InvesTime

Tapering Akhir Bulan, Boleh Diserok Saham Sektor-sektor Ini?

Investment - Lidya Julita Sembiring, CNBC Indonesia
11 November 2021 13:15
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed mengumumkan akan melakukan tapering atau pengurangan pembelian aset obligasi di pasar global mulai akhir bulan ini. Hal ini dinilai tentu mempengaruhi pasar saham terutama di Indonesia.

Pengaruh tapering tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang fluktuatif. Meski demikian, koreksi saham masih jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya yakni masih di level 6.500.

Bahkan awal perdagangan Kamis ini (11/11/2021), IHSG menembus rekor tertinggi sepanjang masa, yakni 6.704, kendati perlahan berkurang kenaikannya menjadi +0,07% di 6.690 pada pukul 09.49 WIB.


Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, meski terjadi tapering di akhir bulan ini, masih ada sektor-sektor saham yang bisa diperhatikan oleh para investor.

Sektor tersebut berpeluang masih bisa menguat jelang akhir tahun ini, meski tidak signifikan.

"Kalau kita lihat saat ini sektor-sektor yang bisa menjadi perhatian tetap komoditas, teknologi, perbankan baik bank besar, digital maupun mini. Itu masih harus jadi perhatian. Kemudian ada juga sektor transportasi dan logistik," ujarnya dalam program Investime CNBC Indonesia, dikutip Kamis ini (11/11).

Menurutnya, selain sektor-sektor saham tersebut, yang perlu dilihat karena sangat menjanjikan dan perlu dipertimbangkan untuk investasi adalah saham-saham sektor energi.

"So far kami melihat sektor-sektor ini yang masih akan mendominasi sampai bulan Desember nanti," kata dia.

Kemudian, khusus sektor komoditas meski masih mendominasi sampai akhir tahun ia menyarankan untuk menjualnya selama masih ada kesempatan. Apalagi kenaikan harga sahamnya sudah cukup tinggi sebelumnya, sehingga berpotensi investor merealisasikan keuntungan.

Apalagi China mengatakan akan melakukan intervensi agar harga batu bara tidak mengalami kenaikan terlalu tajam. Artinya ini ada sentimen yang bisa membuat harga saham sektor komoditas (khususnya batu bara) turun meski masih lebih tinggi dari harga wajar.

"Ini harus diperhatikan sentimen-sentimen kecil tapi melekit. Jadi hati-hati pilih sektornya, jangan sampai kita salah pilih sampai akhir tahun nanti," kata dia.

Sementara itu, ia pun menyarankan beberapa saham yang patut untuk dikoleksi dari sektor-sektor yang disebutkan tadi.

Pertama untuk saham sektor teknologi, ia menyarankan saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan induk Grup Emtek, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK). Emtek juga memiliki saham tak langsung di Bukalapak.

Menurutnya, kedua saham tersebut memiliki harga yang lebih rendah dari saat harga penawaran umum saham perdana atau IPO (initial public offering).

Bagi investor yang tidak suka dengan volatilitas harga tinggi, maka tidak disarankan untuk mengoleksi BUKA dan sebaiknya pilih Emtek.

"Emtek kami melihat ada potensi peluang di masa mendatang, apalagi Emtek sekarang berada di bawah Rp 2.000 per saham," kata dia.

Selain itu, saham yang dinilai patut dikoleksi adalah sektor infrastruktur seperti saham emiten PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Apalagi Telkom berencana membawa anak usaha untuk melakukan IPO, yakni PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel).

"Dan nanti ada anak usaha Telkom. Ini bisa jadi salah satu penambahan pilihan di mana kita bisa berinvestasi," tuturnya.


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading