InvesTime

Pilih Mana BRI, BCA atau Bank Jago? Simak Rekomendasinya

Investment - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
23 June 2021 13:20
Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jika melirik saham perbankan terdapat sejumlah rekomendasi bagi investor untuk menempatkan dananya, terutama di saham-saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) alias big cap.

Head of Research PT Sucor Sekuritas, Adrianus Bias mengatakan saham bank kakap yang bisa jadi pilihan yakni salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang akan membentuk Holding Ultra Mikro bersama PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Dia mengatakan sinergi tiga BUMN itu dilakukan dengan cukup menarik. Sebab penggabungan usaha PNM dan Pegadaian di bawah induk BRI dilakukan melalui penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.


"Dan rights issue-nya bukan hanya untuk porsi pemerintah menginjeksi PNM dan Penggadaian, tapi juga menjaring dana dari masyarakat juga. Jadi nanti yang subscribe issue bukan hanya pemerintah tapi juga pemegang saham yang lain [publik]," kata Adrianus dalam program Investime CNBC Indonesia, Selasa (22/6/2021).

Untuk kisaran harga saham baru BBRI nantinya, dia mengatakan akan berada di level Rp 3.300, walaupun pemerintah akan memberikan panduan berkaitan dengan maksimal jumlah saham yang ditawarkan

Tapi dia mengatakan bisa saja total saham yang akan diterbitkan akan menjadi lebih rendah. Dengan begitu akan membuat valuasi saham BBri jadi lebih tinggi.

"Secara historis emiten melakukan rights issue di bawah harga pasar ada overhang untuk pergerakan di secondary market [pasar sekunder]. Ekspektasi masyarakat bisa membeli saham BBRI lebih murah lewat rights issue dibandingkan membeli di secondary market," jelasnya.

"Pemerintah kalau terlalu mahal [harga rights issue BRI] enggak ada yang subscribe [serap], rights issue-nya di bawah ekspektasi," tambah Adrian.

Sementara itu dia beralih ke perbankan BUMN versus swasta seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Namun jika harus membandingkan keduanya, dirinya akan condong dengan bank BUMN sebab valuasinya jauh lebih murah. 

Data BEI mencatat saham Bank Jago sudah melesat 272% sejak awal tahun hingga Rabu siang ini (23/6) di Rp 14.450/saham, sementara saham BBCA minus 7,24% sejak awal tahun di Rp 31.400 dan BBRI turun 4,08% sejak awal tahun di Rp 4.000/saham.

Dia menjabarkan prospek saham-saham perbankan. Menurutnya melihat growth story-nya, pemerintah pun harus turun tangan untuk menggerakkan ekonomi. Adapun dana dari pemerintah akan menguntungkan bagi bank-bank BUMN.

Sementara bank swasta bisa menjadi menarik pada saat ekonomi berada pada kondisi turun.

"Bank BUMN sudah berganti manajemen, sudah melakukan, perbaikan portofolionya dan saya pikir cukup menarik ya bank BUMN. Saya disuruh milih saya milih BUMN sekarang," ujar Adrianus.

Khusus untuk BBCA, Adrianus mengatakan bank milik Grup Djarum ini punya level psikologis support atau batas bawah terdekat di Rp 30.000/saham.

"BCA misalnya punya support kuat di Rp 30.000 dan ini psychological level jadi any level yang mendekati level tersebut saya pikir jadi kesempatan menarik untuk buy on weakness [beli saat turun]. Dan level netral-nya ada di Rp 31.200-an dan resisten [batas atas] Rp 32.500. Jadi trading antara Rp 30.000 sampai Rp 32.500."


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading