere, hari itu ia ingin pergi ke Kota untuk menghadiri event di Museum Sejarah. Dari rumahnya ke ia naik ojek online lanjut naik MRT Di Lebak Bulus ke Bundaran HI. Baru nanti disambung dengan TransJakarta menuju Kota.

Diona memang tidak 100 persen menggunakan transportasi publik. biasanya pada weekdays dia menggunakan transportasi publik dan weekend untuk transportasi pribadi. Walaupun rumahnya terletak di kawasan sub-urban, dirinya merasa senang untuk mengubah pola hidup dari pengguna transportasi pribadi ke transportasi umum.

Walaupun ada fase dimana jalan kaki begitu melelahkan karena faktor cuaca yang panas. Namun stigma itu perlu dikesampingkan. Banyak keuntungan yang didapat bagi pengguna transportasi umum baginya.

"Mungkin faktor malas karena panas harus dikesampingkan. Kalau saya sih jalan kaki lucu aja, kadang ada objek-objek yang bisa saya foto. Atau melihat spot-spot yang unpredictable. Terkadang juga untuk me time sambil dengar musik. Jalan kaki ada enaknya juga kok. Dan ini men-support apa yang sudah dibuat oleh pemerintah oleh kita. Kalau pake pribadi kan ribet mesti mikirin parkir," kata Diona pada CNBC Indonesia (4/4/2019).

Pola hidup baru juga ada pada Dwitya yang seorang wiraswasta asal Serpong. Ia pelan-pelan menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi. Dwitya biasanya memarkir mobilnya di kawasan dekat tranportasi publik, baru nanti mulai komuting.

Saat bertemu CNBC Indonesia Dwitya ingin menghadiri meeting di kawasan HI. Kehadiran transportasi umum seperti MRT menurutnya memberikan rasa keamanan dan kenyamanan. Tak hanya itu, TransJakarta dan Bis Gratis juga memiliki nilai yang sama.

Walaupun menjadi pejalan kaki terkadang membuatnya tidak nyaman dengan keberadaan sepeda motor dan pedagang di trotoar. Ia terganggu dengan hal-hal minor yang acap kali menimpanya.

"Minor sih, maksudnya nggak pernah sampai yang parah seperti kecopetan. Tapi biasalah terganggu dengan motor lewat. Mesti zig zag karena ada yang berjualan. Bau yang tak sedap juga ada. Tapi other than that masih minor lah," ucap Dwitya santai pada CNBC Indonesia (4/4/2019).

Pun menggunakan transportasi publik perlu dicoba menurut Dwitya. Ia juga berpesan pada masyarakat supaya memanfaatkan moda transportasi umum yang sudah ada.

"It's worth to try lah. Buat buat fisik kita juga bagus. Lebih ngirit juga. Trust me, kita pake public transportation gada ruginya. Cuman emang sarananya belom seluas itu. Tapi kalo misalnya kita kerja di Sudirman, Thamrin, dan Senayan udah worth it lah kepakai. Kita udah bisa kaya di luar negeri. Cuman kalo ke daerah lain nggak sebagus itu sih," katanya.

Sementara itu, Koalisi Pejalan Kaki juga pernah melakukan riset tentang Walk Ability Index di Kota Jakarta pada tahun 2010 dan 2014. Riset itu menemukan bahwa kelayakan sebuah kota bagi pejalan kaki hanya 43 dari 100 persen. Bahkan ditempat-tempat pendidikan seperti sekolah hanya 38 persen. Itu berbanding jauh dengan kota-kota Asia yang memiliki 58 persen.

Ahmad sebut pemerintah Hong Kong sebagai contoh negara yang memenuhi Walk Ability Index yang memadai karena basement di gedung perkantoranya saling terhubung satu sama lain untuk Pedestrian Crossing. Nilai Walk Ability Index nya bahkan mencapai hampir 90 persen. Saat ini, baru MRT yang mulai jalur bawah tanah untuk akses pejalan kaki di bawah tanah.

Poin penilaian dari Walk Ability Index ini ialah keberadaan fasilitas pejalan kaki. Lebih mengerucut lagi ialah soal fungsi dan kapabilitas trotoar di sebuah wilayah. Tidak melulu berbicara tentang trotoar yang lebar atau tidak. Tapi dihitung bagaimana trotoar itu bisa memadai untuk wilayah yang padat penduduk atau tidak.

"Apa yang menjadi penilaian di Walk Ability Index adalah fasilitas pejalan kaki ada atau tidak. Trotoar nggak harus lebar tapi harus di cek dalam per hari atau per jam berapa orang yang lewat. Katakanlah lebar trotoar 120 cm. Itu bisa memadai atau tidak. At least, pengguna kursi roda bisa lewat dan crowded-nya cukup. Intinya, Walk Ability Index tinggi kalau akses pejalan kakinya gampang," ucap Ahmad Syafruddin, Founder Koalisi Pejalan Kaki di Kantornya, Sarinah (4/4/2019).

Selain itu, Ahmad juga bertutur pentingnya jaminan keselamatan bagi pengguna transportasi umum dan pejalan kaki. Tragedi Maut Friyani yang menabrak belasan orang menjadi perhatian khusus bagi Koalisi Pejalan Kaki. Hingga 22 Januari ditetapkan sebagai Hari Pejalan Kaki Nasional dari Koalisi Pejalan Kaki.

Ahmad menambahkan selayaknya trotoar dibuat pembatas semacam tiang pancang yang bisa menghalau pengendara bermotor dan mencegah masuknya kendaraan itu ke trotoar.



(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading