Jangan Kaget! Rupiah Bakal Ngamuk Hari Ini

Investment - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
11 November 2022 08:10
Pekerja pusat penukaran mata uang asing menghitung uang Dollar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo di Melawai, Jakarta, Senin (4/7/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Ilustrasi dolar Amerika Serikat (AS). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah 0,2% ke Rp 15.690/US$ Kamis kemarin, sekaligus mengakhiri penguatan dalam 3 hari beruntun. Namun, pada perdagangan Jumat (11/11/2022), rupiah berpeluang menguat tajam melihat indeks dolar AS yang jeblok hingga 2,1% ke 108,20, dan berada di level terendah sejak pertengahan Agustus lalu.

Jebloknya indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tersebut terjadi pasca rilis data inflasi yang menunjukkan penurunan tajam.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (10/11/2022) melaporkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) tumbuh 7,7% year-on-year (yoy). Pertumbuhan tersebut jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya 8,2% (yoy).

Inflasi tersebut sudah mulai menurun sejak Juli lalu, semakin menjauhi rekor tertinggi 40 tahun di 9% yang dicapai pada Juni lalu.

CPI inti dilaporkan tumbuh 6,3% (yoy), turun dari Oktober 6,5% (yoy).

Pasca rilis tersebut, pelaku pasar melihat The Fed akan mengendurkan laju kenaikan suku bunganya pada bulan depan.

Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, probabilitas suku bunga naik 50 basis poin menjadi 4,25% - 4,5% pada Desember kini sebesar 90%, naik jauh dari hari sebelumnya 56%.

Seperti diketahui, The Fed sebelumnya sudah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin empat kali beruntun hingga suku bunga saat ini menjadi 3,75% - 4%.

Secara teknikal, rupiah yang disimbolkan USD/IDR terus tertekan sejak menembus ke atas rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA50).

MA 50 merupakan resisten kuat, sehingga tekanan pelemahan akan lebih besar ketika rupiah menembusnya.

Rupiah kini sudah berada di atas Rp 15.450/US$ yang merupakan Fibonacci Retracement 38,2%.

idrGrafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv 

Level tersebut bisa menjadi 'gerbang keterpurukan' bagi rupiah, selama tertahan di atasnya. Terbukti, rupiah terus tertekan setelah menembus level tersebut.

Fibonacci Retracement tersebut ditarik dari titik terendah 24 Januari 2020 di Rp 13.565/US$ dan tertinggi 23 Maret 2020 di Rp 16.620/US$.

Selama tertahan di atas Fibonacci Retracement 32,5% tersebut rupiah berisiko terpuruk semakin jauh, menuju Rp 16.000/US$ atau di kisaran Rp 15.900/US$ yang merupakan FIb. Retracement 23,6%.

Resisten terdekat hari ini berada di kisaran 15.700/US$, jika ditembus rupiah berisiko menuju Rp 15.730/US$ - Rp 15.750/US$.

Indikator Stochastic pada grafik harian sudah cukup lama berada di wilayah jenuh beli (overbought), juga memberikan peluang penguatan.

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

idrGrafik: Rupiah 1 Jam
Foto: Refinitiv

Indikator stochastic pada grafik 1 jam yang digunakan memproyeksikan pergerakan harian, juga berada di dekat wilayah overbought, sehingga peluang penguatan menjadi besar.

Support terdekat berada di kisaran Rp 15.650/US$, jika berhasil ditembus rupiah berpotensi menguat ke Rp 15.620/US$ - 15.600/US$. Rupiah bisa menguat lebih jauh jika menembus ke bawah Rp 15.600/US$.


[Gambas:Video CNBC]

(pap/pap)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Artikel Terkait
LAINNYA DI DETIKNETWORK
    spinner loading
Features
    spinner loading