Pilah-Pilih Reksa Dana, Apa Dana Besar Dijamin Pasti Bagus?

Investment - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
22 September 2019 19:20
Pilah-Pilih Reksa Dana, Apa Dana Besar Dijamin Pasti Bagus?
Jakarta, CNBC Indonesia - "Size does matter." Jargon dari film Godzilla (1998) tersebut bisa saja relevan bila dikaitkan dengan memilih sebuah instrumen investasi, khususnya reksa dana.

Memilah-milih reksa dana tentu bukan pekerjaan sesaat, butuh banyak membaca jika ingin detail dan ingin paham tentang produk tersebut. Salah satu yang perlu diperhatikan calon pembeli adalah besaran dana kelolaan (asset under management/AUM) produk tersebut.

Berkaca pada peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No.23/POJK.04/2016 tentang Reksa Dana Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif, maka batasan minimal dana kelolaan sebuah reksa dana ditetapkan Rp 10 miliar.


Untuk reksa dana terbuka (reksa dana saham, reksa dana campuran, dan reksa dana fixed income) selama 90 hari berturut-turut, sedangkan untuk reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, dan reksa dana dengan penjaminan periodenya selama 120 hari berturut-turut. Untuk itu, janganlah memilih reksa dana yang AUM-nya tipis-tipis Rp 10 miliar untuk menghindari risiko likuidasi.

Dengan aturan itu dan kondisi di pasar, anggapan awam adalah semakin besar AUM sebuah reksa dana akan menjadikan produk tersebut menjadi baik di mata investor.

Tidak salah memang anggapan tersebut, karena besarnya AUM menunjukkan minat dan kepercayaan investor yang besar terhadap produk tersebut.

Data pasar per Agustus menunjukkan dari lima jenis reksa dana terbuka, 10 reksa dana berdana kelolaan tertinggi masih didominasi oleh reksa dana saham yaitu Schroder Dana Prestasi Plus, Batavia Dana Saham, Ahsmore Dana Ekuitas Nusantara, Schroder Dana Prestasi, dan Mandiri Saham Atraktif.

Uniknya, di posisi kedua adalah jenis reksa dana pasar uang, reksa dana yang dianggap pasif karena menawarkan hasil investasi yang minimal meskipun risikonya sangat kecil. Produk reksa dana pasar uang yang masuk daftar dana kelolaan terbesar adalah Mandiri Investa Pasar Uang, Bahana Dana Likuid, dan Eastspring Investments Cash Reverse.

Baru di tempat ketiga ada dua reksa dana pendapatan tetap yaitu Danamas Stabil dan Eastspring IDR Fixed Income Fund, tanpa kehadiran satupun reksa dana campuran dan reksa dana indeks.




Akan tetapi anggapan tentang besarnya dana kelolaan mencerminkan kinerja yang bagus itu juga tidak sepenuhnya tepat karena ada beberapa pertimbangan lain yang perlu dicermati calon investor. Berikut ini dua pertimbangan utamanya.

Pertama, semakin besar dana kelolaan maka akan menyulitkan reksa dana tersebut untuk bermanuver, dalam hal ini berarti akan sulit mengubah strategi atau menyasar jenis efek tertentu (saham atau obligasi), beralih bobot indeks tertentu, atau menukar portofolio efek di dalamnya.

Untuk membentuk satu reksa dana, dibutuhkan minimal 10 portofolio karena batas maksimal kepemilikan efek adalah 10% dari total AUM si reksa dana.

Dengan pertimbangan sederhana, jika dibutuhkan peralihan strategi atau portofolio investasi yang cepat, maka reksa dana dengan dana kelolaan besar, misalnya di atas Rp 10 triliun maka harus menukar 10% portofolionya yaitu Rp 1 triliun dengan portfolio Rp 1 triliun yang lain.

Alhasil, jika satu saham atau obligasi ditransaksikan beli Rp 1 triliun dalam satu hari oleh satu pihak, maka harga di pasar akan naik luar biasa karena rata-rata nilai transaksi harian terbesar hanya Rp 1 triliun untuk satu saham unggulan (blue chips). Jika transaksinya adalah jual, maka harga sahamnya tentu akan terjun bebas.

Karena itulah, aksi penukaran baik jual ataupun beli akan dilakukan secara bertahap oleh si manajer investasi dan relatif memakan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan reksa dana yang AUM-nya lebih kecil.


Kedua
, dana kelolaan besar berarti sebuah reksa dana akan semakin menyerupai dan menyamai kinerja indeks acuan utama. Sebuah reksa dana tentu menginginkan kinerja yang di atas atau lebih baik daripada indeks acuan, di pasar saham domestik dalam hal ini adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk seluruh jenis saham atau LQ-45 sebagai acuan saham-saham blue chips.

Namun, sebuah reksa dana ber-body besar tentu akan sulit memilih portofolio yang bukan blue chips, karena saham unggulan biasanya memiliki bobot besar pada IHSG dan LQ-45. Jika pilihan reksa dana tersebut terlalu besar di saham yang bukan blue chips, maka besar kemungkinan jika pasar sedang positif maka kinerjanya akan tertinggal jauh.

Karena itulah, reksa dana yang berdana kelolaan jumbo akan mengikuti dan diikuti arah pasarnya karena akan menjadi acuan.

Jadi, pilihannya ada di tangan Anda. Ingin ikut pasar, atau ingin melampaui pasar. Jangan lupa juga untuk menentukan pilihan investasi sesuai dengan profil investasi Anda masing-masing.

Selamat berinvestasi!


 

 


 

 


 

 


 

 


 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading