Keraton Yogyakarta Dirampok, Uang Tunai & Emas Raib
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Fajar bahkan belum menyingsing ketika suasana di Yogyakarta berubah menjadi mencekam. Pada subuh 20 Juni 1812, pasukan Inggris melancarkan serangan ke Keraton Yogyakarta. Penyerbuan itu bukan hanya berakhir dengan lengsernya Sultan Hamengkubuwana II, tetapi juga diikuti penjarahan besar-besaran terhadap harta kerajaan.
Uang perbendaharaan, pusaka, hingga naskah-naskah penting milik Kesultanan Yogyakarta dibawa pergi oleh pasukan penyerbu.
"Istana Yogyakarta dirampok, perpustakaan dan arsipnya dirampas. Sejumlah besar uang diambil dan Hamengkubuwana II diturunkan dari takhta lalu dibuang ke Penang," tulis sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1999).
Sejarawan Peter Carey dalam Asal Usul Perang Jawa (1976) mengungkap nilai harta yang dirampas sangat besar. Selain berbagai dokumen dan aset kerajaan, sekitar 800.000 dolar Spanyol dari perbendaharaan Keraton Yogyakarta juga jatuh ke tangan Inggris. Pada masa itu, nilainya diperkirakan setara sekitar 150.000 poundsterling.
Lantas, bagaimana penjarahan terbesar dalam sejarah Keraton Yogyakarta itu bisa terjadi?
Konflik bermula setelah Inggris merebut Pulau Jawa dari Belanda pada 1811. Berbeda dengan sejumlah kerajaan lain yang memilih bekerja sama, Sultan Hamengkubuwana II menolak tunduk kepada pemerintahan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles. Sang sultan menganggap Inggris sebagai kekuatan asing yang mengancam kedaulatan Mataram.
Hubungan kedua pihak semakin memburuk ketika Raffles meminta Kesultanan Yogyakarta mengurangi kekuatan militernya. Hamengkubuwana II menolak permintaan tersebut dan justru memperkuat pertahanan keraton. Ketegangan yang terus meningkat akhirnya memuncak pada subuh 20 Juni 1812 ketika Raffles memerintahkan serangan militer ke Yogyakarta.
"1.200 prajurit berkebangsaan Eropa dan Sepoy India yang didukung 800 prajurit Legiun Mangkunegaran berhasil merebut Istana Yogyakarta setelah tembakan artileri," ungkap Ricklefs.
Setelah pertempuran sengit, pasukan Inggris berhasil menerobos masuk dan menguasai pusat pemerintahan Kesultanan Yogyakarta. Hamengkubuwana II ditangkap, dilengserkan dari takhta, lalu diasingkan ke Penang.
"Sultan sendiri, bersama-sama dengan para kerabatnya, ditangkap dengan cara yang sangat terhina setelah mereka gagal dalam upaya mereka untuk menuntut diadakannya perdamaian," tulis Peter Carey.
Kemenangan militer itu segera diikuti aksi penjarahan. Berbagai barang berharga milik kerajaan diangkut keluar dari keraton, mulai dari uang tunai, emas, pusaka, naskah kuno, dokumen penting, hingga koleksi perpustakaan yang menyimpan catatan sejarah Jawa.
Akibat penjarahan tersebut, operasional Kesultanan Yogyakarta sempat terganggu karena dana perbendaharaan ludes tak tersisa. Bagi kalangan bangsawan Jawa, peristiwa itu menjadi pukulan yang sangat besar. Untuk pertama dan terakhir kalinya dalam sejarah, Keraton Yogyakarta berhasil direbut melalui serangan langsung pasukan pemerintah Eropa.
Lebih dari dua abad kemudian, jejak penjarahan itu masih dapat ditemukan. Sejumlah manuskrip dan koleksi yang berasal dari Keraton Yogyakarta kini tersimpan di berbagai lembaga di Inggris, termasuk British Library.
(mfa) Addsource on Google