Kisah Bang Udin, Kena PHK hingga Sukses Punya Bakso Viral
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemutusan hubungan kerja (PHK) bukanlah akhir dari segalanya. Bagi pria bernama Udin, PHK yang terjadi di pertengahan 2024 lalu justru membawanya untuk membangun usaha sendiri.
Berbekal pengalaman bekerja di industri makanan dan minuman (F&B) selama bertahun-tahun, Udin memilih berjualan bakso keliling di daerah perkantoran Jakarta. Meski demikian, keputusan ini tidak langsung dipilih oleh Udin lantaran selama enam bulan setelah PHK ia masih perlu pertimbangan apakah akan kembali bekerja kantoran atau membuka usaha.
Bahkan, di masa-masa itu juga Udin sempat mendapat penawaran untuk mengelola restoran dari koleganya di Cikarang, Jawa Barat. Akan tetapi, Udin juga perlu merawat ayahnya yang sedang sakit di kampung hingga tidak bisa berjalan. Alhasil, ia mesti memilih pekerjaan yang lebih fleksibel agar ada waktu pulang ke kampung saat dibutuhkan.
Pada akhirnya, Udin memutuskan untuk berjualan bakso menggunakan gerobak motor pada awal tahun 2025 dan saat ini diberi nama Bakso Bang Udin. Dari situ, Udin aktif berkeliling mencari lokasi yang ramai oleh pekerja kantoran seperti kawasan Kuningan hingga Tebet, Jakarta Selatan. Kendati begitu, ia mengaku perjalanannya berjualan bakso tidaklah mudah karena harus pindah secara berkala lantaran ditegur oleh berbagai pihak, termasuk pedagang lain.
"Usaha itu di awal tahun 2025, terus waktu itu masih pakai gerobak motor, keliling daerah Kuningan dan sebagainya. Maksudnya saya memang marketnya mau cari yang perkantoran memang. Di situ banyak tantangan tuh, diusir security, terus kayak Satpol PP, beberapa pedagang-pedagang lain, dari situ udah tuh pindah-pindah terus," ungkap dia saat ditemui Wartawan di sekitaran Jalan Jaya Mandala, belum lama ini.
Gayung bersambut, Udin mendapatkan tempat yang strategis untuk berjualan. Tempat tersebut berlokasi di Jakarta Selatan, tepatnya di kawasan Menara Bidakara. Di sini, ia berjualan bersama dengan seorang pedagang kopi dan para pelanggannya mayoritas berasal dari pekerja kantor setempat.
Seiring berjalannya waktu, ada kejadian tak terduga, di mana video yang dibuat oleh salah satu pelanggan Bakso Bang Udin viral di platform TikTok masuk ke beranda netizen. Dari sinilah nama Bakso Bang Udin mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat Jakarta bahkan hingga Depok.
Popularitas tersebut menjadi jalan Bakso Bang Udin masuk ke layar televisi dan dikenal oleh publik figur seperti Shanty Cagur. Usai mendapat pesan dari pelanggan dan pihak produksi, Bang Udin menjalani syuting dan tampil di sejumlah program televisi. Ia juga mendapat tawaran mengikuti festival kuliner.
Di balik tampil tersebut, ia merasa kembali ke masa lalu karena pernah bekerja di sebuah grup media ternama di Indonesia, sehingga kemunculannya di berbagai program televisi seperti dejavu.
Asal tahu saja, bakso yang ditawarkan oleh Bang Udin ini bukan bakso biasa. Mendapat bekal pengalaman bekerja di dapur sejak lulus sekolah pada 2005 serta resep dasar dari mertuanya yang juga penjual bakso, ia terus bereksperimen.
Hingga saat ini, ada tujuh varian produk bakso yang dijual Udin, mulai dari bakso urat, telur, daging, daging mercon, keju, sayur, hingga bakso beranak. Harganya pun dibuat relatif terjangkau bagi pekerja kantoran, yakni sekitar Rp20.000, sementara varian tertentu seperti campuran keju dan urat dibanderol Rp35.000.
Awalnya, Bang Udin hanya memproduksi sekitar 3 kilogram bakso per hari. Namun, hari demi hari kapasitasnya terus meningkat menjadi sekitar 20 kilogram. Sekarang, ia bisa mencetak sekitar 200-220 mangkuk dalam sehari dengan omzet sekitar Rp4,5 juta hingga Rp5 juta, meski angka tersebut merupakan omzet, bukan keuntungan.
Di tengah kesibukannya mengelola usaha hampir seorang diri, banyaknya transaksi setiap hari juga menjadi tantangan tersendiri bagi Udin, terutama ketika harus menyiapkan uang kembalian bagi pelanggan. Kondisi tersebut membuat proses transaksi menjadi kurang praktis dan berpotensi menyulitkan Udin dalam mengelola arus kas usaha. Karena itu, Udin memanfaatkan Fitur QRIS dari Saku Bisnis Bank Raya sebagai salah satu solusi pembayaran yang lebih praktis, sehingga pelanggan dapat melakukan pembayaran secara digital tanpa perlu menyiapkan uang tunai.
Tak hanya itu, QRIS Bisnis juga terintegrasi dengan Saku Bisnis, dan kini dapat dilakukan pencairan dana di hari yang sama melalui empat batch pencairan dalam sehari sehingga pelaku usaha tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menerima dana hasil dari operasional bisnisnya. Saku Bisnis sendiri merupakan salah satu champion product Bank Raya, yang menjadi solusi bagi pengelolaan keuangan pelaku usaha dalam menjalankan bisnis.
Asal tahu saja, produk dan fitur di Saku Bisnis terus berkembang sesuai kebutuhan nasabah. Di antaranya adalah fitur untuk pembuatan hingga tiga QRIS Bisnis sekaligus dalam satu akun serta pembuatan hingga lima Saku Bisnis dalam satu akun sehingga pengelolaan operasional usaha bisnis jadi lebih praktis.
Menariknya, berbagai fitur dan solusi yang ditawarkan Saku Bisnis sangat dirasakan manfaatnya oleh Udin dalam menjalankan aktivitas usahanya sehari-hari. Dalam operasionalnya, Udin biasanya melakukan transfer hingga empat kali dalam sehari, sehingga dapat memastikan kebutuhan usaha terpenuhi tanpa harus menyimpan saldo yang mengendap.
Adanya notifikasi suara dan email ketika pembayaran berhasil dilakukan turut memudahkan Udin dalam memantau transaksi keuangan sehari-hari. Tak hanya itu, Udin juga merasakan dampak positif dengan adanya pemisahan saku-saku lewat fitur Saku Bisnis, sehingga memudahkannya dalam mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan bahan baku dan operasional usaha.
Dengan segala solusi tersebut, pria yang akrab disapa Bang Udin ini berharap Bank Raya agar senantiasa mendukung pelaku UMKM. Pasalnya, usaha kecil merupakan salah satu tulang punggung perekonomian masyarakat Indonesia.
"Buat Bank Raya yang pasti semoga selalu mengayomi pedagang UMKM, bantu pedagang UMKM, support lah, gitu aja. Soalnya kan UMKM-nya ibratnya tulang punggung ekonomi," terang dia.
Setelah viral, Bang Udin pun mulai mendapat tawaran untuk membuka usaha di sejumlah daerah, termasuk Bogor, BSD, hingga Makassar. Namun, ia memilih untuk tidak terburu-buru membuka cabang atau franchise. Baginya, yang terpenting adalah menjaga rasa, pelayanan, kebersihan, dan konsistensi.
Di samping itu, Udin turut memberikan pesan bagi calon pelaku UMKM yang baru memulai usaha, pesannya sederhana yaitu tentukan dulu pasar dan lokasi yang tepat, hitung biaya dengan cermat, lalu jalani dengan sabar dan konsisten. Sebab bagi Bang Udin, PHK bukanlah akhir perjalanan, melainkan pintu menuju kesempatan baru kesempatan untuk membangun usaha sekaligus tetap dekat dengan keluarga yang menjadi sumber semangatnya.Â