Mau Investasi di Saham 'Bintang Lima' & Cuan, Ini Tipsnya

Investment - chd, CNBC Indonesia
03 December 2020 10:05
Infografis, Generasi Milenial jadi Investor Terbanyak SBR005

Jakarta, CNBC Indonesia - setahun yang lalu, tidak banyak dari kita yang percaya bahwa pandemi akan menyebabkan sebagian besar ekonomi global terhenti hampir selama setahun.

Satu-satunya cara untuk menghadapi peristiwa tak terduga tersebut adalah dengan berinvestasi di berbagai sektor bisnis yang kuat secara finansialnya. Meskipun ada hambatan yang akan datang, namun hal ini membuat investasi Anda berpeluang menjadi yang terbaik dalam jangka panjang.

Ingatlah, nilai investasi bisa saja turun, namun kondisi tersebut tak selamanya terjadi, dikemudian hari, nilai investasi tersebut mungkin akan kembali naik dan anda akan mendapatkan hasilnya ketika nilainya berbalik arah keatas.


Untuk memilih saham-saham 'bintang lima', perlu beberapa pendekatan agar saat anda berinvestasi di saham tersebut, kinerjanya memang benar-benar baik, adapun pendekatannya dijelaskan sebagai berikut:

1. Cek Profitabilitas Emiten

Sebelum memilah saham 'bintang lima', sebaiknya anda memperhatikan tingkat profitabilitas perusahaan. Perusahaan yang berkinerja baik adalah perusahaan yang mampu mengontrol rasio profitabilitas.

Rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur tingkat perbandingan untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba (profit) dari pendapatan (earning) terkait penjualan, aset, dan ekuitas berdasarkan dasar pengukuran tertentu.

Semakin besar rasio ini, maka semakin baik perusahaan mengelola profitnya dengan aset yang dimiliki, tingkat penjualannya, dan total ekuitas perusahaan.

2. Arus Kas

Arus kas yang baik terjadi ketika uang tunai yang masuk di bisnis Anda mulai dari penjualan, piutang, dan lain-lain lebih besar dari jumlah uang tunai yang Anda keluarkan sebagai pembayaran hutang, biaya bulanan, gaji, dll.

Kas yang baik juga terlihat dari rasio leverage (utang) perusahaan, semakin kecil rasio leverage-nya, maka bisa dikatakan kinerja perusahaan tersebut cukup baik, karena rasio utangnya dapat dikelola dengan baik dan kewajiban utangnya dibayar tepat waktu.

3. Laporan Neraca Sehat

Seperti arus kas, jika sistem kas perusahaan baik dan tingkat utang dapat diminimalisir, maka perusahaan mempunyai neraca yang sehat.

Laporan neraca yang sehat dapat dinilai jika struktur modal lebih besar menggunakan modal sendiri, baik dari laba ditahan (retained earnings) maupun hasil dari investasi.

Neraca yang sehat juga dilihat jika perusahaan mampu memenuhi kewajibannya, baik jangka pendek, maupun jangka panjang. Aset yang dimiliki juga dapat dipertanggung jawabkan dan tentunya semakin bertambah.

Perusahaan juga mampu menyelesaikan piutang dan tidak mempunyai masalah dengan pihak-pihak yang berelasi.

4. Cek Valuasi Saham

Valuasi dari saham suatu perusahaan sangatlah penting untuk mengukur kinerja fundamental suatu saham. Cara memvaluasi saham adalah dengan melihat beberapa rasio.

Salah satunya adalah rasio harga saham terhadap laba bersih perusahaan atau biasa kita sebut price to earnings ratio (P/E Ratio/PER).

PER mencerminkan harga suatu saham yang beredar di pasar dengan sektor usaha saham tersebut. Jika nilai PER suatu saham lebih rendah dari PER sektornya, maka bisa dibilang saham tersebut masih tergolong murah.

Sebaliknya jika PER suatu saham masih lebih tinggi dari PER sektornya, maka bisa dibilang saham tersebut tergolong mahal.

Selain PER, valuasi saham juga bisa dilakukan dengan cara mengukur rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan atau biasa kita sebut price to book value (PBV).

PBV mencerminkan harga saham dengan nilai bukunya, jika nilai PBV berada di bawah nilai bukunya, maka bisa dibilang saham tersebut cukup murah. Sebaliknya jika PBV-nya di atas nilai bukunya, maka saham tersebut relatif mahal.

Valuasi saham tak hanya sekedar menilai PER dan PBV-nya, menilai saham juga dapat dilakukan dengan kinerja keuangan perusahaan.

Perusahaan yang mampu menjaga labanya, maka bisa dibilang saham tersebut cukup bagus dan sebaliknya.

Selain laba, aset yang dimiliki, utang yang dipegang, dan nilai ekuitas yang sustansibel juga berpengaruh terhadap valuasi sahamnya.

Selain itu, faktor lainnya juga tak luput untuk menilai suatu saham, seperti perusahaan ada masalah atau tidak, tata kelola perusahaan juga dikelola dengan baik atau tidak, ataupun kondisi geografis yang mempengaruhi keberlangsungan perusahaan.

Ingin mencoba investasi saham? Perhatikan hal berikut iniFoto: Arie Pratama
Ingin mencoba investasi saham? Perhatikan hal berikut ini

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading