Kalau Mulai Investasi Saham di 2021, Bisa Cuan Berapa Nih?

Investment - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
25 December 2020 16:40
Layar pergerakan perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (24/11/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurang dari satu minggu lagi kalender 2020 resmi kadaluwarsa dan tahun 2021 akan tiba. Sudah saatnya bagi kita merancang strategi investasi untuk tahun depan. Bagi Anda yang ingin berinvestasi di aset ekuitas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 

Adanya prospek pemulihan ekonomi yang lebih cerah, didukung dengan program vaksinasi Covid-19 yang semakin marak, kebijakan fiskal dan moneter ekspansif dan kemungkinan inflow dana asing dalam jumlah besar ke pasar keuangan domestik berpotensi besar mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 

Secara year to date (ytd) IHSG masih mengalami koreksi sebesar 4,9%. Secara valuasi pun sebenarnya pasar saham Indonesia masih bisa dikatakan menarik jika dibandingkan dengan negara-negara lain terutama negara maju seperti AS. 


Saat ini rata-rata rasio P/E Indonesia sedang berada di bawah rata-ratanya 10 tahunannya (12,9x vs 15,5x). Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya secara broad market, pasar di Indonesia masih terbilang undervalued. 

Namun, bukan berarti semua saham yang menjadi konstituen IHSG juga murah lho ya. Ada juga saham-saham yang saat ini sudah ditransaksikan secara premium relatif terhadap valuasinya.

Valuasi yang masih menarik dan murah juga didukung dengan indikator Buffett. Hingga penutupan pada perdagangan terakhir, Rabu (23/12/2020) lalu, nilai kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp 6.858 triliun atau setara dengan US$ 484,6 miliar. 

Apabila tahun ini PDB Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,2% (yoy) maka nilai output perekonomian RI untuk tahun 2020 mencapai US$ 1,18 triliun di harga konstan. Dengan asumsi inflasi sebesar 1,6% (year on year/ yoy) tahun ini maka diperoleh PDB nominal untuk tahun ini US$ 1,2 triliun.

Itu artinya rasio kapitalisasi pasar IHSG terhadap PDB RI pada 2020 sebesar 40,4%. Rasio tersebut masih di bawah rata-rata 10 tahun terakhir di 41,39% dan masih masuk kategori yang terbilang valuasi yang netral.

Menggunakan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 4%-5% untuk tahun depan, adanya dividend yield sebesar 2,5% dan kontribusi kembalinya rasio kapitalisasi pasar IHSG terhadap PDB ke rata-rata 10 tahunnya sebesar 1%, maka baseline scenario untuk expected return dari investasi saham di dalam negeri bisa mencapai 8,5%.

Dengan angka tersebut dan asumsi IHSG akan berada di level 6.000 sampai akhir tahun ini, maka target IHSG untuk tahun depan untuk baseline scenario-nya adalah ke 6.510. Bank investasi global JP Morgan bahkan lebih bullish. Bank asal Wall Street itu bahkan menyebut IHSG bisa ke 6.800 untuk tahun depan. 

Imbal hasil dari saham tersebut juga masih lebih baik dari proyeksi return dari pasar uang yang berkisar di angka 4% dan obligasi atau pendapatan tetap di 6%-8%. 

Beberapa sektor tercatat memiliki sentimen positif untuk tahun 2021 adalah sektor perbankan. Selain adanya aspek perbaikan ekonomi investor dan pelaku pasar juga perlu mencermati maraknya aksi korporasi di sektor ini untuk melakukan perombakan model bisnis menjadi bank digital.

Sektor komoditas baik pertambangan dan pertanian juga mendapat angin segar akibat membaiknya prospek harga komoditas seiring dengan pemulihan ekonomi global. Sektor batu bara dan sektor tambang terutama untuk emiten yang memiliki tambang nikel juga masih terbilang menarik. Begitu juga dengan emiten CPO.

Sektor telekomunikasi juga akan diwarnai dengan sentimen persiapan 5G yang semakin gencar, sementara hadirnya Sovereign Wealth Fund (SWF) RI juga menjadi katalis positif untuk sektor konstruksi mengingat prioritas untuk pembangunan infrastruktur pemerintah belum berubah.

Rendahnya suku bunga acuan juga positif untuk sektor properti dan real estate yang diharapkan bisa mendongkrak volume penjualan rumah maupun aset properti lainnya. Tak luput juga sektor konsumen juga dinilai positif mengingat adanya prospek pertumbuhan konsumsi masyarakat sebagai tulang punggung ekonomi RI.

Namun, investor masih perlu memperhatikan setidaknya empat hal yang masih menjadi risiko pada 2021. Pertama adalah pandemi Covid-19 yang belum bisa dijinakkan. Kedua, program vaksinasi yang berjalan lambat dan baru dimulai pada semester kedua, serta adanya potensi efektivitas vaksin yang rendah.

Ketiga adalah kejutan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih cepat dari dugaan dan terakhir adalah berlanjutnya fenomena perang dagang antara berbagai negara seperti AS dengan China dan Australia dengan China.

Di tengah adanya risiko ketidakpastian tersebut, Anda yang ingin berinvestasi di saham dengan relatif aman tanpa perlu khawatir serta untuk jangka panjang disarankan untuk mencari saham-saham yang memiliki valuasi yang masih murah, leverage (hutang yang rendah) serta arus kas yang kuat. 

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/twg)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading