InvesTime

Sektor Properti Masih Berat, Tahun Depan Rebound?

Investment - Anisatul Umah, CNBC Indonesia
28 October 2021 11:21
Awal Desember 2017, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mencatat capaian Program Satu Juta Rumah sebanyak 765.120 unit rumah, didominasi oleh pembangunan rumah bagi  masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebesar 70 persen, atau sebanyak 619.868 unit, sementara rumah non-MBR yang terbangun sebesar 30 persen, sebanyak 145.252 unit.
Program Satu Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo, sekitar 20 persen merupakan rumah yang dibangun oleh Kementerian PUPR berupa rusunawa, rumah khusus, rumah swadaya maupun bantuan stimulan prasarana dan utilitas (PSU), 30 persen lainnya dibangun oleh pengembang perumahan subsidi yang mendapatkan fasilitas KPR FLPP, subsisdi selisih bunga dan bantuan uang muka. Selebihnya dipenuhi melalui pembangunan rumah non subsidi oleh pengembang.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Junaidi Abdillah mengungkapkan, rumah tapak masih digemari kelas menengah ke bawah.
Kontribusi serapan properti oleh masyarakat menengah ke bawah terhadap total penjualan properti mencapai 70%.
Serapan sebesar 200.000 unit ini, akan terus meningkat pada tahun 2018 menjadi 250.000 unit.

Jakarta, CNBC Indonesia - Properti menjadi salah satu sektor yang terdampak akibat pandemi Covid-19. Bahkan tahun ini menjadi tahun-tahun yang berat bagi sektor ini.

Pengamat Properti Panangian Simanungkalit mengatakan penjualan properti di Kuartal IV tahun ini akan lebih baik daripada Kuartal I-III. Karena pemberlakuan PPKM semakin ke sini sudah semakin longgar dan Covid-19 mulai terkendali.

"Secara umum akan lebih baik (Kuartal IV) karena PPKM-nya kan sudah semakin lama semakin smooth Kuartal III harusnya akan berikan efek lebih bagus dari Kuartal II," ungkapnya dalam InvesTime CNBC Indonesia, Rabu malam, (27/10/2021).

Dia menjelaskan pada Kuartal II penjualan properti masih terpukul. Dari pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) 4,5-5%, imbuhnya, diharapkan Kuartal III dan Kuartal IV ini akan terjadi perbaikan.

"Ada orang ramalkan ada gelombang ketiga Januari Februari dengan pengalaman sekarang epidemiolog yang berikan pandangan gelombang tiga gak lebih berat dari gelombang pertama," jelasnya.

Menurutnya penambahan kasus aktif per hari saat gelombang pertama sekitar 18.000 an lebih rendah dari gelombang kedua yang mencapai 60.000 an kasus. Jika terjadi gelombang tiga maka diperkirakan tidak akan separah kejadian di gelombang-gelombang sebelumnya.

"Pengalaman pemerintah sedemikian bagus, artinya sudah pengalaman hadapi gelombang pertama, setelah itu akan pulih lagi. Kuartal III dan IV lebih baik dari Kuartal II, tapi Kuartal I tahun depan lebih baik lagi dari 2021," jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 3%, 3,5%, hingga 4% diproyeksikan akan lebih baik di tahun depan. Apalagi jika proyek Ibu Kota baru jadi, diberikan stimulus, maka pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa di atas 5%.

"Tahun depannya lagi properti akan lebih tinggi bangkitnya, inilah kenapa pemerintah jangan dulu beri tekanan pada perbaikan properti yang baru saja terjadi. Diperpanjang dulu insentif-insentifnya," pintanya.



[Gambas:Video CNBC]

(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading