Kenapa Saham-saham 'WFH' Belum Cuan Gede di Bursa RI?

Investment - Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
28 July 2021 19:14
Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan pemerintah memperpanjang PPKM Level 1-4 membuat aktivitas masyarakat berpindah ke rumah. Istilah Work From Home atau WFH pun akrab terdengar lagi.

Hal itu membuat kebutuhan akan internet meningkat dan juga membawa katalis baik bagi emiten telekomunikasi yang listed di bursa. Namun, pada kenyataannya, tak semua emiten berakhir dengan nasib yang baik di era PPKM ini.

TLKM misalnya (kode emiten PT Telkom Indonesia) mengalami performa yang kurang baik dengan mencatatkan penurunan harga saham -4,23% Year-to-Date (YTD) pada sesi I perdagangan hari Selasa, (27/7/2021) kemarin.

Tak hanya TLKM, nasib serupa juga dialami EXCL (kode emiten PT XL Axiata). Perusahaan telekomunikasi ini juga mencatatkan performa -10,99% YTD pada sesi yang sama.

Head of Research PT Panin Sekuritas Tbk, Nico Laurens, menyebut ada beberapa hal yang membuat performa perusahaan itu menurun. Pertama yakni kecilnya margin keuntungan yang diperoleh sebagai imbas dari kompetisi penawaran paket-paket bundling.




"Jadi kalau kita lihat PPKM sekarang ini kita harus lihat cycle-nya tahun lalu, di mana cycle-nya itu ramai-ramai memberikan paket tak terbatas, translasinya ke pendapatan per megabyte itu menjadi rendah," ujarnya dalam program Investime CNBC Indonesia, Senin (26/7/2021).

Kemudian, Nico juga menyebut bahwa operasional perusahaan dalam hal pemasangan jaringan kepada konsumen juga terganggu akibat PPKM ini. Hal tersebut membuat realisasi dan targetnya tidak begitu bagus.

Meski begitu, Nico menyebut bahwa saat ini masih ada ada sektor yang masih bisa bertahan dan bahkan tumbuh di era PPKM ini. Sektor itu merupakan sektor-sektor industri yang mengandalkan sistem online dan juga consumer goods.

Khusus industri yang berbasis teknologi online, ia menyebut PPKM Level 1-4 malah membuat perusahaan-perusahaan itu naik daun. Kenaikan itu terjadi karena perubahan pola perilaku masyarakat yang saat ini mengandalkan platform online untuk menunjang aktivitasnya. Ia memberikan contoh seperti bisnis bank digital

"Yang the most resilient itu mungkin yang business modelnya berubah yaa sebelum pandemi orang terbiasa dengan offline dan sekarang pindah ke online," kata Nico.

"Tapi kita lihat teknologi mostly positif yaa seperti digital bank vs conventional bank, nah digital bank itu pasti akan berakselerasi seperti AGRO (PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk) dan ARTO (PT Bank Jago Tbk) itu trennya masih positif karena business modelnya memiliki prospek yang baik," lanjutnya.



[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading