CNBC Insight

Kapal Bekas Tak Layak Berlayar Tenggelam di Laut Jawa, 666 Orang Tewas

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Senin, 14/09/2026 11:11 WIB
Foto: Ilustasi kapal laut (Foto: Thinkstock)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Akibat memaksakan membawa penumpang di kapal yang seharusnya mengangkut barang, Tampomas II tenggelam di Laut Jawa. Total 666 orang tewas dalam kejadian yang terjadi pada 27 Januari 1981.

Tampomas II saat itu berlayar dari Tanjung Priok, Jakarta, menuju Makassar dengan muatan penuh. Kapal membawa 191 mobil dan 200 sepeda motor. Jumlah orang di dalamnya diperkirakan mencapai 1.442 orang. Sebagian sumber bahkan mencatat hingga 2.000 penumpang. Namun, total penumpang resmi hanya 1.000-an aja. Sisanya penumpang gelap. 

Perjalanan tersebut sebenarnya sudah bermasalah sejak awal. Tampomas II seharusnya berangkat pada 23 Januari 1981, tetapi keberangkatan tertunda karena kerusakan mesin. Setelah diperbaiki, kapal akhirnya berlayar menuju Makassar.


Petaka kemudian mencapai puncaknya pada malam 25 Januari 1981 sekitar pukul 20.00 WITA. Kebocoran bahan bakar memicu kebakaran di bagian mesin. Dalam laporan majalah Tempo (Februari 1981), seorang bernama Endang menjadi orang yang pertama kali menyadarinya setelah mencium bau hangus dan merasakan hawa panas.

Saat melihat api, ia langsung melaporkannya kepada pengurus kapal. Masinis langsung menghentikan mesin. Bel tanda kebakaran kemudian berbunyi. Kepanikan pecah di antara penumpang, sementara awak kapal memberikan arahan mengenai penggunaan pelampung.

Kru mesin berusaha memadamkan api menggunakan alat pemadam portabel. Meski begitu, dalam penelusuran koran Berita Yudha (20 Maret 1981), banyak Mualim kapal ternyata tidak mengetahui cara menggunakan pemadam api. 

"Mereka tidak mengetahui cara penggunaan sistem fire detection maupun fire indicator di Km Tampomas II yang mengalami musibah," tulis pewarta koran.  

Akibanta, api terus membesar dan menjalar dari ruang mesin. Kondisi semakin sulit setelah generator mati sehingga air tidak dapat digunakan untuk menyemprot api. Kobaran kemudian mencapai area penyimpanan mobil dan sepeda motor yang masih memiliki bahan bakar.

Para penumpang berusaha menyelamatkan diri. Sebagian terjun ke laut, sedangkan lainnya mencoba menggunakan sekoci. Evakuasi kacau. Selang beberapa jam, kobaran api menarik perhatian kapal lain.

Namun, itu tidak bisa menyelamatkan. Kondisi kapal makin buruk terutama setelah hujan turun membuat air semakin memenuhi kapal. Sampai akhirnya, ruang mesin meledak dahsyat dan Tampomas II tenggelam pada 27 Januari 1981 sekitar pukul 12.45 WIB atau 13.45 WITA di perairan Masalembu, Laut Jawa. Sebanyak 666 orang tercatat tewas. Jumlah korban diduga bisa lebih besar karena adanya penumpang yang tidak tercatat.

Kapal Bekas Tak Layak Jalan

Menurut koran Berita Yudha (31 Maret 1981), persoalan Tampomas II sebenarnya sudah ada sebelum tragedi. Kapal bekas tersebut dibeli PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) dari perusahaan Jepang Comodo Marine Co. SA seharga US$8,3 juta.

Harga itu sempat dipertanyakan karena PANN sebelumnya disebut mendapat tawaran kapal lain seharga US$3,6 juta. Perbedaan tersebut kemudian memunculkan dugaan korupsi dalam proses pembelian.

Tampomas II sendiri awalnya dirancang sebagai kapal barang, tetapi kemudian digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang. Sejumlah persyaratan keselamatan disebut belum sepenuhnya terpenuhi, termasuk sertifikat keselamatan yang masih bersifat sementara.

Kondisi inilah yang kemudian membuat kelayakan Tampomas II dipertanyakan hingga akhirnya tragedi kebakaran dan tenggelamnya kapal sampai menewaskan 666 orang. Dalam proses penyelidikan, Mahkamah Perlayaran menganggap kebakaran disebabkan oleh puntung rokok yang diperparah karena adanya kelalaian dari kru dan pihak pengelola kapal. 


(mfa)