Ratusan Ribu Warga Padati Jakarta Tonton Pidato Kenegaraan Presiden RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Pidato kenegaraan Presiden Indonesia setiap 16-17 Agustus menjadi salah satu momen yang ditunggu masyarakat. Pada era Soekarno, pidato tersebut bahkan mampu menarik ratusan ribu warga untuk datang dan memadati kawasan Istana Merdeka.
Bagi Soekarno, pidato kenegaraan bukan sekadar teks yang harus dibacakan di hadapan rakyat. Pidato menjadi bentuk pertanggungjawaban seorang presiden atas kebijakan-kebijakan yang telah dibuatnya.
Atas dasar itu, Soekarno selalu serius menyusun naskah pidatonya seorang diri, meskipun tetap mendapat bantuan dari tim khusus. Ia bahkan dapat menghabiskan waktu berjam-jam hingga seharian penuh dalam menyusun pidato dengan menggunakan berbagai bahan bacaan.
"Saat itulah satu-satunya yang saya lihat BK dapat berjam-jam seorang diri di kamar, berkosentrasi penuh menuangkan yang ada di hati dan otaknya ke dalam tulisan," kata Bambang dikutip dari Sewindu dekat Bung Karno (1988).
Keseriusan tersebut turut membuat pidato Soekarno selalu dinantikan masyarakat. Kemampuannya menyampaikan pidato bahkan membuat warga rela berdesak-desakan hanya untuk mendengarkannya secara langsung.
Koran Merdeka (18 Agustus 1955), misalnya, mencatat ratusan ribu warga memadati kawasan Istana Merdeka saat perayaan 10 tahun kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Soekarno menyampaikan pidato kenegaraan bertajuk "Tetap Terbanglah Rajawali" yang merefleksikan 1 dekade kemerdekaan.
"Di hadapan ratusan ribu rakyat yang membanjiri lapangan dimuka Istana Merdeka dan tamu-tamu yang duduk di serambi dan perkarangan kepresidenan, Presiden Soekarno dalam upacara peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kemarin pagi telah mengucapkan pidatonya yang mendapat sambutan hangat sekali dari para pendengarnya," tulis koran Merdeka (18 Agustus 1955).
Antusiasme serupa kembali terlihat beberapa tahun kemudian. Dalam pemberitaan Merdeka (18 Agustus 1960), misalnya, ribuan warga kembali datang dan berjejalan di kawasan Istana Merdeka untuk mendengarkan pidato Soekarno.
Menurut Tjipta Lesmana dalam Dari Soekarno sampai SBY: Intrik & Lobi Politik Para Penguasa (2008), kemampuan Soekarno memikat pendengar menjadi salah satu alasan pidatonya selalu menarik perhatian.
Pidatonya kerap disampaikan dengan penuh semangat. Hal itu semakin kuat dengan fisik Soekarno yang gagah, suara yang segar dan mantap, serta gestur yang menarik perhatian. Ia kerap menunjuk-nunjuk sambil berteriak ketika menyampaikan pidato. Selain itu, proklamator itu juga pintar dan berpengalaman banyak.
"Apa sebab Bung Karno pernah "PD" setiap kali berpidato? karena ia juga kaya akan ilmu dan pengalaman perjuangan," ungkapnya.
Kemampuan tersebut membuat Soekarno bukan hanya dikenal sebagai presiden, tetapi juga sebagai sosok yang mampu menggerakkan massa melalui kata-kata. Pidato kenegaraan yang disusunnya dengan penuh konsentrasi kemudian menjadi salah satu bagian penting dari gaya kepemimpinannya.
Kekuasaan Soekarno sendiri berakhir pada 1966. Setelahnya, sosok yang dijuluki "Singa Podium" itu lengser dan digantikan oleh Soeharto.
(mfa/mfa)