Wawancara Eksklusif

Anthony Reid: Idealisme Masa Muda dan Mencintai Indonesia

Lifestyle - Fikri Muhammad, CNBC Indonesia
24 March 2019 07:00
Anthony Reid: Idealisme Masa Muda dan Mencintai Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Anak bernama Anthony Reid lahir pada 19 Juni 1939 di Selandia Baru. Ayahnya adalah seorang diplomat di negara itu. Siapa sangka bahwa dirinya menjadi sejarawan yang mendapat penghargaan Fukuoka Prize for Asian Culture (Academic) dan The Life Time Achievement Award of the Association of Asian Studies.

Anthony kecil berpindah-pindah sekolah. Ia pernah tinggal di Washington DC, Amerika Serikat. Menginjak umur 13 tahun, dia pindah ke Indonesia. Karena ayahnya juga bekerja sebagai perwakilan Selandia Baru untuk Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jakarta pada 1952.

Sebagai bocah berumur 13 tahun, Anthony merasa bahwa dirinya tidak terlalu bagus menyerap hal baru. Ia pulang lebih awal dari saudara perempuanya. Anthony mengira mungkin orang tuanya merasa bahwa ia tidak mempunyai masa-masa indah di Indonesia. Ia merasa bahwa dirinya dianggap gagal. Tetapi, dirinya tidak ingin dianggap seperti itu. Dia banyak tahu soal Indonesia.


Setelah masuk bangku kuliah di Victoria University of Wellington, Anthony bertemu dengan orang-orang idealis pada generasinya. Mereka bereaksi untuk melawan kolonialisme, rasisme, dan British. Di Selandia Baru dan Australia, generasi tua merasa bahwa dirinya adalah bagian dari Kerajaan British. Mereka punya ratu, persatuan, bendera British, dan lagu kebangsaan British.

Tapi tidak untuk para pemuda idealis seperti Anthony dan teman-temannya. Menurut mereka Indonesia justru lebih baik karena melewati proses revolusi kemerdekaan. Mahasiswa di generasinya bahkan sukarela untuk mengabdi dan bekerja di Indonesia selama beberapa minggu. Walaupun gaji yang didapat tidak seberapa.

Anthony pun ingin melakukan hal yang sama seperti mahasiswa lainya. Namun, selama menjadi mahasiswa S1, dia tidak mendapatkan kesempatan itu. Anthony baru mau mencoba setelah tamat PhD di Universitas Cambridge, Inggris. Namun, saat itu Soekarno tertutup pada kedatangan orang asing, khususnya British.

Anthony yang saat itu tinggal di Malaysia mendapatkan ajakan untuk pergi ke Sumatera. Dari temanya seorang pengusaha. Anthony berpikir mungkin temanya itu bisa mencoba menyiasati peraturan. Atau mungkin bisa kongkalikong dengan AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

Saat ini, Anthony merasa bahwa generasi sekarang di Australia maupun Selandia Baru sudah berubah, berbeda dengan idealisme pada generasinya. Jika generasinya melihat bahwa Indonesia adalah negara tetangga mempunyai semangat juang. Justru generasi sekarang tidak terlalu menggebu-gebu tentang Indonesia.

Setelah menyelesaikan pekerjaan formalnya di Singapura, Anthony pulang ke Canberra (Australia) untuk bertemu para koleganya. Ia mendapati bahwa di sana studi tentang Asia Tenggara sekarang sudah diragukan. Ia tak menyangka bahwa subjek studi yang menarik itu justru sepi peminat.
Pemuda Australia sekarang sudah biasa pergi ke Bali. Membeli barang-barang dengan harga murah atau sekadar mabuk.

"Saya sedikit depresi bahwa pemuda Australia sekarang tidak terlalu tertarik pada Indonesia atau Asia Tenggara. Maka, saya mencoba menjelaskan pada diri saya sendiri bahwa the neighbor have become 'biasa'. Mungkin sama kondisinya seperti apa yang dilakukan pada negara maju terhadap tetangganya yang lebih miskin. Seperti orang Amerika yang bepergian ke Meksiko misalnya," ucap Anthony dalam wawancara khusus dengan CNBC Indonesia di Museum Nasional, Jakarta (21/3/2019).



Supir taksi
Sebelum membahas kisah supir taksi, Anthony sempat menjelaskan mengenai definisi tentang sejarawan menurut versinya. Sejarawan adalah seseorang yang mencoba kembali pada masa lalu yang konstruktif dan penuh makna. Sejarawan perlu berhati-hati. Ia tidak boleh bertindak dini, sampai mendapatkan sumber yang betul-betul pasti. Baik yang tertulis ataupun tak tertulis.

Anthony sangat menyayangkan jika suatu negara mencoba memotong atau menghapus sejarah yang dimilikinya. Ketika kekuasaan justru menghilangkan memori yang pernah bersarang di sana. Walaupun terkadang bagian sejarah itu memalukan bahkan dilarang.

Seperti misalnya Indonesia yang berhenti mempelajari kolonialisme. Anthony menganggap mungkin Indonesia tidak belajar tentang Belanda secara mendalam karena ada anggapan negatif tentang masa lalu. Ia tak heran karena sistem pendidikan Indonesia yang membuat masyarakat berpikir demikian.

Anthony takut bahwa itu semata-mata hanya untuk membangun identitas bangsa yang baru saja. Generasi sekarang tidak belajar bahasa atau kebudayaan Belanda. Tidak seperti India yang tidak kehilangan ke Inggrisanya (dalam konotasi positif) seperti belajar bahasa atau budayanya.

Berbeda dengan Soekarno dan generasinya yang banyak bicara soal sejarah. Mereka juga banyak bicara soal Belanda. Mereka terinspirasi dari masa lalu. Mereka sangat tertarik tentang kisah Diponegoro. Tetapi pada era Soeharto, nasionalisme negara telah berubah ke arah yang negatif tentang sejarah.

"Soekarno dan generasinya sangat kreatif. Mereka bisa berbicara dan menulis dalam Bahasa Belanda, Perancis, dan lainnya. Dan mereka menggunakan itu untuk menyerang kolonialisme. Tetapi generasi selanjutnya justru tidak tahu tentang bahasa itu. Nasionalisme didefinisikan untuk melawan Belanda," ucap Anthony.

Ini terjadi saat Anthony pergi ke Medan pada akhir tahun 70-an ketika ia sedang berada di sebuah taksi. Sang supir ingin tahu apa yang Anthony lakukan? Ia pun menjawab bahwa dirinya meneliti sejarah. "Wah" kata sang supir terpana. Kemudian Anthony Reid menirukan apa yang dikatakan oleh supir tersebut.

"Waktu sekolah saya suka sejarah. Saya memiliki guru yang luar biasa, membuat pelajaran sejarah menjadi sangat menarik. Saya hanya ingin tahu tentang itu. Tapi kemudian tahun 65 datang dan sejarah pun hilang. Kemudian saya sadar, lebih baik bodoh saja, jangan terlalu pintar," Anthony yang meniru perkataan sang supir.



Tertarik Meneliti Aceh
Sebagai mahasiswa yang telah lulus magister dan sedang meneruskan kuliah untuk PhD di Cambridge, Anthony pergi ke Belanda untuk menyelesaikan disertasinya. Ia mulai membaca naskah-naskah berbahasa Belanda tentang Sumatera.

Ia sempat merasa bahwa membaca teks dalam Bahasa Belanda amatlah rumit. Namun Anthony tetap melakukan yang terbaik untuk mempelajarinya.

Ia menemukan bahwa Belanda sangat terobsesi dengan Aceh. Ada 50 dukumen yang berbicara tentang Aceh. Dari situ, Anthony menemukan subjek pertanyaan bahwa ia harus meneliti tentang Aceh. Kontestasi politik pun menjadi tema penelitianya.

Inggris yang menduduki Penang, Singapura adalah mitra dagang Aceh saat itu. Belanda sejak abad ke 7 tidak pernah memiliki hubungan dengan Aceh. Bahkan Belanda mengira bahwa Aceh itu bukan bagian dari Indonesia.

Anthony beruntung karena saat itu ia menemukan naskah tentang mata-mata Belanda. Mata-mata itu bahkan bisa menulis dalam Bahasa Inggris. Tampak sangat aneh bagi Anthony jika pria Belanda mempunyai pendidikan Bahasa Inggris saat itu.

Dalam sumber tersebut menyebutkan bahwa mata-mata tersebut harus melaporkan tiap kegiatan yang dilakukan oleh Aceh dan Penang. Kejadian ini sebelum Belanda menguasai Aceh yakni pada akhir abad 19, yakni saat Belanda mengalami kekalahan pada Maret 1873. Belanda saat itu harus mempersiapkan ekspedisi keduanya pada bulan November.

Mereka harus mencoba memahami apa yang terjadi di Aceh untuk menaklukanya. Memata-matai Penang adalah cara yang terbaik karena itu memberikan panduan jalan menuju Aceh. Selain itu, Anthony sangat tertarik pada Aceh karena memiliki semangat juang yang tinggi.

"Aceh benar-benar berjuang mereka tidak ingin bekerja sama dengan Belanda. Aceh adalah aktor independen yang setara dengan Inggris dan Belanda. Mereka menarik bagi orang Amerika," tutur Anthony Reid.

Anthony Reid: Idealisme Masa Muda dan Mencintai Indonesia Foto: Professor Anthony Reid (anu.edu.au)




(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading