Presiden Ditembak Pria Bersenjata, Peluru Nyaris Kena Kepala
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang demonstrasi dan gejolak politik pernah mengancam nyawa Presiden Prancis Charles de Gaulle. Pada 22 Agustus 1962, mobil yang ditumpanginya diserang sekelompok pria bersenjata hingga pelurunya nyaris kena kepala dalam sebuah percobaan pembunuhan di Petit-Clamart, pinggiran Paris.
Saat itu, Prancis tengah dilanda gejolak politik akibat kebijakan de Gaulle yang membuka jalan bagi kemerdekaan Aljazair. Mengutip Britannica, Aljazair merupakan wilayah jajahan Prancis dan sejak 1954 terjadi perang antara militer Prancis dan gerakan kemerdekaan Aljazair.
Keputusan de Gaulle lantas memicu perlawanan sengit, polarisasi politik, dan demonstrasi di jalanan. Di satu sisi, pendukung kemerdekaan Aljazair dan masyarakat yang lelah dengan perang menginginkan konflik segera berakhir. Di sisi lain, kelompok yang ingin mempertahankan Aljazair di bawah kekuasaan Prancis menentang kebijakan tersebut.
Ketegangan politik itu turut diwarnai bentrokan, kerusuhan, dan tindakan keras polisi. Di tengah situasi tersebut, kelompok militer dan sayap kanan radikal yang menolak kemerdekaan Aljazair semakin memusuhi de Gaulle. Sebagian dari mereka kemudian memilih jalan kekerasan untuk menggagalkan kebijakannya.
Salah satu kelompok tersebut adalah Organisation Armée Secrète (OAS), organisasi bawah tanah bersenjata yang menentang kemerdekaan Aljazair dan berupaya mempertahankan wilayah itu di bawah kekuasaan Prancis. Kelompok ini melancarkan serangkaian aksi teror, termasuk percobaan pembunuhan terhadap de Gaulle, yang mencapai puncaknya pada malam 22 Agustus 1962.
Waktu itu, de Gaulle sedang dalam perjalanan menuju lapangan terbang Villacoublay bersama istrinya dan sejumlah pendamping. Di tengah jalan, sekelompok penyerang OAS menyergap rombongan presiden di Petit-Clamart.
Menurut situs berita France 24, serangan berlangsung sekitar 45 detik. Total 150 peluru ditembakkan ke arah rombongan presiden dan puluhan di antaranya berhasil menembus masuk mobil presiden.
"Tiga peluru menembus badan mobil dan melesat hanya beberapa inci dari kepala De Gaulle, tetapi ia dan istrinya, Yvonne, secara ajaib selamat tanpa cedera," tulis France 24.
Untungnya, sopir kepresidenan memainkan peran penting dalam menyelamatkan rombongan. Ia terus melajukan mobil meski kendaraan tersebut dihantam tembakan. Walaupun dua ban rusak dan kaca mobil hancur, Marroux berhasil mengendalikan kendaraan hingga keluar dari lokasi penyergapan. Seluruh penumpang selamat tanpa cedera.
Mengutip situs Gendarmerie Nationale, otak di balik percobaan pembunuhan itu adalah Letnan Kolonel Jean Bastien-Thiry, seorang perwira angkatan udara Prancis yang terlibat dalam konspirasi untuk membunuh de Gaulle. Setelah insiden tersebut, aparat Prancis memburu jaringan OAS dan menangkap Bastien-Thiry beserta sejumlah pelaku lainnya.
Setelah menjalani persidangan militer, Bastien-Thiry dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi oleh regu tembak pada 11 Maret 1963. Ia tercatat sebagai orang terakhir yang dieksekusi dengan cara ditembak di Prancis.
Sementara itu, de Gaulle selamat dari percobaan pembunuhan tersebut dan tetap melanjutkan pemerintahannya. Pada tahun yang sama, Prancis menyetujui perubahan sistem pemilihan presiden menjadi pemilihan langsung oleh rakyat melalui referendum pada 28 Oktober 1962.
(mfa/mfa)