InvesTime

Mau Serok Saham IPO BUMN? Amalkan 3 Jurus Ini Sebelum Masuk

Investment - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
05 May 2021 13:25
HUT BUMN (CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara) Foto: CNBC Indonesia/Rivi Satrianegara

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) sekitar 10-15 perusahaan BUMN yang digemakan Menteri BUMN Erick Thohir sedang menjadi perbincangan hangat para investor.

Melantainya BUMN dan anak usahanya ini dianggap sebagai katalis positif bagi pasar modal sehingga diharapkan akan lebih banyak investor yang mau mengoleksi saham-saham ini.

Namun, ada beberapa hal yang menjadi kekhawatiran investor. Pasalnya pernah terjadi beberapa kali saham BUMN yang setelah melantai harga sahamnya anjlok dan bahkan belum kembali ke posisi penawaran awal IPO.


Menyikapi hal itu, SVP Research Kanaka Hita Solvera, Janson Nasrial, mengatakan bahwa investor perlu mengetahui tiga unsur penting dalam menganalisis pergerakan sang emiten newbie ini.

Pertama yaitu tematik, di mana investor harus dengan cermat melihat narasi apa yang sedang dibawa oleh perusahaan itu untuk IPO. Ia mencontohkan ada beberapa bidang yang saat ini menjadi narasi yang diterima positif oleh pasar yaitu energi terbarukan dan digitalisasi

"Saat ini misalnya memang fokus ke renewable energy jadi fokus ke hal-hal yang berbau energi terbarukan misalnya nikel atau nikel hilir. Selain Itu juga yang ada kaitannya dengan digitalisasi misalnya bank digital," ujarnya dalam acara Investime CNBC Indonesia, Selasa (4/5/2021).

Hal kedua yang harus diperhatikan adalah timing alias waktu. Timing ini menurutnya sangat penting mengingat beberapa momentum potensial selalu terjadi pada waktu yang tepat

Saat ini ia mencontohkan bahwa IPO di bulan Juni hingga Juli biasanya dipandang kurang baik oleh pasar mengingat ekspektasi kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat menarik masyarakat untuk lebih banyak mengoleksi Surat Utang Negara (SUN) dibanding saham

"Kalo mereka melantai pada bulan Juni atau Juli ini ya market sedang diterpa sentimen negatif yang cukup kencang yaitu ekspektasi kenaikan inflasi AS akibatnya adanya kenaikan yield [imbal hasil] 10 tahun jadi yang dikhawatirkan dapat menaikkan yield SUN Indonesia dan akhirnya tidak optimal karena timing-nya kurang tepat," ujarnya.

Ketiga, yaitu periode uji tuntas alias due diligence. Unsur ini dijalankan dengan menganalisa prospektus keuangan perusahaan dan bisnisnya.

Di sini para investor dapat melihat laporan keuangan perusahaan dan mulai menganalisa beberapa hal.

Selain itu, mencari informasi dari beberapa sumber mengenai emiten yang sedang dibidik juga sangat penting

"Bedah laporan keuangannya mulai dari rasio likuiditas maupun profit lalu periksa lagi prospek bisnisnya," ungkapnya.

So, sobat cuan, tertarik untuk mengoleksi saham IPO BUMN ini?


[Gambas:Video CNBC]

(tas/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading