Holding Ultra Mikro Bawa Mur Dwi Astuti Sukses Jadi Petani di Merauke
Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi Mur Dwi Astuti, mengembangkan usaha pertanian padi di Merauke, Papua, merupakan perjalanan yang tidak mudah. Selain ketekunan mengelola lahan, petani harus berhadapan dengan perubahan cuaca, keterbatasan air, hingga serangan hama yang dapat memengaruhi hasil panen.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, ketersediaan modal menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga usaha tetap berjalan dan berkembang.
Perjalanan Mur dalam memenuhi kebutuhan finansial berlangsung secara bertahap.
Sebelum memanfaatkan fasilitas perbankan, perempuan asal Merauke ini lebih dulu mengenal layanan gadai emas di Pegadaian. Pengalaman tersebut tidak hanya membantunya memenuhi kebutuhan keuangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses belajar mengelola uang dan menjaga keberlangsungan usaha.
Seiring dengan perkembangan usahanya, kebutuhan modal Mur pun meningkat. Setelah menjalankan usaha selama lebih dari satu tahun dengan skala sebelumnya, ia kemudian memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro BRI untuk mendukung berbagai kebutuhan operasional pertanian.
Akses pembiayaan tersebut turut membuka ruang bagi Mur untuk memperluas lahan garapan dari semula satu hektare menjadi tiga hektare. Bertambahnya luas lahan bukan berarti tantangan menjadi lebih ringan.
Menurut Mur, kondisi cuaca dan serangan hama masih menjadi persoalan yang kerap dihadapi. Terlebih saat musim kemarau, ketersediaan air menjadi terbatas sehingga aktivitas pertanian tidak dapat berjalan secara optimal.
"Kita ini tergantung musim, biasanya ya padi kalau bagus ya kita dapat hasil bagus, kalau jelek ya jelek," ungkapnya dikutip Selasa (15/9/2026).
Ketika kebutuhan modal semakin besar, Mur mencari alternatif pembiayaan yang dapat mendukung kegiatan pertaniannya secara produktif. Ia kemudian memilih KUR Mikro BRI, salah satunya karena skema tersebut tidak mengharuskannya menyediakan jaminan lain.
Dalam proses pengajuan, Mur juga memperoleh pendampingan dari petugas BRI. Ia mengatakan komunikasi dilakukan secara langsung dengan respons yang cukup cepat.
"Kita langsung menghubungi petugasnya, langsung ditanya-tanya, dilayanin," ujarnya.
KUR Mikro BRI selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan operasional pertanian, mulai dari proses budidaya, pembayaran tenaga kerja, hingga biaya penggunaan alat pertanian. Dukungan modal tersebut membantu Mur meningkatkan skala usaha hingga lahan yang dikelolanya kini mencapai tiga hektare.
Seiring bertambahnya skala usaha, Mur juga merasakan perubahan dalam cara mengelola keuangan. Ia mengakui sebelumnya masih mengalami kesulitan mengatur keuangan usaha. Melalui pendampingan dari BRI, ia mulai belajar menyisihkan sebagian uang untuk kembali digunakan sebagai modal pada siklus tanam berikutnya.
"Soalnya kan kita ini belum bisa mengelola keuangannya. Nah, terus kita dibantu oleh BRI, jadi kita bisa simpan-simpan uangnya lebih mudah," kata Mur.
Bagi Mur, kemampuan mengelola keuangan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan usaha pertanian yang sangat bergantung pada musim. Tambahan modal tidak hanya membantu operasional, tetapi juga memberinya ruang untuk mengembangkan lahan secara bertahap.
Pengalaman tersebut sekaligus menjadi perjalanan kemandirian ekonomi bagi Mur sebagai perempuan yang menekuni sektor pertanian.
"Ya, yang penting kita tuh mau berusaha, pasti perempuan juga bisa," ujarnya.
Kini, dengan lahan yang telah berkembang dari satu menjadi tiga hektare, Mur masih dihadapkan pada tantangan perubahan musim dan ketersediaan air. Namun, pengalaman memperoleh akses pembiayaan membuatnya lebih berani melihat peluang untuk mengembangkan usaha.
Ia pun mengajak petani dan pelaku usaha kecil lainnya untuk tidak ragu mengambil langkah selama mampu memenuhi kewajibannya. Pada kesempatan terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan perjalanan Mur di Merauke menggambarkan bagaimana ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi) yang terdiri dari BRI, Pegadaian, dan PNM dapat membuka akses pembiayaan bagi pelaku usaha secara bertahap sesuai kebutuhan dan perkembangan usahanya.
"Pengalaman Mur yang terlebih dahulu memanfaatkan gadai emas di Pegadaian, kemudian beralih memanfaatkan KUR Mikro BRI, menunjukkan adanya ruang bagi pelaku usaha untuk tumbuh dan naik kelas seiring meningkatnya kebutuhan modal" ungkapnya.
Melalui sinergi dalam Holding Ultra Mikro, BRI, Pegadaian, dan PNM terus memperkuat akses layanan keuangan bagi masyarakat ultra mikro, mikro, dan kecil. Akses tersebut diharapkan tidak hanya membantu masyarakat memperoleh pembiayaan, tetapi juga mendorong mereka mengembangkan usaha secara berkelanjutan.